Sekolah Keluarkan Siswa Difabel, Disdikbud Bondowoso : Hanya Salah Paham

Plt. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, Haeriyah Yuliati

KBRN, Bondowoso: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso merespon kejadian sekolah SMPN 2 Tamanan yang diberitakan mengeluarkan siswa berkebutuhan khusus atau difabel.

Plt. Disdikbud Kabupaten Bondowoso, Haeriyah Yuliati menjelaskan bahwa tidak benar jika pihak sekolah mengeluarkan M. Hendra Afrianto. Menurutnya, kejadian tersebut hanya kesalahpahaman antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. Pihak sekolah, lanjutnya, sebenarnya mengharapkan peran orang tua untuk bersama-sama membantu sekolah dalam proses belajarnya.

" Ananda Hendra ini kan difabel sehingga sulit untuk menulis sendiri. Sehingga mau tidak mau harus ada pendampingan baik dari sekolah maupun orang tua," jelasnya saat dijumpai wartawan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, Kamis (6/8/2020).

Meski Kabupaten Bondowoso menerapkan pendidikan inklusi, namun hingga kini belum terdapat guru pendamping khusus siswa difabel. Hal ini menjadi salah satu kendala lembaga sekolah memberikan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. 

" Belum ada. Sementara ini ditangani oleh guru umum. Makanya sekolah butuh kerja sama orang tua," paparnya. 

Padahal, Peraturan Bupati (Perbup) Bondowoso, telah menyatakan siap menerapkan Pendidikan Inklusi. Dimana ada beberapa sekolah yang memang diprogamkan untuk pendidikan inklusi termasuk SMP 2 Tamanan. 

" Sehingga pihak sekolah menerima anak berkebutuhan khusus untuk masuk disana," lanjutnya.

Untuk itu, dia berharap Kabupaten Bondowoso bisa menyediakan tenaga pendidik khusus bagi anak difabel seperti layaknya di Sekolah Luar Biasa (SLB). Paling tidak, di setiap sekolah inklusi terdapat satu guru yang mempunyai kompetensi untuk itu. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00