Kisah Ramadhan Ditengah Gunungan Sampah

KBRN,Jember : Pagi di bulan Ramadhan,  terik matahari pagi mulai terasa  menyengatkan kulit kepala dikala aroma bau tak sedap menyembur dari gunungan sampah dilokasi tempat pembuangan akhir TPA Pakusari di Desa Kertosari, Kecamataan Pakusari, Kabupaten Jember.

Pagi itu, hilir mudik truk pengangkut sampah  mulai berdatangan dari berbagai titik penjuru kabupaten jember, mengangkut tumpukan kantong plastik berisikan sampah rumah tangga untuk dibuang ke dalam area seluas 6 hektar dikawasan itu.

Sayup dari kejauhan tampak seorang perempuan paruh baya berjilbab, lengkap dengan sepatu boats serta sebuah gancu ditangann kananya, terlihat sibuk mengais serta memilah tumpukan sampah di dalam area tempat pembuangan akhir yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Jember. 

Aroma bau menyengat, kerumunan lalat yang datang disekeliling, seolah tak sedikitpun menghalanggi aktifitas perempuan paruh bayah itu untuk mengais botol dan plastik bekas dari tumpukan sampah. 

Seolah  telah terbiasa dengan kondisi di lingkungan sekitarnya, tak sedikitpun terlihat perasaan jijik dari raut wajah perempuan paruh baya bernama kumala, seorang pemulung barang bekas yang telah menjalani pekerjaan kotor itu selama 5 tahun terakhir.

Kumala hanya satu dari ratusan perempuan lainnya yang berpofesi sebagai pemulung di dalam area tpa pakusari sejak berpuluh tahun silam. Dirinya mengaku menjadi pemulung bukanlah cita-cita yang ia dambakan dan mimpikan sejak kecil.

Namun kenyataan hidup dan himpitan ekonomi setelah berumah tangga bersama pria yang menikahinya lima belas tahun lalu, membuatnya  harus rela menekuni pekerjaan itu demi menyambung dan mencukupi kebutuhan  hidup  4 orang anak dan saudaranya.

Penghasilan sang suami dari hasil berdagang barang elektronik bekas tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tanggannya, bermodal tekad serta harapan dapat menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia pun menekuni profesi sebagai pemulung barang bekas di tpa pakusari.

Terkadang muncul dalam benak Kumala, perasaan takut akan beragam penyakit yang dapat mengancam kondisi kesehatannya. Mengais rejeki di lingkungan kotor yang tidak pernah sedikitpun menjadi pilihan bagi banyak orang untuk menekuni pekerjaan itu. Namun perasaan takut itu, selalu ia kubur dalam-dalam demi mengais rupiah menyambung hidup nyawa-nyawa lain yang menopang di pundaknnya.

“Setiap hari saya mengais plastik dan botol-botol bekas dari sampah-sampah yang baru saja diturunkan dari truk-truk yang masuk membawa sampah, awalnya ada perasaan jijik dan selama satu minggu konsumsi obat agar tidak mual-mual dengan bau disini, selanjutnya sekarang sudah terbiasa dengan aroam sampah disini,” ujarnya kepada RRI disela aktifitas mengais Sampah di TPA Pakusari, Senin (19/4/2021).

Pagi hingga sore hari, setiap hari kumala bekerja mengumpulkan berang-barang bekas yang ia pungut dari sisa-sisa tumpukan sampah. Sedikit-demi sedikit barang bekas yang dikumpulkan, ia masukan kedalam sebuah karung besar yang ia selalu dibawanya. Barang-barang bekas itu selanjutnya ia jual kepada seorang pengepul langganannya.

Setiap hari Kumala mengaku hanya meraup penghasilan antara 30 sampai 40 ribu rupiah. Hasil sebanyak itu tentu tidak sebanding dengan resiko penyakit saat bergelut dengan tumpukan sampah.Kebutuhan menyambung hidup sehari-hari menjadi alasan kuat baginya  untuk mampu bertahan dan menekuni pekerjaan sebagai pemulung ditumpukan sampah dengan penuh ungkapan rasa syukur.

“Apapun yang saya jalani untuk hidup, selalu saya syukuri meski terkadang banyak yang memandang pekerjaan yang saya lakukan sebelah mata, buat saya yang penting rezki yang saya dapat halal,” ungkapnya.

Terik panas matahari, mengandalkan teduhan gubuk liar yang berjejer di sepanjang area gunungan sampah, menjadi tempat singgah ratusan pemulung di tpa pakusari untuk sekedar melepas lelah dikala rasa lapar dan dahaga datang ditengah rutinitas serta kewajiban menunaikan puasa di bulan suci Ramadhan. 

Pekerjaan keras tak sedikitpun melunturkan niat Kumala dan teman-temannya tetap menjalankan kewajiban rukun islam sebagai seorang muslim.

Tak hanya Kumala, kerasnya jalan kehidupan para pemulung di tpa pakusari juga dialami Kholifah. Perempuan yang telah 20 tahun menyambung hidup dari hasil mengais sampah mengaku menekuni pekerjaan tersebut untuk menambah penghasilan sang suami yang hanya sebagai buruh tani.

Setiap hari Kholifah mengaku memperoleh penghasilan antara 20 sampai 30 ribu rupiah dari menjual barang-barang bekas dari mengais sampah. Penghasilan yang tidak seberapa tersebut selalu ia syukuri dan berharap hanya ada keberkahaan untuk nafkah bagi keluarga.

“Penghasilan 20 ribu sehari untuk beli beras dimakan bersama bersama keluarga, memang tidak cukup karena dirumah anak saya ada 2 dan cucu saya 5 orang, tapi saya tetap mensyukuri saja hasil jerih payah saya untuk membantu meringankan suami yang hanya buruh tani,” kata Kholifah.

Keberadaan para pemulung di TPA Pakusari, banyak berperan mermbantu menguranggi beban pemasukan sampah rumah tangga di tempat pembuangan sampah terbesar di kabupaten jember itu. Sedikitnya 160 Ton sampah masuk ke kawasan TPA setiap harinnya.

Sampah-sampah tersebut dihasilkan dari sampah rumah tangga yang datang dari berbagai  Kabupaten Jember.

Pengawas Kegiataan TPA Kabupaten Jember Masbut mengungkapkan keberadaan para pemulung di tpa pakusari merupakan mitra kerja yang selama ini sangat berperan mengurangi volume sampah sekaligus memperpanjang umur TPA.

“Ada sekitar 167 pemulung yang setiap hari mengais rezeki di TPA Pakusari, semoga saja kedepan ada perhatiaan lebih dari Pemerintah untuk pemulung disini, selama ini kita bantu hanya untuk membagikan sembako dan makanan sehat, pengobatan gratis yang diberikan dari pihak ke tiga saja” jelasnya.

Bagaikan kaum marjinal terabaikan dari gempita kehidupan masyarakat luar, keberadaaan para pemulung di kawasan itu seakan luput dari perhatiaan banyak pihak. Kepeduliaan dan peran pemerintah  dalam penyediaan layanan kesehatan dan keselamatan kerja bagi para pemulung di kawasan TPA menjadi hal penting yang diharapkan mampu memberikan perlindungan bagi setiap warga negara terutama bagi mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan.  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00