KHR Azaim: Kepribadian yang Baik Adalah Tujuan Utama Proses Pendidikan

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi

KBRN, Situbondo : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, KHR Azaim Ibrahimy menyatakan, pendidikan pesantren sangat memperhatikan aspek pendidikan moral atau pembentukan kepribadian atau akhlakul karimah.

Menurut Cucu Pahlawan Nasional KHR As'ad ini, sesungguhnya, pendidikan karakter dan kepribadian yang baik inilah, yang menjadi titik tujuan dari sebuah proses pendidikan. 

"Kecerdasan intelektual akan menjadi tidak ada artinya sama sekali jika tidak didukung dengan moral," ujarnya di hadapan ratusan wisudawan Universitas Ibrahimy (Unib) yang dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Prof Dr Ma'ruf Amin, Kamis (21/10/2021).

Ulama muda kharismatik ini mengemukakan, Unib sebagai pelaksana pendidikan tinggi di bawah binaan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, yang berdiri sejak 1968, telah menyelengarakan Fakultas Keagamaan, meliputi Syariah dan Ekonomi Islam, Tarbiyah dan Dakwah. 

"Unib juga membuka Fakultas Science dan Teknologi, Ilmu Sosial dan Humaniora dan Fakultas Ilmu Kesehatan, ditambah dengan Program Pascasarjana," imbuhnya.

Kata Kiai Azaim, lulusan tahun ini untuk semua jenjang mencapai 967 orang. Jumlah ini merupakan bukti tingginya animo masyarakat terhadap Universitas Ibrahimy, untuk menitipkan putra dan putrinya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

"Tingginya animo masyarakat untuk melanjutkan ke UNIB ini, merupakan amanah besar yang harus diemban untuk mempersiapakn generasi penerus perjuangan bangsa di masa yang akan datang. Tentu ini harus diimbangi dengan ketersediaan sarana prasarana perkuliahan yang reprsentatif," bebernya.

Lebih jauh Kiai Azaim mengupas terkait fungsi pesantren yang bukan hanya sebagai pusat pengkaderan juru dakwah. Namun lebih dari itu, pesantren berfungsi sebagai lembaga pengembangan tradisi keislaman dan sebagai institusi yang berperan melakukan transformasi sosial bagi masyarakat yang ada di lingkungannya. 

"Pesantren mampu menunjukkan perannya secara nyata dalam proses pembentukan dan pembangunan bangsa, baik memperjuangkan, mempertahankan maupun mengisi kemerdekaan," ungkapnya.

Bahkan, banyak momentum bersejarah yang dilahirkan di pesantren, salah satunya Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 yang digelar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo pada 1984 silam.

"Muktamar NU ini melahirkan ijtihad politik kaum Nahdliyyin, sebagai putusan yang merupakan simbol akhir perdebatan panjang tentang Pancasila sebagai ideologi negara, tentang wawasan kebangsaan dan posisi Islam dalam negara bangsa," katanya.

Hal tersebut menunjukkan eksistensi pesantren meskipun berpegang teguh kepada kekayaan warisan intelektual klasik tetapi senantiasa bersikap kritis dalam merespon setiap perkembangan zaman dan kenyataan sosial yang terjadi tanpa henti. 

"Pemikirannya sangat dinamis dan kontekstual, mengikuti perkembangan zaman. Maka, tidak berlebihan kiranya bahwa Hari Santri Nasional yang akan dilaksanakan besok, sebagai wujud pengakuan negara dan bangsa Indonesia terhadap kontribusi nyata pondok pesantren dan masyarakat santri dalam pembentukan awal Negara Indonesia," ujar Cucu Pahlawan Nasional KHR As'ad itu.

"Pesantren akan tetap mengawal arah kedaulatan bangsa tanpa batas waktu, selama NKRI masih tetap tegak berdiri dalam kancah peradaban masyarakat dunia," imbuhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00