Tokoh Masyarakat Lumajang Menyesalkan Adanya Korban Meninggal Dunia di Lokasi Tambang

KBRN Lumajang : Dua anak meninggal dunia dilokasi bekas galian tambang di Dusun Kebonjati Desa Kloposawit Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Korban meninggal dunia diduga akibat tenggelam saat mandi pada kawasan bekas galian tambang karena tidak bisa berenang karena kondisinya dalam.

Kapolsek Candipuro Lumajang AKP Sajito SH MH ketika dikonfirmasi RRI membenarkan kejadian tenggelamnya dua anak SD di area tambang dan polisi saat ini juga terus mendalami persoalan  mengenai perijinan tambang dan mengenai papan peringatan larangan mandi. 

Dalam kronologis kejadian yakni pada hari minggu tanggal 14 Agustus pukul 16.30 WIB petugas mendapatkan laporan dari masyarakat jika ada anak tenggelam di Dusun Kebonjati Desa Kloposawit Kecamatan Candipuro Lumajang tepatnya di penambangan sungai Mujur. 

"Pada awalnya ada empat anak mandi dan diduga di lahan pertambangan milik Siswanto warga Tumpeng Lumajang,"Jelasnya Senin (15/08/2022). 

Kapolsek juga menerangkan karena pada saat itu hari libur sehingga dilokasi penambangan tidak ada orang penambang yang melakukan aktifitas dan tidak bisa melarang ketika ada anak mandi. 

Polisi sejauh ini juga telah meminta keterangan dari dua orang anak teman korban meninggal dunia yang selamat .

Keterangan sementara dua anak korban meninggal dunia akibat tenggelam diduga tidak bisa berenang Masing masing kelas enam Madrasah Ibtidaiyah (MI)  Salafiah Tumpeng. 

Keluarga korban tidak mau anaknya untuk dilakukan otopsi sehingga korban langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) .  

Hasil data yang telah dikumpulkan sementara polisi sejauh ini aktifitas penambangan masih aktif karena perijinan sampai tahun 2023, selain itu sudah ada peringatan papan nama himbauan dilarang mandi diarea tambang namun demikian masih perlu dilakukan konfirmasi ulang.

"Keluarga almarhum saat ini masih berduka dan masih koordinasi selain itu keluarga korban dan pemilik tambang masih bertetangga,"Katanya

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai kedalaman penambangan dilokasi dua anak meninggal dunia, diduga penambangan tersebut berkedalaman mencapai 3 sampai 4 meter dan masih didalami mengenai persoalan tersebut menyalahi aturan atau tidak.  

Kapolsek Candipuro Lumajang juga menghimbau agar kejadian ini menjadikan pembelejaran orang tua yang memiliki anak kecil agar mengawasi anaknya dengan baik dan jika akan bermain hendaknya meminta ijin orang tua terlebih dahulu. 

Selain itu bagi penambang yang memiliki ijin tambang di Lumajang dihimbau untuk memasang rambu-rambu peringatan bahaya dilokasi tambang serta adanya tulisan larangan mandi dilokasi tambang serta adanya tulisan keterangan kedalaman agar tidak ada korban lagi.   Sementara itu Ketua Aliansi Pecinta Lingkungan (Ampel Lumajang) Arsat Subekti ketika dikonfirmasi menyesalkan adanya korban tenggelam sering terjadi dan dapat dipastikan hampir setiap tahun selalu adanya korban meninggal diduga akibat tenggelem di penambangan. 

Arsat juga menginventarisir kejadian masyarakat korban meninggal dunia akibat tenggelam dipenambangan terjadi yakni pada bulan 11 tahun 2020 adanya korban meninggal akibat tenggelam yakni bulan februari tahun 2020 di desa Jatisari Tempeh, Ada tahun 26 nopember di desa Bagu, 11 februari tahun 2022 di Kaliwungu,  dan kenudian tanggal 14 Agustus tahun 2022.

Melihat sering terjadinya kejadian korban meninggal dunia akibat tenggelam dipenambangan Kapolres Lumajang harus tegas tindak penambang yang nakal tidak mematuhi aturan dan terus peringatkan masyarakat agar tidak lalai dalam menjaga anaknya.

"Kapolres harus tegas tindak penambang nakal dan harus ada tanda bahaya dilokasi tambang serta harus ada penjagaan dilokasi tambang sehingga tidak ada korban lagi,"Pungkasnya. (ka/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar