Harga Gula Terus Naik, Pemkab Bondowoso Panggil Bulog Dan PG Prajekan

KBRN, Bondowoso : Harga gula yang terus merangkak naik ternyata disebabkan oleh ketersediaan yang menipis. Di Kabupaten Bondowoso, harga gula saat ini menyentuh angka Rp.16.500 hingga Rp.17 ribu per  kilogram dari harga sebelumnya Rp.12 ribu per kilogram.

Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso Aris Wasiyanto menjelaskan, pihaknya sudah memanggil Bulog dan Pabrik Gula (PG) Prajekan. Diakuinya , baik Bulog dan PG Prajekan mengalami kewalahan meski sudah melakukan operasi pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama menjelang Ramadhan.  Namun diprediksi, bulan Juni-Mei PG Prajekan akan kembali menggiling dan memproduksi gula.

“ Mereka sendiri beli juga di toko-toko Pecinann Blindungan. Situasi di lapangan gula memang langka. Biasa lah hukum ekonomi jika kebutuhan lebih besar dari ketersediaan maka harga pasti naik,” jelas Aris saat dikonfirmasi RRI, Jumat (4/4/2020).          

Menurutnya, menghadapi situasi seperti ini, pemerintah harus hadir untuk masyarakat. Hasil produksi gula di sebuah pabrik harus didistribusikan ke seluruh Indonesia. Sementara pertanian tebu di masing-masing Provinsi tersedia, sehingga hasil produksi gula di Kabupaten Bondowoso juga harus menyuplai ke daerah lainnya.

“ Kalau kebijakan impor kan dari pusat. Tapi saya dengar Presiden Jokowi sudah memberi peluang untuk impor terhadap komoditas yang dibutuhkan masyarakat, “ lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Bondowoso, Moch. Rudy Prasetyo menjelaskan, sejak 2018 Bulog sudah menyerap gula dari petani dan dibantu pemerintah dalam penjualannya. Namun, sejak 2019 hingga kini Bulog mengaku tidak ada penugasan lagi. 

Menurutnya, stok gula di Bulog merupakan stok komersil sehingga ketika terjadi kelangkaan  di luar, Bulog pun kesulitan membeli. Menyikapi kenaikan harga gula, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kanwil Jatim dan pemerintah pusat.

“ Untuk Bondowoso masih menunggu. Untuk kota-kota besar sudah dilakukan operasi pasar,” tandasnya.

Pihaknya memprediksi  sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 H, ketersediaan gula di masyarakat Bondowoso sudah bisa terpenuhi. Namun pihaknya mengakui sulit untuk memprediksi stok gula dalam upaya stabilisasi harga di pasaran.

“ Karena akses untuk produksi kita kesulitan. Kemudian untuk keputusan pemerintah untuk impor kita kurang dapat akses datanya,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00