Jadi Pemateri di Kemendagri, Bupati Situbondo Paparkan Berbagai Inovasi Daerah

Bupati Situbondo, Karna Suswandi (baju batik hijau) saat menjadi pemateri dalam acara Best Practice Diklat Inovasi Kemendagri. Selasa (22/6/2021) (Foto istimewa)

KBRN, Situbondo : Bupati Situbondo, Jawa Timur, Karna Suswandi, menjadi pemateri dalam acara Best Practice Diklat Inovasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), yang digelar di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri, Jakarta, pada Selasa (22/6/2021).

Karna Suswandi yang akrab disapa Bung Karna itu mengaku bangga, karena dipilih menjadi salah satu pemateri dalam acara Diklat yang dihadiri oleh perwakilan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. 

"Saya diundang sebagai pemateri, karena Situbondo dinilai mempunyai segudang inovasi berbasis pelayanan kepada masyarakat," ujar Bung Karna saat dihubungi melalui telepon selulernya. 

Ia mengemukakan, materi yang disampaikan di hadapan ratusan peserta itu, adalah inovasi berbasis pelayanan yang digagasnya, yakni pelayanan aktif, kreatif, efisien, dan memuaskan atau yang disingkat PAKEM. Setiap pelayanan yang diberikan pemerintah daerah, harus menerapkan Pakem.

"Ada beberapa inovasi yang menjadi konsentrasi kami dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat," katanya.

Bupati yang baru dilantik pada Maret 2021 itu merinci jenis inovasi pelayanan pemerintah daerah, diantaranya, Plasa, yakni sistem pelayanan masyarakat desa dan kelurahan. Dimana semua kepentingan administrasi kependudukan dan lainnya, cukup dilayani di tingkat desa/kelurahan melalui aplikasi Si Pesat (sistem informasi pelayanan masyarakat terpadu).

"Saat memaparkan inovasi Plasa, saya mengkritisi blanko KTP yang masih dimonopoli oleh Kemendagri. Bagaimana pemda bisa berinovasi, jika kami hanya diberi blankonya saja. Itupun terbatas. Sehingga kami tidak bisa menyelesaikan kepentingan rakyat dalam hal pelayanan administrasi kependudukan," ungkap Bung Karna.

Selain itu, ada inovasi pelayanan bidang kesehatan, yaitu sehat gratis (Sehati). Warga miskin yang tidak terkover dalam penerima JKN-KIS yang dibiayai pemerintah, bisa mendapatkan layanan Sehati, yang hanya cukup membawa KTP ke tempat pelayanan kesehatan.

"Jadi, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin, cukup menggunakan KTP. Jadi tidak terlalu birokratis, justru praktis dan ekonomis," ujarnya.

Ada juga program Tulup alias tutup lubang, yakni infrastruktur jalan yang lebih baik lagi. Sebab, selama ini banyak jalan berlubang yang seolah-olah dibiarkan tanpa ada perbaikan. Sehingga muncullah ide program Tulup. Setiap ada kerusakan jalan tak lebih dari 15 persen, akan langsung diperbaiki.

"Semua program inovasi yang saya paparkan mendapatkan respon luar biasa dari peserta diklat yang sebagian besar dari Bappeda provinsi dan kabupataen/kota. Semua inovasi berbasis pelayanan, yang mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat," bebernya.

Bahkan, lanjut Bung Karna, program inovasi cinta emak-emak (Caem) yang bertujuan untuk pemberdayaan emak-emak, ada yang ingin meniru. Sebab dinilai langka dan efektif untuk pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

"Di akhir acara, saya pamerkan potensi wisata Merak-Baluran yang punya keindahan alam yang luar biasa," imbuh Bung Karna.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00