Wadir Intelkam Polda Jatim Imbau Santri Waspadai Radikalisme

Wadir Intelkam Polda Jatim Cecep Ibrahim (tengah berkopyah putih) saat silaturrahmi ke Ponpes Nurut Taqwa, Cermee

KBRN, Bondowoso: Wadir Intelkam Polda Jatim, AKBP Cecep Ibrahim, S.I.K M.H., mewanti-wanti para santri di Bondowoso agar tidak mudah terpapar paham radikalisme. Hal tersebut ditegaskannya saat melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurut Taqwa di Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jumat 17 April 2021 malam.

Cecep menilai bahwa santri termasuk paling rawan terpapar paham keras saat menempuh pendidikan agama. Selain itu, sasaran utama para penyebar paham ekstremis tersebut yakni pelajar, kaum milenial, pondok pesantren, dengan memasukkan doktrin-doktrin tidak benar.

" Terutama anak-anak milenial. Radikalisme juga menyasar dunia pendidikan, pesantren dengan dalih agama," cetusnya.

Untuk itu, para santri juga diimbau agar jangan sampai terpapar narkoba. Apalagi jika mereka sampai mendapatkan guru yang salah.

"Kita tegaskan lagi kepada mereka agar mencari guru yang benar. Agar mereka tidak terpapar radikalisme dan narkoba," sambung Cecep.

Saat ini pemerintah, aparat kepolisian dan semua pihak terus berupaya memberantas paham radikalisme di Jawa Timur. Karena menurutnya, radikalisme termasuk intoleran yang tidak diperbolehkan. 

" Jadi apapun bentuknya ya kita perangi terus," lanjutnya. 

Adapun mengenai keberadaan pondok pesantren, Cecep menilai seharusnya mereka menjadi filter. Artinya, pesantren harus benar-benar selektif dalam memilih tenaga pendidik bagi santri.

" Kadang-kadang lolos seleksi. Ketika mereka memberikan pemahaman, ternyata intoleran. Akhirnya tidak sesuai," bebernya.

Adapun, keberadaan NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia merupakan partner Polri dalam menangkal paham-paham ekstrimis.

" Untuk itu, para santri harus benar-benar patuh terhadap petuah guru atau kyainya," pesannya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cermee, KH Nawawi Maksum mengaku siap membantu pemerintah dan kepolisian dalam memerangi paham radikal tersebut.

"Bagi kami radikalisme dengan menyerang orang lain secara membabi-buta bukanlah ajaran agama," tegasnya.

Menurutnya, penganut paham radikal rata-rata membenci pemerintahan yang sah, membenci aparat dan sebagainya. Sehingga, pihaknya akan lebih berhati-hati dalam seleksi penerimaam guru.

"Tetapi bagi pesantren kami yang berbasis Ahlussunah wal jamaah An-nahdliyah, cinta tanah air adalah wajib dan harus menaati pemerintahan yang sah," tutupnya singkat. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00