Pernikahan Dini di Bondowoso Tinggi, Pandemi Covid-19 Jadi Salah Satu Penyebab

Peneliti sekaligus dosen Universitas Jember (UNEJ), Honest Dody Molasy

KBRN, Bondowoso :  Berdasarkan data Pengadilan Agama Kabupaten Bondowoso, angka pernikahan dini di Kota Tape Bondowoso, Jawa Timur masih sangat tinggi. Tercatat selama tahun 2021 lalu terdapat 803 permohonan dispensasi nikah.

Peneliti sekaligus dosen Universitas Jember (UNEJ), Honest Dody Molasy menjelaskan, bahwa pada 2021 ia mendapatkan hibah untuk penelitian. Kebetulan yang diteliti tentang pernikahan anak.

"Memang benar, selama Pandemi itu jumlah anak-anak yang menikah itu naik, baik di Bondowoso dan Jember," kata dia saat dikonfirmasi, Rabu (25/5/2022).

Menurutnya, dari hasil wawancara dengan salah satu narasumber, di salah satu kecamatan, Honest mendapati seorang anak perempuan yang menikah sejak usia 12 tahun.

Saat diwawancarai kata dia, usia anak tersebut sudah 19 tahun. Di usia itu sudah empat kali menikah. "Menikah pertama kali di usia 12 tahun," imbuh dia.

Dari empat kali pernikahannya kata dia, pertama menikah siri atau tidak melalui KUA. "Dia juga melakukan pernikahan kedua atau ketiga, saya lupa, sekitar umur 16-an," jelas dia.

Pada pernikahan di usianya yang ke-16 ini, dokumen kependudukan anak tersebut dipalsukan. 

"Dia kan tak punya akte, jadi pakai KK. Ngurusi KK-nya itu diomongkan, harusnya usia 12 dinaikkan jadi usia 20 umpamanya. Tapi tidak lama cerai lagi," paparnya.

Anak itu bercerai karena beberapa faktor. Diantaranya karena faktor ekonomi dan faktor mental. "Bagaimana anak usia 12 tahun menikah, wong masih senang dolanan (bermain, red) disuruh menikah dan mengurusi suaminya," jelas dia.

Adapun faktor pernikahan di Bondowoso ini tinggi kata dia, karena beberapa faktor. Pertama karena faktor ekonomi orang tua, dan mindset orang tua. 

Menurutnya, dalam kasus ini peranan ulama atau tokoh agama sangat penting. Apalagi orang Bondowoso sangat mematuhi ulama. 

"Ketika ulama mengatakan, iyeh lah tak arapah (ia tidak apa-apa). Ya sudah. Bahkan ulamanya sendiri yang menikahkan," paparnya.

Oleh karena itu, masalah ini sangat kompleks. Maka ketika sosialisasi usia nikah, jangan hanya kepada orang tua dan anak, tetapi juga pada tokoh agama. 

Menurutnya, pernikahan dini ini menyebabkan masalah lain seperti stunting karena anak belum siap secara biologis. Selanjutnya juga menjadi penyebab tingginya perceraian karena tidak siap secara mental.

"Hasil kesimpulan penelitian itu, bahwa faktor ekonomi paling utama dalam menyebabkan anak-anak itu dinikahkan. Kedua pemahaman orang tua, sosial budaya dan pola pikir," paparnya.

Sementara kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB), Anisatul Hamidah mengaku sangat prihatin dengan kondisi pernikahan dini di Bondowoso. "Setelah kami tanyakan karena mereka tidak sekolah, nganggur di rumahnya, seharusnya tidak nganggur. Mungkin karena pergaulan terpaksa dilakukan nikah dini," paparnya. (san/dyt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar