Politeknik Negeri Jember Kembangkan Low Cost Biogas Dari Kotoran Ternak

KBRN, Jember : Salah satu wilayah yang menjadi sentra Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak di sektor peternakan sapi perah di wilayah Jember adalah Desa Kemuning Lor yang terletak di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, dimana masyarakatnya banyak berprofesi sebagai petani dan peternak sapi perah. Kelompok tani di desa kemuning lor merasa senang, pasalnya di desa Kemuning Lor ini hadir teknologi low cost biogas yang dikembangklan oleh tim Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jember.

Selama ini kotoron dan urine  sapi di buang begitu saja oleh para peternak  tidak dimanfaatkan, bahkan kotoran tersebut  justru menimbulkan bau tak sedap dan mendatangkan penyakit. Melihat kondisi ini Politeknik Negeri Jember  mengembangkan teknologi low cost biogas untuk mengolah kotoran sapi perah di Desa Kemuning Lor yang terletak di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

Teknologi low cost biogas ini menggunakan reaktor balon yang terbuat dari bahan plastik  karena lebih efisien dalam penanganan dan perubahan tempat biogas serta berbiaya murah dibandingkan jenis reaktor yang lain seperti reaktor kubah tetap (fixed-dome reactor) atau reaktor terapung (floating reactor).

Unit biogas yang dibuat ini digunakan untuk mengolah kotoran sapi perah, yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, bahan bakar produksi berbagai produk olahan susu dan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia bagi pertanian buah naga dan rumput gajah sebagai bahan baku pakan ternak.

Ketua Pelaksana  Program Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jember. Nanik Anita Mukhlisoh, S.ST., M.T.,  menyatakan, ada dua kelompok mitra yang merupakan kelompok ternak sapi perah di Desa Kemuning Lor yang terletak di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

“Mitra menghasilkan limbah kotoran sapi perah 300 kg perharinya dimana selama ini pengelolaan limbah kotoran hanya ditumpuk dan dibiarkan di pekarangan rumah sehingga terlihat kotor, menjadi sumber penyakit, dan menyebarkan bau tidak sedap. Urine sapi hanya dibuang ke pekarangan atau selokan rumah.” Kata Nanik, selasa (22/9/2020). 

Selain itu Menurut Nanik, kemandirian mitra dalam pembuatan pakan ternak belum didukung kemandirian dalam penggunaan pupuk organik yang dapat diolah dari limbah kotoran dan urine sapi perah yang berlimpah.

“Tingkatan ekonomi masyarakat mitra rata-rata menengah ke bawah, sehingga kebutuhan elpiji membebani pengeluaran perbulannya. Dengan membangun instalasi biogas berbiaya murah ini, 800 kg limbah kotoran sapi per-harinya dapat menghasilkan 12 kg gas per-harinya dan pupuk organik cair kurang lebih 40 liter.” Tambahnya.

Sementara itu ketua kelompok peternak sapi perah Bapak Sukadi, menyatakan senang dengan adanya proyek  pengolohan limbah kotaran sapi menjadi biogas.

“Saya senang pak, karena dengan adanya proyek ini lingkungan menjadi lebih bersih, tidak berbau dan  menghasilkan biogas yang dapat dimanfatkan untuk rumah tangga dan untuk produksi susu” ujarnya.

“saya berharap ini  akan berkembang ke daerah lain yang membutuhkan” harapnya

Saat ini telah dibangun dua unit reaktor balon. Reaktor ini terdiri dari satu bagian yang berfungsi sebagai digester sekaligus penyimpan gas yang masing-masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat. Material organik terletak di bagian bawah karena memiliki berat yang lebih besar dibandingkan dengan gas yang akan mengisi pada rongga atas.

Peresmian dan beroperasinya reaktor ini diharapkan ketua dan tim Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dapat memacu penerapan skema yang sama di kelompok peternak lainnya, tentunya menyesuaikan dengan kondisi setempat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00