Resiko Bencana, Hanya 10 Persen Petani Bondowoso Ikut AUTP

Seorang Petani di Bondowoso Saat Memanen Padinya Dengan Mesin Pemotong Padi

KBRN, Bondowoso: Memasuki musim penghujan, resiko terjadinya gagal panen akibat bencana cenderung lebih besar. Namun, tidak banyak petani di Kabupaten Bondowoso yang mengasuransikan tanaman padinya melalui Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP).

Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Hendri Widotono mengatakan, baru 10 persen petani yang ikut AUTP. Sisanya, mereka yang tidak ikut asuransi karena merasa keberatan jika harus membayar premi Rp 36 ribu per hektar.

" Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi lah ya. Karena ternak itu selama 1 tahun. Kalau padi usianya 3 bulan," jelasnya saat dialog interaktif Opini dan Aspirasi (OPSI) RRI Jember, Selasa (30/11/2021).

Namun begitu, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani, agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. 

" Kita proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen. Bukan hanya ya tapi 80 persen besar," lanjut Hendri.

Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, ia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.

" Petani harus mengeluarkan uang per hektar 36 ribu, itu yang agak keberatan di tingkat petani. Kita pahami. Bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan," terangnya.

Di masa pandemi Covid-19, secara makro sektor pertanian masih tumbuh sekitar 2,5 persen secara nasional karena merupakan kebutuhan pokok. Namun secara individu, para petani benar-benar terdampak pandemi Covid-19. 

" Terus bergerak, nggak ada hentinya," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu petani di Bondowoso, Suprapto menerangkan, selain padi terdapat beberapa tanaman alternatif yang bisa dikerjakan petani. Yakni jagung, ketela rambat, dan singkong. Tapi masalahnya harga yang membuat petani tidak tertarik. 

" Karena, kondisi pasar naik turun sesuai kebutuhan. Di saat pasar butuh harga tinggi, di saat pasar nggak butuh harganya nggak karuan lah," bebernya.

Diakuinya, di masa pandemi sulit bagi petani untuk mencari alternatif selain jagung dan padi. Apalagi jagung, di samping bisa dimakan untuk masyarakat juga bisa untuk pakan ternak. (san/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar