Sengketa Lahan Dari Keluarga Orang Terkaya di Munder Lumajang Belum Tuntas

KBRN Lumajang : Kepala Desa munder Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang Jawa Timur berharap agar kasus sengketa lahan antara Risma dan Yaseno dengan luasan lahan 35 hektar segera tuntas dengan damai. 

Menurut Kepala Desa Munder Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang Samsul Hadi, menjelaskan kasus sengketa lahan antara Yaseno dengan Risma sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu hingga saat ini belum juga tuntas.

Untuk itu diharapkan kasus tersebut sesegara mungkin tuntas dengan damai karena diantara mereka adalah bersaudara yamg notabonenya adalah keluarga Ilyas Warga Desa Munder Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang orang terkaya di Desa Munder.

"Agar kasus sengketa lahan antara Yaseno dengan Risma segera selesai dengan damai karena pada dasarnya mereka adalah saling bersaudara,"Katanya Sabtu (16/10/2021)

Dalam kasus sengketa lahan dengan jumlah lokasi di Desa Munder sebanyak 14 lokasi dan saat ini dalam masa sidang Peninjauan Lokasi (PS) di Desa Munder Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang dengan total lokasi yang disengketakan sebanyak 80 lokasi dan sebanyak 35 hektare lahan. 

Pada masa sidang Peninjauan Setempat (PS) di Desa Munder Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang tersebut hadir semua masing masing kuasa hukum Penggugat dan Tergugat .

Yakni Hadir dalam sidang tersebut kuasa hukum dari kedua belah pihak, dari kuasa hukum Risma sebagai (penggugat) adalah Abdul Rohim, S.H., MSi, dan dari kuasa hukum Yaseno (tergugat) Mahmud, S.H

Dalam sidang Peninjauan Setempat (PS) yang dilakukan pengadilan agama Lumajang atas penggugat dan tergugat, hingga saat ini sudah sampai pada sidang kelima. 

Menurut Abdul Rohim, kuasa hukum dari Risma (penggugat), ketika dikonfirmasi RRI di Balai Desa Munder Kecamatan Yosowilangun Lumajang menyampaikan, bahwasidang yang dilakukan oleh pengadilan agama tersebut terkait masalah warisan atas harta peninggalan dari almarhum Ilyas yang tersebar dibeberapa wilayah dan banyak dikuasai oleh keluarga yang bukan ahli waris, dan juga orang lain yang tidak diketahui proses perolehanya.  

"Masalah warisan atas harta peninggalan dari almarhum Ilyas yang tersebar dibeberapa wilayah dan banyak dikuasai oleh keluarga yang bukan ahli waris, kita juga tidak mengetahui bagaimana proses perolehan nya," ungkapnya. 

Ketika dikonfirmasi lebih jauh siapa yang dimaksud bukan ahli waris, Rohim mengatakan, yakni atas nama Yaseno yang berstatus sebagai keponakan dari ilyas, dan ibunya masih ada sehingga jika berbicara soal kewarisan, yang bersangkutan dinilai masih belum berhak, akan tetapi banyak menguasai obyek atas dasar kuasa pengelolaan, sebelumnya ketika almarhum masih ada.

Lebih jauh Rohim mengatakan, bahwa dirinya menjadi kuasa hukum dari pihak penggugat yang terdiri dari enam orang. Yaitu dari penggugat satu, adalah sebagai anak, kedua sebagai saudara kandung pak Ilyas, dan penggugat 3 dan 4 serta seterusnya adalah sebagai keponakan.

Saat ditanya mengapa kasus tersebut terkesan lambat dan tidak kunjung selesai serta apa yang menjadi pokok persoalan, Rohim mengatakan karena kasus ini merupakan kasus warisan yang jumlah obyek nya cukup banyak, sehingga proses sidang pun harus menyesuaikan dengan kemampuan pengadilan untuk melakukan proses sidang.

Yang jelas, menurut Rohim yang namanya ahli waris mempunyai hak atas harta-harta yang nyata nyata perolehan yang dimiliki oleh Ilyas almarhum. 

"Kita tidak berbicara menang kalah, karena dalam kewarisan itu terkait dengan keluarga, sehingga kita hanya bisa berbicara klien,"Katanya

Ketika dikonfirmasi sejauh mana optimisme dalam memenangkan kasus tersebut pihaknya mengatakan klienya berhak atas ahli waris itu.

"Kami punya hak untuk mendapatkan bagiannya untuk mendapatkan bagiannya sebagai ahli waris dari almarhum", terangnya.

Sementara itu di tempat yang sama, kuasa hukum dari Yaseno Yakni Mahmud yang berkapasitas sebagai (Tergugat), saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa untuk sidang Peninjauan Setempat (PS) tersebut untuk membuktikan sendiri turun ke area sengketa, melihat sendiri bukunya, dan ke lokasi tanahnya kemudian dicocokan benar apakah tidak gugatan tersebut. 

"Kalau gugatan itu ternyata tidak sama dengan Lokasi ya, lokasi ya banyak, ada 80 lokasi lebih, tiap Minggu terus begini, dan di desa munder ini saja ada sekitar 14 lokasi tanah, saya disini sebagai salah satu dari kuasa hukum tergugat," Katanya

Saat ini kedua belah pihak yang sedang bersengketa bersama-sama datang ke lokasi lahan untuk memastikan sesuai atau tidak antara gugatan jika tidak sama tentu saja tidak dapat diterima.

Mahmud menganalogikan seandainya pihaknya menggugat alun alun, untuk batas Utara sampai Pemda itu harus sama semua, luasnya juga. KA

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00