Pasca PON XX Papua, Momen Kebangkitan Olahraga Paralayang Bondowoso Dimulai

Ketua FASI Bondowoso Sinung Sudrajat (kanan) Bersama Dengan Atlet Paralayang Bondowoso Wahyudi Widodo

KBRN, Bondowoso : Salah satu atlet paralayang asal Bondowoso, Wahyudi Widodo, berhasil meraih medali perak di PON Papua 2021.  itu mendorong Pengurus Kabupaten (Pengkab) Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Bondowoso untuk menjaga eksistensi olahraga udara tersebut.

Ketua FASI Bondowoso, Sinung Sudrajat menjabarkan bahwa pihaknya terus mempersiapkan diri. Beberapa rencana pembinaan atlet dan menggandeng pihak terkait untuk mendukung olahraga dirgantara ini terus dilakukan.

Bahkan, dengan adanya atletnya yang sudah berbicara banyak di level nasional, FASI Bondowoso berharap event paralayang dapat kembali digelar. 

“Semoga nantinya tetap bisa digelar di Bondowoso. Dan kami akan segera membuat rencananya, dengan bukti yang ada atlet kami meraih medali di PON Papua,” bebernya, Selasa (19/10/2021).

Sinung yang juga menjabat sebagai wakil ketua DPRD Bondowoso ini menambahkan, pihaknya mengharap dukungan dari pemerintah. “Kami harap support dari Pemprov Jawa Timur juga. Untuk pengembangan dan pembibitan atlet dirgantara di Bondowoso ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut, menurut Sinung, puncak Megasari lokasi yang biasa digunakan untuk terbang landas paralayang sangat reprentatif. 

“Puncak megasari sudah standart nasional bahkan beberapa atlet paralayang luar negeri juga sudah pernah menjajal. Dengan tingkat kesulitan yang cukup susah,” urainya.

Sebagai site olahraga paralayang, Megasari di Bondowoso mungkin sudah jamak yang tahu. Tapi sebagai dinding kaldera, belum banyak orang yang tahu.

Megasari merupakan julukan atau nama sebuah tempat yang terletak di dataran tinggi Ijen. Tepatnya di Kecamatan Ijen, Bondowoso. Megasari memiliki ketinggian 1.598 mdpl (meter di atas permukaan laut). (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00