Ipuk Fiestiandani Janjikan Pengembangan BUMDEs Gerakkan Ekonomi Desa

KBRN, Banyuwangi : Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi bagian terpenting dalam pengembangan perekonomian Banyuwangi ke depan. Karena Bumdes akan didorong sebagai bagian dari penggerak ekonomi desa, yang harus mampu memainkan peran khususnya dimasa pandemi Covid-19 seperti ini.

Calon Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, mengatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini BUMDes sebagai bagian dari penggerak ekonomi desa, harus mampu memainkan peran.

"BUMDes kita dukung bersama agar bisa membuka lapangan kerja baru untuk warga desa, memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat, menumbuhkan semangat berwirausaha di kalangan warga, memberdayakan kelompok marjinal di desanya, dan mengurangi kemiskinan," kata Ipuk, dalam diskusi “Peran Bumdes dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa” yang digelar oleh Laskar Merah Putih Banyuwangi, Selasa (20/10/2020).

Ipuk menjelaskan untuk mengembangkan BUMDes, yang dibutuhkan adalah Peta Potensi Desa (potensi SDM dan SDA), di mana setiap BUMDes harus memiliki potensi desa (potensi SDM dan SDA) untuk dioptimalkan melalui usaha yang sehat dan berwawasan lingkungan.

“BUMDes juga perlu memperkuat penguasaan teknologi tepat guna dalam proses produksi barang dan jasanya. Teknologi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah, tentu dengan tidak mengurangi tenaga kerja yang telah ada,” jelasnya.

Ipuk menambahkan, ke depan, kolaborasi semua pihak dibutuhkan untuk memperkuat BUMDes. Dia mengapresiasi sejumlah contoh, seperti pendampingan BUMDes Muncar dalam pengelolaan sampah laut, STOP (Stopping The Tap On Ocean Plastic) yang bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO) dunia dari pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria, Systemiq.

Sejak dijalankan 1,5 tahun lalu, kini pengelolaan sampah yang dilakukan oleh BUMDes Muncar telah menjangkau 8.900 rumah tangga. Bumdes tersebut bahkan sudah berhasil menjual sampah yang telah diolah ke beberapa daerah seperti Surabaya dan Pasuruan. Per bulan Bumdes bisa mendapatkan hasil Rp 25 juta dari pengelolaan sampah ini.

Ipuk mengatakan, ke depan BUMDes harus lebih diperkuat, dengan fasilitasi permodalan, memperkuat jembatan permodalan lembaga pembiayaan (perbankan) untuk memodali BUMDes agar bisa lebih ekspansif mengembangkan usaha.

“Kami juga akan memfasilitasi Kolaborasi BUMDes dengan BUMN agar BUMDes bisa masuk dalam mata rantai bisnis BUMN, misalnya BUMDes bisa memasok kebutuhan batik, souvenir, makanan rapat, dan sebagainya ke BUMN yang beroperasi di Banyuwangi. Termasuk BUMDes yang mengelola destinasi wisata bisa menjadi lokasi gathering BUMN,” tuturnya.

Ipuk juga menjanjikan stimulan peningkatan produktivitas dengan memberikan bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing BUMDes, baik untuk kelengkapan alat produksi, peningkatan pelayanan BUMDes, dan sebagainya.

Ipuk menjelaskan banyak potensi-potensi  dan UMKM di desa-desa Banyuwangi yang bisa berkolaborasi dengan BUMDes.

"Seperti di Desa Dadapan ada komunitas masyarakat yang mengolah sampah plastik menjadi paving dan pupuk organik. Itu bisa berkolaboradi dengan BUMDes," tambah Ipuk.

Ali Mansyur warga Dadapan mengatakan, masyarakat di desanya secara mandiri membuat paving dan pupuk organik dari sampak plastik. “Ke depan kami berharap agar pemerintah bisa terus mengoptimalkan BUMDes,” ujarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00