Siswa Putus Sekolah di Bondowoso Pilih Lanjut ke Pondok Pesantren

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, Sugiono Eksantoso

KBRN, Bondowoso : Meski pembelajaran tatap muka di Bondowoso mulai diterapkan sejak beberapa waktu lalu, namun pandemi Covid-19 menyebabkan sejumlah siswa gagal melanjutkan pendidikannya alias putus sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso, Sugiono Eksantoso mengatakan bahwa selama hampir dua tahun pandemi, ada beberapa siswa putus sekolah karena dipondokkan oleh orang tuanya. 

Hal itu disebabkan kurangnya bimbingan orang tua selama pembelajaran daring di rumah. Namun sayangnya, ia tidak bisa menyebut total jumlah siswa putus sekolah tersebut.

" Kalau siswa SD, ya ada beberapa cuma saya belum bisa menghitung rinci. Karena tahu siswa itu di formal, itu kan nggak sekolah dua tahun sehingga mereka lebih baik dipondokkan," jelasnya, Jumat (17/09/2021).

Menurutnya, siswa putus sekolah terjadi rata-rata di pedesaan karena kurangnya pemahaman dan bimbingan orang tua selama pembelajaran daring.

" Rata-rata di pedesaan. Karena orang tua kan nggak bisa membimbing anaknya dengan baik ketika pembelajaran daring, " bebernya.

Untuk mengantisipasi naiknya angka putus sekolah, mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur area Bondowoso dan Situbondo itu menyebut akan menggalakkan Gerakan Kembali Ke Sekolah. Gerakan tersebut akan digalakkan melalui masing-masing kepala sekolah dan korwil agar angka putus sekolah dapat ditekan. 

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, DPPKB Bondowoso, Sumaryati mengaku hingga kini belum mendapatkan laporan anak putus sekolah akibat pandemi. Kalaupun ada, pihaknya pasti segera bergerak cepat agar anak tersebut tetap mendapatkan pendidikan.

" Sementara ini tidak ada laporan. Intinya, Insya Allah bisa teratasi," jelasnya singkat.

Namun begitu, pandemi Covid-19 menyebabkan 187 anak di Bondowoso kehilangan orang tua. Angka tersebut bisa jadi bertambah, sehingga pihaknya terus bergerak mendata dan memberikan pendampingan kepada anak yatim/piatu dengan berkoordinasi bersama Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan setempat.

" Si anak ini apakah sudah mendapatkan pelayanan apakah dari segi kesehatannya, pendidikannya, keamanannya," pungkasnya. (san/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00