Warga Enggan Konsumsi Daging Sapi Lantaran Wabah PMK

Pedagang daging sapi di Pasar Panji Situbondo, keluhkan sepinya pembeli sejak wabah PMK. (Foto Diana Arista)

KBRN, Situbondo: Hewan ternak yang terpapar penyakit mulut dan kaki (PMK) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, hingga saat ini mencapai 2.889 ekor. 

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Situbondo, Holil, meskipun jumlah yang terpapar mencapai ribuan, namun tingkat kesembuhan cukup tinggi, yaitu sebanyak 199 ekor.

“Banyak yang sembuh, karena rata-rata sapi yang sakit masih bisa diobati,” ujar Holil kepada RRI, Selasa (5/7/2022). 

Tingkat kematian juga sangat rendah, karena peternak bersama dengan petugas Disnakkan sigap dalam memberikan tindakan, saat hewan ternak mengalami gejala mirip PMK.

“Petugas kami di lapangan terus memberikan pendampingan kepada peternak, khususnya mengatasi ternak yang sakit,” ungkpanya.

Sementara itu, Siti Wulandari, salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Mimbaan, Kecamatan Panji, mengaku sangat sepi pembeli setelah pemerintah menetapkan wabah PMK untuk Kabupaten Situbondo.

“Sudah sebulan lebih, pembeli daging sepi. Sehari biasanya habis 30 kilogram, saat ini 15 kilogram bisa habis dua hari,” ungkapnya. 

Kata Siti, banyak pembeli yang mengaku hawatir tertular penyakit mulut dan kuku pada sapi atau kambing. Hal inilah yang mengakibatkan pembeli daging sepi sejak PMK mewabah di Situbondo.

“Kalau harga daging tetap Rp110.000 per kilogram. Memang pernah ada pembeli yang menawar harga daging Rp20.000 per kilogram, disangkanya harga daging turun karena adanya wabah,” bebernya.

Langganan Siti rata-rata pedagang bakso. Sementara, pedagang bakso mengaku sepi pembeli lantaran wabah PMK. Kehawatiran mereka sama, yaitu hawatir tertular  virus PMK yang sebenarnya tidak menular kepada manusia itu.

“Pedagang bakso dalam sehari biasanya beli daging 9 kilogram. Sekarang hanya beli 6 kilogram, itupun untuk empat hari,” akunya. (din/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar