BST di Situbondo Diduga Kuat Dikorupsi

Yati (60) memegang e-KTP ditemani anak menantunya. Di rumah mirip gubuk ini ia tinggal sendiri. (Foto Diana Arista).

KBRN, Situbondo : Bantuan Sosial Tunai atau BST di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, diduga kuat dikorupsi oleh oknum tertentu.

Kasus ini menimpa salah seorang nenek bernama Yati (60), warga Dusun Bandusa, RT 01/RW 02, Desa Jatisari Kecamatan Arjasa.

"Ada tetangga yang bilang kalau saya dapat bantuan uang, tapi setelah saya menghadap pak RT, katanya saya gak dapat," ujar nenek Yati kepada RRI, Senin (26/10/2020).

Nenek Yati yang tinggal di daerah pegunungan dan terpencil itu, tak tahu harus mengadu kepada siapa saat namanya tidak tercatat sebagai penerima bantuan yang bersumber dari Kemensos RI itu.

"Mungkin memang bukan rejeki saya. Semoga lain kali saya bisa dapat bantuan, karena buat makan saja saya susah," ujar nenek yang tinggal di rumah mirip gubuk itu.

Nenek Yati tinggal sendirian, di rumah yang sangat sederhana, berlantai tanah dan dinding dari anyaman bambu. Kesehariannya mencari kayu bakar, dan bulir (mirip jagung) untuk ditanak.

"Saya jarang makan nasi. Seringnya makan bulir dicampur sama cangkarok (karak nasi basi) pemberian tetangga," kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

Tak hanya Yati, Suharni (55) tahun juga bernasib sama dengan nenek Yati. Perempuan yang tinggal dengan kedua cucunya yang masih sekolah itu, mengaku belum pernah menerima BST.

"Ada yang bilang saya dapat uang yang Rp600.000 itu. Tapi setelah saya cek ke Balai Desa, katanya nama saya gak ada," akunya.

Suharni yang juga tinggal di rumah mirip gubuk itu hanya bisa pasrah, karena ia tak tahu harus berbuat apa. Keterbatasan akses informasi untuk mencari tahu nama-nama penerima BST, menyebabkan ia dan banyak orang hanya bisa pasrah.

Apalagi ia tinggal di pegunungan yang aksesnya sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Jalan menanjak dan berbatu, menjadi alasan kuat daerah ini sebagai salah satu daerah yang terisolir.

Sementara menurut keterangan Satgas Penyaluran BST Situbondo, Irvan, atas nama Yati tersebut telah dicairkan sebanyak tujuh kali, sejak April hingga Oktober 2020.

"Atas nama Yati sudah diambil sebanyak tujuh kali melalui desa," katanya kepada RRI, melalui telepon selulernya.

Sedangkan atas nama Suharni, juga telah mencairkan atau diambil melalui pihak desa sebanyak lima kali.

"Sudah diambil lima kali, untuk tahap enam dan tujuh, nama Suharni memang tidak terdaftar," bebernya.

Irfan mengaku bahwa pihak desa bisa mencairkan BST meskipun tanpa menggunakan KTP yang bersangkutan, yaitu dengan menggunakan surat keterangan dari desa, bahwa penerima adalah sesuai dengan yang tercatat di daftar penerima BST.

"Di desa kan banyak yang tidak punya KTP, jadi yang tidak punya KTP tetap bisa dicairkan dengan menggunakan surat keterangan yang dibuat desa," ungkapnya.

Pantauan RRI, kedua penerima BST yakni Suharni dan Yati sama-sama memiliki KTP elektronik, maupun Kartu Keluarga. Kedua kartu administrasi kependudukan itu sudah dimiliki sejak bertahun-tahun lamanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00