Politeknik Negeri Jember Kembangkan Smart Hybrid Biogas Dengan Kombinasi Solar Cell

KBRN, Jember: Desa Kemuning Lor, kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember adalah salah satu wilayah Kabupaten Jember yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan peternak. Selama ini pengelolaan limbah kotoran hanya ditumpuk, dibiarkan di pekarangan rumah, atau dialirkan ke sungai sehingga terlihat kotor, menjadi sumber penyakit, dan menyebarkan bau tidak sedap. Urine sapi dibuang ke pekarangan atau selokan rumah. Kemandirian mitra dalam pembuatan pakan ternak belum didukung kemandirian dalam penggunaan pupuk organik yang dapat diolah dari limbah kotoran dan urine sapi perah yang berlimpah. Karena tingkatan ekonomi masyarakat mitra rata-rata menengah ke bawah, kebutuhan elpiji atau kayu bakar juga membebani pengeluaran perbulannya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, melalui kegiatan Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat (PPTTG) yang didukung oleh Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Usaha Kecil Menengah(UKM) Indonesia Bangkit dan Penetapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat Republik Indonesia telah dibuat reaktor biogas dengan sistem smart hybrid menggunakan kombinasi sistem solar cell dan digester dua tahap.

Dengan diwakili oleh mitra kelompok tani ternak sapi perah kemuning lor dan kelompok tani ternak sapi perah susu segar kita, Politeknik Negeri jember menerapkan teknologi tepat guna pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi perah menjadi biogas, pupuk organik cair, pupuk kompos dan disinfektan organik. Teknologi tepat guna yang diterapkan di desa Kemuning Lor adalah reaktor biogas dengan sistem smart hybrid menggunakan kombinasi sistem solar cell dan digester dua tahap. Teknologi smart hybrid ini berfungsi untuk memonitoring dan mengontrol suhu dan PH ideal (PH=7) secara otomatis untuk menghasilkan lingkungan ideal untuk pembentukan asam asetat sebagai tahap awal pembentukan biogas. Sedangkan untuk mencapai pH=7 digunakan digester dua tahap yaitu digester asetogenesis dan metanogenesis. 

Dalam tahap asetogenesis (digester pertama dari sistem digester dua tahap), terjadi pembentukan asam asetat, produk ini kemudian diubah oleh bakteri acetogenic ke prekursor biogas (asam asetat, hidrogen dan karbon dioksida). Sedangkan tahap metanogenesis (digester tahap ke dua) terjadi pembentukan gas metana, merupakan perubahan senyawa-senyawa (asam asetat, hidrogen dan karbon dioksida) menjadi gas metana yang dilakukan oleh bakteri methanogenik. ”Karena Desa Kemuning Lor terletak di dataran tinggi yang memiliki suhu ambient bervariasi di bawah 17-25⁰C, hal ini akan memperlambat proses pembentukan biogas. Untuk mempertahankan suhu konstan dalam reaktor dilakukan kombinasi menggunakan teknik pemanasan solar cell. Yang mana teknik ini memanfaatkan potensi penuh pencahayaan sinar matahari” tutur Dr. Ir. Rosa Tri Hertamawati,M.Si, selasa (17/11/2020).

Sementara itu ketua kelompok peternak sapi perah Bapak Sukadi, menyatakan senang dengan adanya kegiatan ini. ”kami sangat terbantu sekali dengan adanya program ini, khususnya saya dapat menghemat pengeluaran bulanan yang biasanya harus membeli gas elpiji dan kami juga dapat memanfaatkan pupuk organik dan pupuk kompos dari slurry biogas untuk tanaman pertanian dan perkebunan ” ujarnya.

Melalui kegiatan PPTTG ini secara bertahap telah memberikan beberapa manfaat yang secara tidak langsung mengurangi pengeluaran bulanan kelompok tani ternak Desa Kemuning Lor, Jember dan juga secara bertahap merubah kebiasaan masyarakat Desa Kemuning Lor, Jember yang semula membuang limbah ternak di pekarangan rumah, menimbun limbah kotoran ternak, atau membuang limbah di saluran air dan sungai menjadi masyarakat yang lebih mencintai kelestarian lingkungan dan kesehatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00