LMDH-KTH Sayangkan Pemkab Situbondo Acuh Terhadap Masyarakat Sekitar Hutan

Ketua LMDH-KTH Situbondo, Hadi Wiyono (memegang microfon) saat memberikan sambutan. (Foto istimewa).

KBRN, Situbondo : Ketua Umum Asosiasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan Kelompok Tani Hutan (LMDH-KTH) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Hadi Wiyono, menyayangkan sikap pemerintah kabupaten yang acuh tak acuh terhadap nasib masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Meski sebenarnya mereka mampu mensejahterakan diri secara mandiri, namun masih membutuhkan uluran tangan pemerintah kabupaten, berupa bantuan stimulan untuk biaya produksi, guna menanam tanaman tumpang sari di bawah tegakan.

"Masyarakat sekitar hutan keterbatasan modal sehingga tidak bisa mengelola lahan hutan. Apalagi harga pupuk mahal. Sementara pemerintah belum hadir," ujar Hadi Wiyono, kepada RRI, Rabu (8/7/2020).

Mantan Sekda Pemkab Situbondo ini mengemukakan, ada sekitar 40 ribu hektar lahan hutan yang bisa ditanami tumpang sari. Namun belum terkelola dengan baik, karena keterbatasan modal yang dimiliki petani.

"Dari 40 ribu hektar, belum setengahnya yang dikelola masyarakat hutan. Hanya sekitar 12 ribu hektar yang dikelola" ungkapnya.

Jika pemerintah hadir, dan bisa membantu permasalahan masyarakat petani sekitar hutan, maka secara otomatis akan mampu menekan angka kemiskinan di Situbondo hingga 3,14 persen.

"Angka kemiskinan di Situbondo saat ini 11,38 persen. Yang disumbang orang pinggiran hutan 3,14 persen. Kalau pemerintah hadir dan memberi solusi, maka angka kemiskinan bisa ditekan," bebernya.

Dalam waktu dekat, Hadi akan menghadap DPRD setempat untuk mengadukan hal ini. Berharap, pemerintah maupun DPRD bisa hadir di tengah masyarakat desa hutan, untuk membantu menyelesaikan masalah keterbatasan biaya produksi tanam.

"Kami terbatas sumber daya manusia, dana, pembimbing tehnis dan sarana prasarana tidak mendukung. Ini karena pemerintah tidak hadir," ujarnya.

Lahan di bawah tegakan, lanjut Hadi, bisa ditanami tanaman tumpang sari yaitu tanaman pertanian, seperti kunyit, jahe, talas, jagung, kacang ijo dan jenis lainnya. Tanaman tersebut mempunyai pangsa pasar yang cukup bagus.

"Misalnya talas yang ditanam di bawah tegakan. Dalam satu hektar, bisa ditanami 16 ribu pohon. Per pohon rata-rata menghasilkan 2 kg talas, sedangkan harga talas kemarin mencapai Rp8 ribu per kilogram," jelas Hadi. (din/dyy)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00