Pentingnya Penguatan Literasi Bagi Para Penghulu di kabupaten Jember

KBRN - Jember, berdasarkan instruksi kementerian agama terdapat 7 program prioritas kebijakan diantaranya moderasi beragama, transformasi digital dan revitalisasi KUA. Untuk itu Kemenag Jember mengambil langkah konkrit dengan upaya merubah mindsite masyarakat bahwa KUA/penghulu tidak lagi sebagai kantor yang hanya sebagai pencatatan pernikahan saja.

Selain itu untuk menjawab tuntutan masyarakat di era literasi kantor KUA bersama penghulu diharapkan mampu berkiprah dan berkontribusi nyata di bidang pemberdayaan ummat khususnya di bidang ekonomi kerakyatan.

"Kantor KUA bersama penghulu disaat ini tidak boleh pasif tetapi harus mampu berkiprah lebih dan hadir di tengah tengah warga masyarakat diantaranya mampu melakukan pemetaan persoalan sosial maupun persoalan -persoalan masyarakat agar bisa dicarikan solusinya", ujarnya. demikian di sampaikan Kepala Kemenag Jember H. Muhammad S.sos MPdi pada acara raker cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Jember dengan tema penguatan literasi penghulu sekabupen Jember menuju revitalisasi KUA (Jumat, 18/6/2021).          H. Muhammad mengatakan penguatan literasi bagi penghulu menuju revitalisasi KUA akan berdampak positif secara psikologis bagi insan Kemenag didalam menjalankan tugasnya guna memberikan optimalisasi layanan kepada warga masyarakat yang kaya akan inovatif. Sehingga tidak lagi terkesan kua/penghulu sebagai kantor pencatatan nikah dan berdoa untuk mempelai pengantin melainkan harus mampu berbuat lebih dengan terobosan pengembangan-pengembangan ekonomi kerakyatan yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung. "Dari 31 KUA di jember diwajibkan untuk membuat langkah dengan membentuk kampung binaan seperti kampung muamalah, maslahah, tilawah, zakat, kampung wakaf dan kampung mother school. Dimana semua terobosan ini sangatlah membantu untuk mencerdaskan masyarakat disegala bidang. Dari kampung kampung binaan ini nantinya sebagai wadah guna menampung segala kepentingan dan kemajuan ummat. Di tahun ini baru 17 KUA yg sdh membentuk dan di targetkan akhir tahun2021 seluruh KUA di 31 Kecamatan harus tuntas. Bilamana sebagai kepala KUA tidak mampu mewujudkan semua program kerakyatan ini harus gantle mundur dari jabatannya", tegasnya.         Dibagian yang sama juga disampaikan kepala KUA Sumbersari H. Isnan mengatakan bahwa para penghulu di era sekarang di tuntut harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat secara benar dan bijak, mampu menjadi panutan/contoh, berproduktifitas tinggi dan memiliki kemanfaatan dan arti bagi warga masyarakat dimana mereka bertempat tinggal. Selain itu sebagai penghulu senantiasa harus mampu mengasah kompetensi diri agar memiliki kepekaan apa yang menjadi tuntutan masyarakat guna bekerja secara profesional yang dilandasi karena ibadah. "Dari hasil raker APRI ini nantinya akan membangun kinerja baru sekaligus akan memunculkan rekomendasi penting. Diantaranya menahan laju perkawinan usia dini dimasyarakat jember dimana usia perkawinan telah di atur sesuai perundang-undangan yakni usia diatas 19 tahun. Hal ini memiliki korelasi penting dengan persoalan Stunting di suatu wilayah manakala tingkat perkawinan usia dini tinggi bisa dipastikan akan terjadi tingginya kasus kesehatan khususnya Stunting dan tingginya AKI/AKB. Dari hal ini bahwa peran penghulu sangatlah penting guna memberikan edukasi secara masive di tengah-tengah warga masyarakat", imbuh Isnan (Sanjoko Ade).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00