Pentingnya Penguatan Budaya Organisasi Petani Kakao Di Jambewangi

Upaya Pendampingan Petani Kakao Oleh Universitas Jember

KBRN, Banyuwangi : Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, merupakan daerah yang memiliki potensi cukup besar di sektor pertanian, khususnya dalam pengembangan kakao.  Potensi pengembangan kakao di desa ini didukung dengan kondisi geografis wilayah yang sesuai dengan persyaratan budidaya kakao, seperti ketinggian, suhu udara, dan curah hujan. 

Dalam rangka mengembangkan potensi kakao di Desa Jambewangi, pada awal tahun 2020 telah dirintis pendirian kelompok tani di Desa Jambewangi, yang diberi nama Kelompok Tani Manggar Kencono.  Pembentukan kelompok tani ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan yang dilakukan petani kakao di Desa Jambewangi terkait dengan kegiatan budidaya hingga pemasaran kakao. 

Sebagai tindak lanjut dari upaya penguatan kelembagaan dalam rangka meningkatkan produktivitas Kelompok Tani Manggar Kencono, maka hal-hal yang baik yang ada pada kelompok tani perlu dijadikan sebagai budaya (culture), khususnya dalam berorganisasi (corporate/organization).  

Budaya organisasi (corporate culture) adalah seperangkat asumsi, kepercayaan, nilai-nilai dan persepsi yang dimiliki seluruh keanggotaan kelompok dan suatu organisasi yang membentuk, mempengaruhi sikap dan perilaku kelompok yang bersangkutan.

Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Sempu, Titin mengatakan, penguatan kelembagaan petani yaitu kelompok tani perlu dilakukan salah satunya dengan meningkatkan kapasitas SDM petani melalui berbagai kegiatan pendampingan, dan latihan yang dirancang secara khusus bagi pengurus dan anggota. 

" Secara teknis upaya penguatan kelompok tani ini sebagian telah dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)," paparnya, Kamis (21/10/2021).

Sementara itu, Dr. Ir. Sugeng Raharto, MS  Dosen PS Agribisnis Universitas Jember (Unej) mengatakan, pihaknya turut mendampingi pengembangan kakao di Jambewangi melalui penguatan Budaya organisasi dengan pembuatan dokumen budaya organisasi. 

" Dokumen budaya organisasi ini berisi tentang budaya organisasi yang diterapkan pada organisasi kelompok tani yang dapat dijadikan acuan (guidelines) dalam penerapannya," katanya.

Bahkan, dipertegas juga oleh Dr. Yuli Wibowo S.TP M.Si., Dosen PS Teknik Pertanian (UNEJ), bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang diinternalisasi menjadi suatu budaya organisasi tersebut diharapkan nantinya dapat menjadi pengungkit atau menjadi motor penggerak perkembangan organisasi kelompok tani.

Hal senada juga disampaikam oleh Diana Fauziyah, S.P., M.P., Dosen PS Agribisnis (UNEJ), bahwa dalam setiap tanggung jawab dan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi kelompok tani, keterlibatan anggota perlu ditingkatkan dimana hal ini menjadi inisiasi tanda kepercayaan pengurus pada anggota kelompok tani. 

" Hal ini juga dilakukan dalam rangka untuk mengetahui dan memastikan potensi-potensi yang dimiliki oleh anggota kelompok tani.  Anggota kelompok tani juga dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam ranah yang dianggap perlu," pungkasnya. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00