Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Kacamata Psikolog

KBRN,Jambi : Dalam beberapa dekade pembicaraan mengenai anak berkebutuhan khusus semakin menjadi pembicaraan di tengah-tengah masyarakat  terutama kalangan pendidik dan orang tua yang menemukan bahkan memiliki anak berkebutuhan khusus.

Ridwan, M.Psi, Psikolog yang merupakan praktisi Anak Berkebutuhan khusus kota Jambi yang juga pertama kali membuka terapi anak berkebutuhan khusus di kota Jambi pada tahun 2001 mengatakan kalau istilah Anak Berkebutuhan Khusus diperuntukkan bagi mereka atau sekumpulan anak yang memiliki kekhususan atau perbedaan secara fisik maupun psikologis dibanding pada anak-anak normal lainnya se usia mereka yang dalam ilmu psikologi perkembangan adanya aspek-aspek  yang tidak selaras dengan usia baik itu dari sisi perkembangan kognitif, motorik, Bahasa, sosial, emosi atau juga moral agama. Disamping, ada juga anak yang dikatakan berkebutuhan khusus karena memiliki ketunaan (tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita dan beberapa ketunaan lain yang menganggu proses adaptasinya bersama orang lain, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan bermainnya.

Sehingga dengan keadaannya inilah mereka membutuhkan perlakuan khusus agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan. Ridwan yang juga merupakan dosen sekaligus ketua PRODI PIAUD FTK UIN Jambi menambahkan ada beberapa rumusan dari WHO pada penyebutan anak berkebutuhan khusus, diantaranya Impairement yang merupakan keadaan atau kondisi dimana individu mengalami kehilangan atau abnormalitas psikologi, fisiologi atau struktur anatomi.

Kemudian Disabilty yang merupakan suatu keadaan dimana anak menjadi kurang melakukan kegiatan sehari-hari karena adanya kecacatan pada organ tubuh. Terakhir ada istilah Handicaped yang merujuk pada keadaan individu mengalami ketidak mampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.Ketika dimintai pendapatnya oleh bang yon mengenai tipe-tipe anak berkebutuhan khusus, Ridwan yang juga penulis buku “Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus” menambahkan ada beberapa tipe anak berkebutuhan khusus berdasarkan ketunaan yang dialami, seperti tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, tuna daksa termasuk juga yang terjadi pada hambatan psikologis seperti anak lamban belajar, autis, hiperaktif bahkan termasuk anak yang memiliki keterbakan (gifted) dan anak yang cerdas secara intelegensi (jenius).

"kalau anak berkebutuhan khusus sebaiknya dapat terus melanjutkan studinya meski dengan keterbatasan yang ia miliki" ujarnya.

Ada beberapa jenis pendidikan yang bisa ditempuh seperti di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menerapkan layanan pendidikan segregasi yang terpisah pada system pendidkan normal umumnya dimana peruntukannya berdasarkan kekhususan siswa itu sendiri, misalnya anak tuna netra yang tergabung dalam kelas tuna netra, tuna rungu bergabung dengan anak tuna rungu dan seterusnya atau juga tingkatan SDLB,SMPLB, SMALB yang memungkinkan anak dengan ketunaan ini bergabung menjadi satu. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar