Kritik Penyaluran Bansos Tidak Merata, Mahasiswa Jember Dorong Gerobak Bagikan Sembako untuk PKL dan Abang Becak

KBRN,Jember : Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jember melakukan bakti sosial membagikan bingkisan sembako bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Abang Becak di sekitar Gedung DPRD Jember, Senin (26/7/2021).

Mereka berkeliling mendorong gerobak berisikan paket sembako untuk dibagikan kepada para PKL dan abang becak yang sampai saat ini tidak tersentuh bantuaan apapun dari Pemerintah pada masa PPKM Darurat.

Selain melakukan bakti sosial, para aktivis mahasiswa juga turut menyuarakan jerit tangis masyarakat kecil yang secara sosial ekonomi terdampak pandemi Covid 19. 

Mahasiswa menilai Implementasi Kebijakaan terkait PPKM menimbulkan implikasi signifikan bagi masyarakat bawah.

Kordinator aksi M Yayan mengungkapkan BEM UM Jember telah melakukan kajiaan terhadap dampak dari kebijakaan PPKM yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Jember. Berdasarkan data kajian itu, Mahasiswa menilai upaya sosialisasi  dalam pemberlakuan kebijakaan PPKM masih kurang merata. 

"Tim pengkaji BEM UM Jember menyebar kuesioner kepada masyarakat dalam rangka mengkaji dampak dari kebijakaan PPKM, kuesioner dibagikan kepada PKL di sekitar alun-Alun Jember, Pedagang ikan di TPI Puger dan juga di juga kelompok masyarakat lain, termasuk pemberlakuan kebijakan mematikam PJU, Pemkab Jember seharisnya juga melihat tingginya resiko tindak kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas sebab saat ini banyak jalan umum kabupaten jember yang belum diperbaiki secara merata," paparnya.

Selain itu masih banyak terjadi keluhan masyarakat khususnya PKL di Kabupaten Jember yang sampai kini belum menerima adanya bantuan sosial dari Pemerintah Kabupaten Jember baik berupa uang ataupun sembako guna meringankan beban ekonomi masyarakat terdampak kebijakan Pemerintah.

"Kami mendesak pemerintah kabupaten jember mengalokasikan biaya pembayaran selama dimatikannya PJU untuk bansos penanganan covid, memasifkan penyaluran Bansos bagi masyarakat,kaji ulang kebijakan mematikan lampu PJU dan  hentikan tindakan eepresif kepada masyarakat yang bergerak di sektor UMKM dan PKL di Jember," tegasnya.

Sementara salah seorang PKL yang biasa berjualan di sekitar Gedung DPRD Jember, Andi Kurniawan mengungkapkan Kebijakan PPKM Darurat sangat dirasakan dampaknya membuat penghasilannya sehari-hari turun drastis.

"Biasannya dalam sehari dapat Rp 200 ribu, saat ini bisa bawa pulang 50 ribu sudah sangat beruntung, dampak ekonominya sangat luar biasa terhadap masyarakat kecil," leluhnya.

Meski terdampak secara ekonomi, Dirinya mengaku hingga saat ini belum pernah menerima bantuaan apapun dari Pemerintah baik bantuan sosial atau bantuan lainnya.

"Baru bantuan dari mahasiswa ini yang saya terima,kalau bantuan dari pemerintah belum ada sama sekali," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Suhardianto, seorang abang becak yang biasa mangkal di seputaran bundaran DPRD Jember, Dirinya mengaku belum pernah tersentuh bantuan sosial apapun yang disalurkan oleh Pemkab Jember. Padahal kondisi pandemi covid 19 telah membuat penghasilannya sebagai tukang becak semakin tak menentu.

"Baru kali ini dapat bantuan dari Mahasiswa, kalau dari pemerintah gak pernah sama sekali, setiap hari kadang tidak dapat penghasilan sama sekali sepi penumpang," kata Suhardianto. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00