Gas Melon Di Bondowoso Langka, Kalaupun Ada Harganya "Meroket"

Gas Bersubsidi Untuk Masyarakat Miskin Banyak Digunakan Oleh Orang-orang Mampu

KBRN, Bondowoso: Marhaban Ya Ramadhan. Menyambut bulan suci Ramadhan 1442 H, antusiasme masyarakat Bondowoso sangat tinggi. Tak hanya melulu soal persiapan beribadah puasa dan sholat tarawih di malam hari. Namun mereka disibukkan dengan segala pernak-pernik dan kebutuhan sehari-hari, terutama menyiapkan olahan makanan untuk berbuka dan saur. 

Akhirnya, kebutuhan akan energi pun kian meningkat. Ketersediaan gas elpiji 3 kg tak mampu mengimbangi jumlah kebutuhan masyarakat. Akibatnya, masyarakat Bondowoso kebingungan sendiri mencari gas bersubsidi yang kian langka. 

Bahkan, ada seorang warga yang mencurahkan situasi saat ini di media sosial.

" Kenapa gas elpiji langka ? Setelah ada harganya luar biasa. Siapa yang salah, pemerintah atau rakyat ?," tulis sebuah akun  facebook bernama Supa'at Kurniawan di Grup Suara Rakyat Bondowoso.

Bahkan, kalaupun ada sebagian warga mendapatkan gas dengan harga Rp 28 ribu. Padahal harga normal berkisar antara 18-20 ribuan. 

Kondisi tersebut melahirkan sebuah fenomena ekonomi yang merepotkan. Betapa tidak, ketidakmampuan pemerintah dalam mengimbangi ketersediaan gas bersubsidi membuat warga kelimpungan memenuhi kebutuhan selama Ramadhan.

Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso, Aris Wasiyanto menjelaskan, kelangkaan gas bersubsidi disebabkan karena penggunaannya salah sasaran. Masyarakat mampu, pengusaha hotel, hingga peternakan ayam menggunakan gas tersebut untuk kebutuhan usaha mereka.

" Mereka yang kaya-kaya memakai tabung 3 kilo. Sebenarnya tidak layak," katanya saat dikonfirmasi RRI, Rabu (14/04/2021).

Sayangnya, penggunaan gas bersubsidi yang tidak tepat sasaran tersebut tidak memiliki sanksi tegas. Pihaknya hanya bisa mengimbau kepada TNI-Polri maupun para ASN agar tidak menggunakan gas milik masyarakat miskin.

Diakuinya, masyarakat mampu pun sangat sulit untuk menggunakan gas nonsubsidi yang disediakan pemerintah.

" Ya kita disini karena aturan di atas tidak ada sanksi. Paling sanksinya kita tegur saja kalau mereka tidak layak. Mudah-mudahan dengan kesadaran sendiri," bebernya.

Adapun, pemerintah setempat telah berupaya menambah ketersediaan gas dengan mengajukan tambahan fakultatif kepada Pertamina sebanyak 4 persen.

Di kota Tape, kebutuhan masyarakat akan energi gas elpiji dalam setahun sebanyak 5 juta tabung. Angka tersebut bisa meningkat saat memasuki hari-hari besar keagamaan sehingga stoknya perlu ditambah.

Di masa pandemi Covid-19, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan daya beli. Tidak perlu melakukan panic buying yang bisa dimanfaatkan oleh para spekulan untuk menaikkan harga. 

" Memang kita harus bersuka cita menghadapi bulan suci Ramadhan. Tapi bukan dengan cara meningkatkan konsumsi yang luar biasa. Bisa kita lihat antrian orang di pasar, " tutupnya. (san/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00