DPKP Akui PJU di Jalur Pantura Banyak Tak Berfungsi

Lampu PJU di Kawasan Kota, depan SMA 02 Situbondo. (Foto Diana Arista)

KBRN, Situbondo : Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengakui beberapa kawasan di jalur pantura selama tahun 2020 masih gelap, karena lampu penerangan jalan umum (PJU) anggaran 2020 baru dipasang bulan ini. 

Menurut Kepala Bidang Pertamanan dan Penerangan Jalan Umum DPKP, Iwan Subhakti, pemasangan lampu mulai dilakukan bulan ini. Keterbatasan armada dan personil, menjadi kendala utama, lambannya pemasangan.

"Kita hanya punya armada 1 unit mobil crane pemasang lampu PJU. Sedangkan yang mau dipasang sangat banyak," ujarnya kepada RRI, Kamis (25/2/2021).

Saat dikonfirmasi banyaknya lampu PJU di jalur pantura yang mati dalam jangka waktu yang cukup lama, ia mengklaim, jika selalu memperbaiki PJU setiap kali ada laporan dari masyarakat.

"Setiap ada laporan, langsung kami tindaklanjuti. Kalau tidak ada laporan, gimana kami bisa tahu," ucapnya.

Sementara itu, menurut keterangan dari Dion Wardana, warga Desa Pesanggerahan Kecamatan Jangkar, lampu PJU di jalur pantura di wilayah Arjasa, nyaris tidak berfungsi semuanya. Bahkan, ada yang mati selama 4 tahun dan tidak ada perbaikan.

"Pabrik tepung ke timur dan ke arah barat sampai jembatan Arjasa itu gak pernah hidup. Dulu, sebelum pabrik dibangun, lampunya dipasang, dan hidup sekitar 1 bulan, setelah itu mati sampek sekarang, gak ada pemeliharaan," bebernya.

Ia menuding, tak ada pemeliharaan dari dinas terkait, sehingga banyak lampu PJU yang mati. Padahal, lampu penerangan di jalur yang menghubungkan Pulau Jawa-Bali itu, sangat diperlukan, apalagi Situbondo membranding pariwisata untuk memajukan sektor ekonomi.

"Semoga saja segera mendapat perhatian pemerintah. Karena terus terang, kalau pulang malam saya selalu hawatir karena gelap," katanya.

Senada dengan yang dikatakan Ali Muhdi, warga Besuki yang mengaku lampu PJU mulai dari ujung barat Banyuglugur hingga ujung timur Banyuputih, lampu PJU banyak yang mati dan ada juga yang belum terpasang. 

"Bisa dihitung jari lampu PJU yang berfungsi. Dan itu sudah berlangsung lama, sekitar 3 tahun," bebernya.

Menurutnya, jika anggaran pengadaan lampu PJU mencapai Rp15 miliar, dengan jumlah lampu sebanyak 3.575 unit, maka bisa dipasang di jalur Pantura sepanjang 178 kilometer, dengan jarak pemasangan 50 meter.

"Jalur Pantura dari ujung barat ke ujung timur ini kan hanya 110 kilometer. Jadi lampunya masih lebih itu, tapi faktanya yang terpasang hanya berapa unit saja," ungkapnya.

Ia berharap, pemerintah daerah tidak main-main dengan anggaran pengadaan dan perawatan lampu PJU. Sebab lampu merupakan hal penting untuk menekan angka kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas saat malam hari. 

"Ayolah jangan maen-maen dengan anggaran. Apalagi penerangan ini kan untuk masyarakat luas, karena pantura ini kan penghubung Jawa-Bali," tutupnya.

Berdasarkan temuan RRI, anggaran biaya perawatan penerangan JPU tahun 2020, mencapai Rp585 juta. Biaya perawatan meliputi honor petugas sebesar Rp231 juta, pemeliharaan wilayah barat Rp150 juta, wilayah tengah Rp115 juta, dan wilayah timur Rp89 juta. (Din/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00