Musim Hujan Tiba, Peringatan Dini Waspada Demam Berdarah

Ilustrasi Nyamuk DBD

KBRN, Bondowoso : Datangnya musim hujan, masyarakat tak hanya mewaspadai datangnya bencana alam. Namun masyarakat terutama di Kabupaten Bondowoso, juga perlu berhati-hati terhadap penyakit demam berdarah (DB). Pasalnya, serangan nyamuk Aides Aegypti tersebut dapat berakibat fatal, jika tidak segera diketahui dan ditangani.

Kasi Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Bondowoso, Goek Fitri Purwandari menerangkan, penyebaran kasus demam berdarah di Kabupaten Bondowoso tersebar hampir di seluruh kecamatan. Kecamatan Cermee menjadi lokasi terbanyak kasus DB karena berbatasan dengan Kabupaten Situbondo.

" Ya di kota dari tahun ke tahun tinggi, tapi kemarin yang tinggi adalah Cermee," katanya, Sabtu (27/11/2021).

Untuk itu, pihaknya telah menyebar surat peringatan untuk kewaspadaan dini demam berdarah kepada para petugas. Apalagi, sudah ada dua kasus baru demam beradarah di Kecamatan Pujer.

" Kita sudah mulai keliling. Kita adalah fogging fokus. Jadi ada kasus, kemudian di PE (Penyelidikan Epidomologi), jika positif baru fogging," ucap Goek.

Bahkan, selama 2021 sebenarnya telah terjadi 116 kasus. Namun dari jumlah itu, tidak semua dilakukan fogging.

"Dulu ada beberapa kasus tidak bisa di fogging. Jadi fogging kita sepertinya 89 ditambah 10, ada 99 kasus," lanjutnya.

Mengenai upaya fogging, Goek menyebut harus memenuhi beberapa syarat. " Dia KDRS-nya ada, kemudian trombositnya kurang dari 100, kemudian hasil PEnya positif. Kalau misalnya dia trombositnya di bawah 100, tapi setelah hasil PE bahwa seputar radius 200 meter tidak ada yang sakit panas, tidak ditemukan jentik, berarti dia bukan kasus indigenos, dia kasus dari luar impor," bebernya.

Untuk mengantisipasinya, Dinas Kesehatan telah  melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui jumantik (juru pemantau jentik). Di mana mereka merupakan anggota keluarga yang menjadi kader Jumantik dapat mendeteksi keberadaan nyamuk mematikan tersebut.

" Dalam satu rumah ada satu jumantik. Diupayakan apakah kepala keluarga, apakah anak dari rumah itu. Atau yang paham untuk melihat dan menulis apakah tiap-tiap kontainer di dalam rumah itu ada ditemukan jentik," pungkasnya. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar