Pupuk Bersubsidi Di Bondowoso Bergejolak, Komisi VI DPRD RI Turun Tangan

Komisi VI DPRD RI Turun Tangan Atasi Kelangkaan Pupuk Di Bondowoso

KBRN, Bondowoso: Hingga saat ini permasalahan pupuk bersubsidi di Kabupaten Bondowoso masih bergejolak. Mulai dari ditemukannya pupuk oplosan, kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga kelangkaan pupuk di kalangan para petani, membuat anggota Komisi VI DPRD RI, Nasim Khan, turun tangan.

Bahkan, Nasim mengumpulkan distributor dan kios pupuk dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso dan KPPP untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 

Nasim menjelaskan, dua perusahaan pupuk BUMN yakni PT. Pupuk Kaltim dan PT. Petro Kimia Gresik siap menindak tegas bila ditemukan penyimpangan pada distributor. Namun secara teknis regulasi di Kabupaten, dia menjelaskan, merupakan tanggung jawab Pemkab Bondowoso dan pihak keamanan yakni TNI-Polri.

" Otomatis disini kan binaan juga distributor ada Polres dan Kodim. Kami persilakan. Lanjut. Apalagi sampai berhubungan dengan uang negara, " tegasnya saat 

Nasim mempersilahkan para penegak hukum untuk memproses dan memberi sanksi kepada siapapun yang melakukan pelanggaran. Pasalnya dua perusahaan pupuk tersebut sudah memberikan imbauan dan teguran keras kepada para distributor. 

" Jika terbukti pasti akan ditindak tegas dengan pencabutan ijin kalau perlu,"

Menurutnya, E-RDKK, regulasi tingkat kabupaten, koordinasi penyuluh dengan petani harus ditata. Dinas Pertanian harus benar-benar mengawal para petani dan meratakan pendistribusian pupuk.

" Disamping Kabupaten membantu, distributor membantu juga petani. Untuk bersama-sama mengurus E-RDKK dan lain-lain sehingga tertata," urainya.

Sementara itu, Agus Suwardjito Asisten 2 Pemkab Bondowoso menjelaskan cadangan pupuk di Bondowoso sangat sedikit bahkan tidak mungkin cukup hingga akhir tahun meski sudah dilakukan realokasi.

" Apalagi kan bulan Oktober, November, Desember ini kan sudah musim tanam," tandasnya.

Menurutnya, sisa pupuk bersubsidi di Bondowoso saat ini sekitar 10 persen atau sekitar 2 ribu ton. Sisa ini akan direalokasikan ke daerah yang mengalami kekurangan pupuk seperti Sumber Wringin, Sukosari, Jambesari, Grujugan dan beberapa daerah lainnya. (san/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00