DPRD Bondowoso Siap Dukung Anggaran Geolistrik Dan Eskavasi Desa Alas Sumur

Penemuan Benda Kuno Di Desa Alas Sumur

KBRN, Bondowoso: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bondowoso siap mendukung pemerintah setempat untuk melakukan geolistrik dan eskavasi awal di Desa Alas Sumur, Kecamatan Pujer.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajat mengatakan, anggaran geolistrik dan eskavasi awal sekitar Rp.150 juta. Sehingga, setelah dilakukan geolistrik dan eskavasi maka akan bisa diprediksi bentuk dari struktur-struktur lain dari penemuan benda-benda kuno di desa tersebut.

" Karena yang baru ketemu adalah pagarnya. Logika kita orang awam, ketika ada pagar berarti ada sesuatu yang dilindungi," katanya, Kamis (24/9/2020).

Jadi, diharapkan ada kajian awal dan rencana pemerintah. Jika terdapat bangunan yang disakralkan seperti candi dan sebagainya, bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat saat dikelola dengan serius.

" Dengan kesadaran masyarakat dan pendekatan yang baik dari stakeholder. Insya Allah masyarakat masyarakat sadar apapun yang akam dilaksanakan oleh pemerintah terkait dengan kelestarian dan cagar budaya " lanjutnya.

Lebih jauh politisi PDI Perjuangan tersebut melanjutkan, salah satu unsur dari kebedaraan Geopark National Ijen adalah kebudayaan. Sehingga, penemuan benda-benda kuno di Desa Alas Sumur merupakan sejarah perjalanan bangsa.

" Kalau tidak masuk disitu (Geopark) sangat disayangkan," tutupnya.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Disdikbud Kabupaten Bondowoso Hery Kusdarijanto mengatakan, untuk geolistrik sendiri pihaknya telah sepakat bersama BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya). Karena menurutnya, hal itu menjadi poin penting untuk mengetahui keberadaan tanah, struktur batu bata yang ada.

“Eskavasi juga merupakan poin penting, bagaimana bila nanti mempunyai nilai sejarah tinggi, tentu akan kita kembangkan,” katanya.

Akan tetapi, terang Hery, apabila hal itu hanya sekedar batu bata atau pondasi biasa, maka untuk sementara dimungkinkan akan ditutup. Namun dengan catatan, apabila suatu saat ada poin penting lagi. Maka pihaknya akan membuka kembali.

“Yang penting data itu tetap ada,” paparnya.

Heri mengaku, bahwa untuk geolistrik yang paling adalah dengan menggunakan ITS. Adapun anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 75 juta.

“Kita ingin yang terbaiklah. Kita anggarkan Rp 75 dan eskavasi Rp 75. Kita belum tahu pasti, sepertinya dianggaran 2021,” katanya.

Kemudian apabila cagar budaya ini mempunyai nilai yang sangat penting, maka pihaknya akan membangun secara bertahap dan akan mengajukan bantuan kepada Pemerintah Pusat. Namun mengingat, kondisi sekitar yang padat akan pemukiman warga.

“Kemarin juga disinggung sama BPCB. Coba lihat dulu nilai pentingnya, apabila tidak terlalu penting kita tutup kembali atau tetap dibuat sumur, tapi harus ada catatan bahwa di daerah sini ada struktur batu bata,” pungkasnya. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00