Berkunjung ke Candi Cangkuang Garut

Candi Cangkuang yang asri di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Garut (foto: Istimewa)

KBRN, Jakarta: Cuti bersama terkait dengan Maulid Nabi yang jatuh pada hari ini, Kamis(29/10) dimanfaatkan oleh sejumlah masyarakat untuk  berlibur kendati pandemi covid-19 menghantui. 

Salah satu lokasi yang tidak ada salahnya dimasukan kedalam daftar kunjungan adalah ke Candi Cangkuang. Dijamin, candi yang ada di Garut Jawa Barat ini instagramable selain menambah wawasan untuk putera puteri.

Berlama-lama di lokasi cagar budaya ini juga memungkinkan, karena wilayah ini bersih tertata rapi dengan toilet bersihnya.

Sebelum menuju situs yang berlokasi di tengah danau ini, pengunjung akan menyebrang dengan perahu rakit dari bambu, diiringi alunan musik gendang yang dimainkan pemusik lokal. Sambil menyantap jagung bakar, dan minum air kelapa muda, perjalanan jadi istimewa buat wisatawan.

Candi kebanggaan warga Garut ini ditemukan tahun 1966 oleh Tim Sejarah Leles, dan kini dikelola  Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).   

Candi Cangkuang menjadi candi terbesar  dan terawat di Jawa Barat. 

Di lokasi ini bukan hanya berdiri megah candi peninggalan Hindu dengan patung Siwa di dalamnya, tapi ada Kampung Pulo, kampung yang menjadi cikal bakal penyebaran Islam di Garut oleh Embah Arif Muhammad.

Saat susuri pasar wisata, toko nya tampak rapih jalanya bersih  lalu masuk ke lokasi dimana keturunan Embah Arif Muhammad, leluhur Kampung Pulo tinggal di satu lokasi. 

Dengan 6 rumah dan satu musholla,  kampung adat  ini terjaga  dihuni hingga keturunan yang ke-10 saat ini.

Sebagai kampung adat, beberapa aturan dijaga terus berlaku hingga kini dan itulah keistimewaannya. 

Aturan itu antara lain enam rumah yang ada di sana masing-masing harus dihuni oleh satu keluarga, jadi bila ada yang berkeluarga maka harus meninggalkan kampung. 

Tidak diperkenankan memelihara hewan berkaki empat, tidak boleh membunyikan gong besar, tidak boleh ziarah di hari Rabu.

Bila pergi bersama pemandu wisata, akan banyak informasi yang disampaikan mengenai jejak sejarah candi dan muasal penyebaran Islam juga  peninggalannya tersimpan di Museum Situs Cagar Budaya yang berlokasi tak jauh dari Candi Cangkuang.

Setelah melewati rumah adat,  sebelum menuju candi ada taman dan toilet umum yang tertata rapih dan bersih sehingga cukup membuat nyaman pengunjung, yang hendak beristirahat sejenak.

Zaki Munawar polisi khusus Cagar Budaya pada kesempatan kunjungan famtrip Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada Rabu (28/10)  mengungkapkan pembangunan taman yang dibiayai Pemda Garut dan menelan Rp 1 miliar masih akan dibuat kajian agar lokasi cagar budaya tetap terjaga keasliannya. Sehingga bangunan baru yang dibuat dapat mendukung program cagar budaya itu sendiri.

Menurut Zaki pembangunan yang dimulai sekitar tahun 2017 akan dilanjutkan dengan konsep lebih baik.

”Bangunan yang ada di kampung ini diupayakan berkonsep pada kearifan lokal agar tetap dapat menjaga tradisi kampung adat dan cagar budaya, ” ungkap Zaki.

Meski belum tuntas pembangunan tamannya, penikmat obyek wisata budaya ini tetap merasa nyaman, karena fasilitas umum utama  bagi wisatawan saat berada di obyek wisata yakni toilet bersih tersedia, selain taman yang nyaman untuk rehat setelah lelah berkeliling di lokasi ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00