Masyarakat Tak Perlu Khawatir, MUI Sebut Kurban Saat Wabah PMK Aman

KBRN, Kerinci : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kerinci M. Rasyiddin meminta masyarakat tetap optimis dan tak perlu khawatir dengan adanya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).Ia memastikan, masyarakat tetap bisa melakukan kurban dengan aman. 

"Pertama kita harus optimis, kurban Idul Adha tahun ini aman, nyaman. Sehingga tidak perlu terlalu khawatir," ujarnya, Kamis (30/06/2022).

Dikatakannya, masyarakat perlu menyikapi wabah PMK ini secara proporsional dan profesional. Sebab, pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait telah mengantisipasi sejumlah kendala yang dapat menghambat jalannya hari raya kurban menjelang perayaan Idul Adha. Karena itu,berkurban harus tetap dilakukan. Apalagi, dalam Islam, itu sesuatu yang sangat dianjurkan. 

"Karena para ahli kita, itu sudah ada upaya-upaya untuk melakukan antisipasi. Karena itu, dalam perspektif MUI, berkurban ini memang sesuatu yang sangat dianjurkan," katanya. 

Yang kedua, lanjut Rasyiddin, masyarakat harus melihat bahwa hewan yang dikurbankan harus sesuai kriteria yang disyariatkan yaitu sehat, kuat dan terbaik. Menurutnya, yang terbaik adalah yang sehat dan kuat secara fisik. Berangkat dari dua hal tersebut jelasnya, ada empat kategori bagi hewan kurban sesuai Fatwa MUI No.32 Tahun 2022 yang ditandatangani tangal 31 Mei 2022 lalu. 

Empat kategori ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi panduan menyembelih hewan kurban di tengah penyebaran infeksi PMK. 

"Pertama, hewan kurban harus kuat dan sehat. Kalau ada gejala klinis ringan misalnya mulutnya mengeluarkan air liur, tapi masih kelihatan gagah, bisa," jelasnya. 

Kedua, hewan ternak yang masih dalam gejala awal PMK, seperti flu berat dan nafsu makannya turun masih bisa dikurbankan. Asalkan, tambahnya, harus disembelih dan dimasak sesuai standar kesehatan. 

"Kalau ada hewan kurban yang sudah mulai kelihatan flu berat. Misalnya sudah letih lesu, tidak punya nafsu makan, terus air liurnya keluar, tapi masih bisa makan, bisa dikurbankan. Cepat-cepat disembelih dan dimasak dengan cara sesuai standar kesehatan. Oleh karena itu, saya katakan jangan khawatir. Tapi kalo sudah lemah, kelihatan kurus, maka itu tidak sah untuk dikurbankan," tegasnya.

Sementara jikalau ada ternak yang sakit, namun segera disuntik vaksin kemudian sembuh, itu sah dikurbankan dengan rentang waktu penyembelihannya 10-13 Dzulhijah. itu artinya di hari tasyrik. 

Keempat, kalau dia sakit kemudian sembuh. Tapi sembuhnya sudah di luar tanggal 13 atau di luar hari tasyrik, maka tidak sah sebagai kurban. Dia hanya sebagai sedekah biasa.

"Nah karena itu, saya ingin mengajurkan, kalo ada sapi atau hewan kurban yang sulit disembuhkan, ya cepat-cepat disembelih dan dimasak dengan cara sesuai standar kesehatan. Oleh karena itu, saya katakan jangan khawatir," tegasnya. 

Rasyiddin menambahkan, wabah PMK merupakan sebuah ujian yang harus dihadapi oleh manusia. Sebagian manusia pejuang, katanya, kita harus menghadapinya.

"Sekali lagi wabah PMK ini bukan musibah yang dikehendaki oleh manusia, tapi sebuah ujian, yang kalau kita mampu menghadapi ujian ini, semakin kuat doa dan ikhtiar kita," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar