Budidaya Sorghum di Situbondo Temukan Titik Terang

Presiden Direktur Sorghum Indonesia, HMH Sultan Caniago, saat acara peresmian Gedung Pembenihan Sorghum di Situbondo. Kamis (21/1/2021) (Foto Diana Arista).

KBRN, Situbondo : Arah budidaya sorghum di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mulai menemukan titik terang, sebab pemerintah pusat mencanangkan sorghum sebagai ketahanan pangan nasional.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura Situbondo, Sentot Sugiyono mengaku, sejak awal pencanangan sorghum pada awal 2019, pihaknya memang belum menemukan arah yang jelas.

"Kita masih bingung arah, mau dikemanakan sorghum ini. Seperti kemarin petani panen, kita kebingungan, siapa yang akan membeli sorghum," ungkap Sentot, Kamis (21/1/2021).

Namun setelah mengikuti rapat kerja nasional bersama Kementerian Pertanian, ternyata sorghum dijadikan bahan pangan alternatif untuk menopang ketahanan pangan nasional. 

"Kami langsung menghubungi Dirjen Tanaman Pangan Kementan, dan ternyata disambut baik. Bahkan Situbondo menjadi daerah pertama yang dipilih untuk budidaya sorghum," bebernya.

Sementara itu, Presiden Direktur Sorgum Indonesia, HMH Sultan Caniago, saat menghadiri penandatanganan nota kesepahaman di Situbondo, mengatakan, jika Mou tersebut merupakan lanjutan dari program pemerintah pusat.

"Pemerintah menekankan bagaimana membuat ketahanan pangan nasional. Salah satu yang dicanangkan adalah sorgum. Dan Situbondo mengawali untuk budidaya sorghum," katanya.

Ia mengemukakan, selama ini petani Situbondo salah persepsi terkait budidaya sorgum, diantaranya, banyak petani menanam sorgum di lahan basah, dan memilih bibit dengan varietas bervariasi.

"Ini harus kita diskusikan bersama, agar tidak ada salah pengertian terkait sorghum," katanya.

Menurut Caniago, Situbondo punya prospek bagus untuk budidaya sorghum. Apalagi Situbondo punya lahan marginal yang mencapai 31 ribu hektar, yang cocok untuk ditanami sorghum.

"Setelah lima hari disini, mempelajari lahan marginal untuk ditanami sorghum, kita sepakat untuk menjadikan Situbondo sebagai kota sorghum," ujarnya.

Ia meyakinkan petani, jika sorghum memiliki prospek yang sangat baik untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab harga sorghum sangat tinggi. Untuk varietas terendah saja, harga gabah basah sorghum mencapai Rp40 ribu per kilogram.

"Setiap orang yang membudidaya sorghum, ekonominya pasti meningkat. Karena dalam satu hektar, bisa menghasilkan minimal tiga ton bulir sorghum," terangnya.

Petani juga tak perlu bingung untuk pangsa pasar sorghum, karena sorghum sudah menjadi salah satu bahan pangan alternatif untuk menopang ketahanan pangan nasional.

"Sorghum sudah menjadi ketahanan pangan nasional, jadi tak perlu bingung untuk menjual sorghum, karena pemerintah yang akan membelinya," tegas Sultan Caniago. (din/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00