Perkembangan Remaja Bersama Psikolog

KBRN,Jambi : Bertempat di Tribun Jambi, sabtu (25/06/2022) dilaksanakan dialog seputar remaja. Dipandu oleh host bang Yon menghadirkan nara sumber seorang psikolog yang sekaligus dosen dan ketua PRODI PIAUD FTK UIN STS Jambi. Dialog disiarkan langsung melalui FB dan youtube agar dapat disaksikan khalayak ramai terutama kalangan orang tua dalam menambah referensi mengenai perkembangan dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja. Dalam dialog yang berjalan santai, Ridwan memaparkan kondisi yang terjadi pada remaja yang dimulai pada rentang usia 10 sampai 19 tahun. Menurut Ridwan, pada fase remaja awal terdapat perubahan-perubahan kondisi fisik pada anak, dimana bagi anak perempuan terjadi perubahan dalam kondisi pinggul yang membesar, payudara yang tumbuh, bulu yang juga tumbuh di ketiak maupun diseputaran kelamin bahkan munculnya masa menstruasi akibat perubahan hormon yang kita sebut sebagai masa pubertas.

Demikian hal nya kondisi ini terjadi pula pada laki-laki dengan munculnya rambut yang posisinya sama seperti perempuan bahkan munculnya kumis, munculnya jakun disertai perubahan suara yang kian berat. Laki-laki juga mengalami wet dream atau biasa kita sebut mimpi basah serta postur tubuh yang mulai merangkak naik (tinggi).Pada fase ini, remaja memiliki sifat yang idealis, kritis, kecendrungan untuk mandiri serta memiliki kelompok pertemanan yang lebih komplek dan ketertarikan dengan lawan jenis mewarnai kehidupan mereka. Tentu tidak mudah bagi seorang remaja menjalani proses ini, dimana mereka kaget dengan perubahan tubuhnya dan ini memerlukan penyesuiaan diri terhadap kondisi yang terjadi.

Masa-masa remaja juga disebut sebagai masa badai, dimana mereka ingin melepaskan ketergantungan dari orang tua untuk mandiri tetapi disisi lain pada dasarnya mereka belum siap akan hal itu. Proses transisi mencari jati atau identitas diri juga merupakan hal lain permasalahan pada remaja. Keinginan untuk diakui, diterima oleh lingkungan remaja lainnya sebagai wujud aktualisasinya menjadikan permasalahan tambahan bagi remaja, baginya teman adalah segalanya bahkan demi teman pun mereka merelakan waktunya untuk dihabiskan bersama.

Disisi lain orang tua dengan posisinya sebagai power pengatur kegiatan anak remaja menjadikan posisi sulit bagi remaja sehingga protes dan tidak mau diganggu kehidupannya oleh orang tua menjadi polemik dan konflik bagi si remaja dan orang tua serta tak jarang si remaja melakukan hal-hal yang nekat seperti bergabung dengan gank motor atau komunitas lainnya yang mengarah kepada perbuatan negatif semakin membuat kekhawatiran dan dilema tersendiri bagi orang tua, lebih-lebih ketika mereka terperosok dalam pergaulan bebas, sebagai pengguna narkoba atau bahkan bergabung dalam kelompok-kelompok kriminal lainnya demi mewujudkan eksistensi mereka yang salah kaprah. Ketika diminta pendapatnya bagaimana orang tua harus bersikap dengan para remaja yang cenderung menjadi pemberontak, Ridwan dengan bijak menyampaikan kalau orang tua harus tetap bersikap tenang dan pahami psikologi remaja artinya kita mesti memiliki ilmu dan pengetahuan tentang psikologi remaja itu dengan cara membaca literatur tentang remaja maupun berkonsultasi dengan psikolog agar kita memiliki bekal yang cukup untuk mengetahui alur hidupnya sang remaja.

Selanjutnya, posisikan diri kita sebagai seorang remaja yang memiliki pergolakan bathin luar biasa dengan menempatkan diri sebagai remaja. Dengan begitu posisi kita sebagai orang tua akan menjadi sejajar dan dapat dijadikan teman bagi si remaja. Berikutnya, kita dapat menciptakan komunikasi yang intens dengan tetap menghargai privasi dari sang remaja yang cenderung tertutup dengan kita. Mulailah dengan menanyakan khabarnya hari ini, perasaannya termasuk munculnya ketertarikan kepada lawan jenis yang semakin muncul seiiring berubahnya hormon seksual mereka dan jangan menghakimi atas apa yang mereka alami. Lebih baik kita memberi support dan meyakinkan si remaja bahwa kita selalu ada untuk mereka. Berikan edukasi yang dibutuhkan oleh remaja termasuk tentang sex dan jangan menganggap ini tabu untuk dibicarakan bersama mereka, oleh karenanya hal-hal sensitif ini perlu dibicarakan kepada anak, maka lagi-lagi orang tua selayaknya memiliki ilmu tentang itu agar dapat menjelaskan dengan bijak serta memberi tau kepada anak hal yang mungkin terjadi kepada remaja semisal hamil diluar nikah. Katakan kepada si remaja, bahwa tiap orang akan mengalami proses menjadi orang tua dan itu ada masanya. Disamping itu edukasi tentang agama menjadi hal yang teramat penting agar anak terjauhkan dari perbuatan negatif yang tidak diinginkan bersama.

Meski terkadang remaja memahami itu semua secara logika, namun Ridwan mengingatkan bahwa masa remaja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor emosinya yang lebih dominan sehingga sikap imvulsif dengan melakukan tindakan tanpa dipikirkan terlebih dahulu menjadi lebih kuat daripada nalarnya dimana mereka sulit sekali melepaskan diri dari lingkungan pergaulan yang setiap saat mengajak mereka ketindakan negatif sebagai upaya menunjukkan keberaniannya dan mendapatkan sanjungan maupun pujian-pujian dari temannya dan untuk mendapatkan legitimasi dan penghargaan dari teman-temannya agar tidak disebut sebgai anak yang cemen semakin memperkuat si remaja melakukan hal yang negatif. Untuk itulah orang tua, harus bersaing dengan teman-teman si remaja dalam merebut simpati dan kepercayaan agar sang remaja mau membicarakan hal-hal sensitif kepada orang tua, disini pendekatan secara emosional sangat dianjurkan.

Tidak apa-apa orang tua mengalah mendengarkan keluh kesah anaknya daripada mereka melakukan hal yang negatif dan itu akan menjadi penyesalan bersama karena kata penyesalan itu selalu muncul diakhir bukan didepan. "agar orang tua juga bisa dijadikan panutan serta dapat menegakkan aturan yang tegas kepada remaja dengan kesepakatan bersama serta akan ada konsekuensi bila aturan ini dilanggar, namun prinsipnya orang tua jangan plin plan dalam menegakkan aturan sehingga nantinya tidak dapat dipegang dan jadi acuan bagi si remaja. Jadilah orang tua yang selalu ada bagi remaja, apa dan bagaimanapun kondisinya. Tetap semangat sebagai orang tua" tutup Ridwan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar