Suap Ketok Palu APBD, Mantan Pimpinan DPRD Prov. Jambi Dituntut 6 Tahun Penjara

Sidang Suap Ketok Palu APBD Provinsi. Jambi di Pengadilan Tipikor

KBRN, Jambi : JPU KPK menuntut mantan Ketua DPRD Provinsi Jambi, Cornelis Buston, terdakwa dalam kasus suap pengesahan atau ketok Palu APBD Provinsi Jambi tahun anggaran 2017 dan 2018  dengan hukuman enam tahun penjara dan denda Rp 500 juta , subsidair enam bulan kurungan , serta pidana tambahan berupa uang pengganti sebesar Rp 100 juta. Sedangkan dua mantan wakil Ketua DPRD yaitu Chumaidi Zaidi dan AR Syahbandar masing-masing dituntut dengan pidana penjara selama lima tahun dan denda Rp 500 juta rupiah, subsidair enam bulan kurungan. Chumaidi Zaidi juga dituntut dengan pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar Rp 400 juta . JPU KPK dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jambi hari ini juga menuntut agar ketiga terdakwa dicabut haknya untuk dipilih dalam jabatan publik. 

Menanggapi tuntutan JPU tersebut, penasehat hukum terdakwa AR Syahbandar, Indra Armendaris mengatakan, pihaknya akan menyampaikan pembelaan, setelah melakukan koodinasi dengan kliennya. " Kita mendapat kesempatan 2 Maret nanti untuk menyampaikan pembelaan. Sebelum menyampaikan pembelaan tentu kami akan berbicara dengan prinsipal kami Pak Syahbandar. Di persidangan tadi kan jelas disampaikan JPU kalau Pak Syahbandar menyatakan penyesalan, " ujar Indra Armendaris, Kamis (18/2/2021). 

 Tim JPU KPK dalam berkas tuntutan setebal lebih dari seribu halaman menyebutkan bahwa ketiga terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan Perbarengan Tindak Pidana Korupsi secara Bersama-sama, sebagaimana diatur dalam pasal 12 huruf a, Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang  nomor 20 tahun 2001, juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP juncto pasal 65 ayat 1  KUHP sebagaimana dalam dakwaan pertama. Sidang virtual yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Erika Sari Emsah Ginting ditunda pada 2 Maret mendatang dengan agenda penyampaian nota pembelaan. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00