Nasib Petani Jember di Saat Pandemi Harga Jual Semakin Terpuruk

KBN – Jember, Pribahasa popular yang mengatakan hidup tak mau matipun segan nampaknya hal ini masih melekat dengan kehidupan dari para petani. Bahkan potret para petani secara umum termasuk di Jember semakin buram yang diparah lagi dengan adanya masa pendemi yang cukup panjang, kondisi ini pun juga menambah deret panjang kesedihan yang di alami dari para petani itu sendiri. Dari masa pandemic ini pula banyak diantara keluarga petani yang sakit dan meninggal dunia yang secara phsikologis berpengaruh terhadap keadaan sosial perekonomian mereka.

Saat di konfirmasi tentang nasib pertanian dimasa pandemi covid 19 Ketua HKTI Jember, Jumantoro mengatakan, bidang pertanian merupakan tulangpunggung bangsa ini yang mampu memberikan kontribusi pangan kepada masyarakat luas. Namun apa daya disaat memasuki masa panen harga komoditi pertanian khususnya pangan alih-alih dihadapkan pada harga yang tidak sesuai dengan harapan. Di lain pihak hingga saat ini harga sepenuhnya diserahkan kepada meknisme pasar yang artinya petani yang berada di hulu sampai saat ini pula tidak bisa menikmati keuntungan justru para pedagang, belandang dan tengkulak yang lebih memainkan harga, tandasnya.

“Ironisnya saat ini harga pangan khususnya gabah lebih mahal daripada katul/dedak (kulit padi yang sudah halus,red) harga katul di pasaran Jember mencapai Rp.4.500, dan harga gabah kering sawah dilapangan kisaran Rp. 3.500, samapai Rp. 4.000/kg. Disis lain juga akibat dari penyekatan-penyekatan yang di lakukan oleh pemerintah disejumlah wilayah kabupaten juga terdampak terhadap merosotnya harga komoditi pertanian khususnya sayur mayur. Dari penyekatan yang  di lakukan hasilnya menyebabkan tata niaga pedagangan pertanian tidak sehat sirkulasi keuangan tidak lancar sehingga petani hanya bisa berdiam menunggu nasib”, imbuh Jumantoro.

Terlihat dari cassingnya petani selalu mendapatkan sanjungan bidang yang paling tahan dan mampu bertahan di segala era. Namun pada kenyataannya petani selalu berada digaris yang merugi adanya kebijakan pengurangan pupuk bersubsidi, harga tidak ada proteksi dan produksi yang selalu tergantung pada cuaca. Apalagi saat sekarang ini memasuki cuaca cukup ekstrem juga berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian. Untuk itu petani hanya tinggal menunggu diambang kepailitan.

Jumantoro selaku Ketua HKTI Jember menyatakan meskipun saat ini memasuki  pasar online dan pengembangan media internet itu pun tidak banyak membantu harga produk pertanian juga tidak bisa bergerak yang lebih baik justru semakin turun tajam. Sebut saja harga–harga komoditi mulai sayur mayor, beras/ gabah tidak sebanding lurus dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Untuk itu disaat memasuksi masa pandemi ini hendaknya dana bantuan covid di bagi rata saja kepada para petani dan buruhnya. Fakta dilapangan petani dan buruhnya di saat pandemi ini benar-benar membutuhkan uluran tangan dari agar bidang pertanian tidak semakian terpuruk, imbuhnya  (SA/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00