Tekan Angka Stunting, Remaja Putri Pastikan Terhindar Dari Anemia

KBRN, Bondowoso: Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, Moh. Imron, kepada RRI, Rabu (4/12/19) mengatakan, masalah stunting di Bondowoso bukan secara spontanitas ditemukan saat ini. Menurutnya, ketika kesehatan para remaja putri tidak terpantau secara dini, seperti anemia maka perlu diberikan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Tujuannya agar usia reproduksi remaja putri dalam kondisi sehat ketika masuk usia nikah. Selama masa kehamilan pun tetap perlu pendampingan agar terhindar dari kekurangan energi dan kalori.

" Karena stunting adalah masalah gizi kronis yang perlu dicegah sedini mungkin," jelasnya.

Setelah masuk masa kelahiran, lanjut Imron, ada program Bayi Bawah Dua Tahun (Baduta) yang memantau bayi selama seribu hari pertama kehidupan. Stunting tidak hanya persoalan  kurang gizi dan kesehatan, namun ada juga intervensi gizi secara spesifik dan sensitif. Jika gizi spesifik merupakan domain program dan intervensinya melalui kesehatan. Sedangkan gizi sensitif adalah peran berbagai perangkat daerah sangat diperlukan.

" Contohnya bagaimana kita bisa memaksimalkan bahan baku lokal untuk  memberikan asupan gizi pada anak. Itu peran dari Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian," lanjutnya. 

Kata Imron, angka stunting di Bondowoso berdasarkan angka 2013 Liskesdas Pusat, berada di peringkat 38 dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur atau nomer pertama terbanyak  prevalensinya. Sedangkan pada tahun 2018, angka stunting di Bondowoso berada di peringkat 30 Jawa Timur atau turun tingkat persentasenya. 

Sementara data dari Bulan Timbang sejak Agustus 2018 sampai Agustus 2019 angka stunting di Bondowoso tinggal 14 %.

" Tapi kita tunggu data dari Liskesdas mungkin hasilnya beda," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00