Petarung UMKM di Tengah Pandemi COVID-19

Para pelaku UMKM di Kabupaten Situbondo, yang mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19. (Foto Diana Arista)

KBRN, Situbondo : Pandemi COVID-19 berdampak signifikan terhadap merosotnya omset para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. 

Hal ini diakui Alyatul Hasanah (30), pengusaha Maccu Wijen Alikha asal Desa/Kecamatan Kendit. Omsetnya menurun hingga 80 persen sejak pandemi COVID-19 mendera tanah air yaitu mulai Maret 2019.

"Pandemi sangat memukul usaha saya. Omset menurun hingga 80 persen," ujarnya kepada RRI, Selasa (4/1/2022).

Namun Alya tak menyerah dengan keadaan. Baginya, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Ia tetap berupaya eksis dengan usahanya, meski omsetnya terus menurun. Karena sebelumnya, ia mampu berproduksi hingga 500 piece dalam sebulan, sejak pandemi hanya 100 piece saja.

"Biasanya dalam seminggu, saya produksi tiga hingga empat kali. Karena pandemi, sebulan dua kali berproduksi," kisahnya kepada RRI. 

Ia mulai memasarkan produknya secara online. Maccu wijen miliknya mulai dipajang di beberapa marketplace. Ia juga memberikan layanan ekstra kepada pembelinya yaitu 'Delivery Order'. Mengantar langsung pesanan kepada konsumen.

"Pesannya sih sedikit. Kadang hanya dua sampai lima piece saja. Tapi tetap saya layani," bebernya.

Usaha tak akan menghianati hasil. Produk maccu wijen yang merupakan usaha turun temurun keluarga Alya, kini sudah mulai masuk di beberapa toko modern. Usahanya berangsur-angsur kembali normal seperti sebelum pandemi COVID-19. 

"Alhamdulillah sudah kembali normal. Berdagang itu memang harus selalu optimis. Karena selama kita berdagang, pasti ada yang beli. Kita juga dituntut inovatif, mengikuti tren, agar dagangan kita laku," pesannya.

Berbeda dengan Karisma Perdana (39) warga Desa Paowan Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Produk 'Jheina' yang berbahan dasar jahe ini, justru laris manis di tengah pandemi. Bahkan, omsetnya tembus Rp10 juta per minggunya.

"Masa pandemi, jahe lagi naik daun. Makanya dagangan saya laku keras," ujarnya.

Ia mengaku, mulai memproduksi Jheina sejak pandemi mendera. Awalnya hanya iseng untuk mengisi kekosongan, karena beban mengajarnya berkurang. Siswa lebih banyak belajar daring dan libur.

"Akhirnya saya buka youtube dan secara tidak sengaja menemukan tutorial cara membuat bubuk jahe siap seduh. Saya coba, ternyata rasanya banyak yang suka," ungkap Karisma.

Usaha Jheina yang dimulai sejak April 2020 itu, omset awal hanya Rp1 juta dalam seminggu naik menjadi Rp10 juta, hingga saat ini. Pesanan demi pesanan, secara online maupun offline, terus mengalir. Semangatnya adalah, bagaimana ia terus bisa memenuhi permintaan pelanggannya.

"Saya selalu 'ready stock'. Ketika ada permintaan, saya penuhi," tegasnya.

Setali tiga uang dengan Alyatul Hasanah, pengusaha Maccu Wijen yang mampu bertahan di tengah pandemi. Hesti Puji (40) pengusaha Kerupuk Kepiting asal Panarukan juga punya semangat yang sama. Yaitu bertahan di tengah pandemi. 

"Usaha kerupuk saya sejak awal pandemi benar-benar terpukul. Barang yang saya titipkan di toko-toko semuanya kembali karena gak ada yang beli," akunya.

Biasanya, setiap hari ia produksi kerupuk kepiting goreng sebanyak 10 kilogram. Namun karena pandemi ia hanya produksi seminggu sekali. Itupun harus dijual keliling dan diantar langsung kepada pembeli selama berada dalam jangkauan.

"Sebelumnya saya gak pernah antar ke konsumen. Karena lagi sepi, saya memberikan pelayanan ekstra," ujarnya.

Akhirnya ia mulai memasarkan kerupuknya yang memang sudah tidak diragukan rasanya, melalui marketplace. Pesanan secara online maupun offline terus mengalir. Ternyata semangat dan ketekunan dalam berusaha membuahkan hasil yang luar biasa.

"Alhamdulillah, sejak enam bulan terakhir ini, saya sudah berproduksi seperti semula, sudah normal. Setiap hari goreng kerupuk 10 kilogram," akunya sembari tersenyum.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar