PJJ Sebabkan Orangtua Lakukan Kekerasan Terhadap Anak hingga Meninggal Dunia di Tangerang, Ini Tanggapan KPAI

Foto: Istimewa

Oleh Komisioner KPAI Retno Listyarti 

Pertama, KPAI menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalkan seorang anak usia 8 tahun karena kekerasan yang dilakukan orangtuanya sendiri ketika mengalami kesulitan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online. Anak korban mendapatkan beberapa pukulan saat belajar online, diantaranya menggunakan gagang sapu.  

Pembelajaran jarak jauh memang membutuhkan bimbingan dan bantuan orangtua di rumah, menjadi tugas ayah dan ibu untuk mendampingi anak belajar dari rumah. Yang utama adalah keteraturan belajar, tidak harus dituntut bisa semua mata pelajaran dan tugas untuk diselesaikan dengan benar atau sempurna. 

Kesabaran orangtua membimbing anak-anaknya belajar di rumah selama pandemik Covid-19 menjadi modal utama agar anak tetap semangat belajar dan senang belajar. Kalau tidak bisa mengerjakan selalu dibentak apalagi dipukul, maka sang anak malah akan mengalami kesulitan memahami pelajaran. 

Kedua, KPAI sangat prihatin atas perbuatan kedua orangtua korban yang justru membawa jenazah korban menggunakan kardus ke Lebak dan dimakamkan sendiri secara diam-diam di TPU Desa Cipalabuh. Jenazah korban tidak dimakamkan secara layak dan sesuai ketentuan agama, hal tersebut dilakukan demi menutupi kesalahan pelaku yang merupakan orangtua kandung korban atau orang terdekat korban. 

Dalam UU 35 Nomor 2014 tentang perlindungan Anak, ada ketentuan jika pelaku kekerasan adalah orang terdekat korban. Maka pelaku bisa mendapat pemberatan hukuman sebanyak 1/3, dalam kasus ini tuntutan hukuman maksimal 15 tahun dan jika diperberat 1/3 menjadi 20 tahun. 

Ketiga, KPAI mengingatkan para orangtua  dan para guru selalu membangun komunikasi yang baik selama kegiatan Belajar dari rumah (BDR). Peran guru yang digantikan orangtua siswa haruslah dilakukan dengan memperhatikan tumbuh kembang dan kemampuan anak. 

Guru juga jangan memberikan penugasan yang terlalu berat, apalagi pada anak SD kelas 1-3 yang mungkin saja baru belajar membaca dan belajar memahami bacaan. Perlu dikomunikasi kondisi dan kesulitan yang dihadapi anak, karena setiap anak tidak sama.  

KPAI akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terkait pemenuhan hak pembelajaran dari sekolah anak korban yang ternyata juga memiliki saudara kembar dan bersekolah di sekolah yang sama dengan anak korban. Terkait saudara kembar korban, maka KPAI perlu memastikan pengasuh penganti selama kedua orangtuanya menjalani proses hukum. 

Selain itu, KPAI juga akan memastikan saudara kembar korban mendapatkan rehabilitasi psikologis dari P2TP2A Provinsi DKI Jakarta, karena kemungkinan besar melihat peristiwa kekerasan yang dialami ananda korban. 

Keempat, KPAI juga mengingatkan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak juga berkorelasi dengan perkembangan regulasi emosi anak dan perilakunya yang buruk di kemudian hari. 

Sebagai contoh, anak kehilangan kemampuan untuk menenangkan dirinya, menghindari kejadian-kejadian provokatif dan stimulus yang memicu perasaan sedih dan marah, dan menahan diri dari sikap kasar yang didorong oleh emosi yang tidak terkendali. 

Sikap kasar dan ketidakmampuan mengendalikan emosi yang ditunjukkan oleh orang tua tertransmisikan kepada anak melalui interaksi. Hal ini terjadi karena anak cenderung mengimitasi sikap orang tua yang mereka lihat. 

Orang dewasa yang pernah mengalami hukuman fisik berupa kekerasan ketika masih anak-anak memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan kekerasan terhadap pasangan atau anaknya sendiri, dan atau melakukan tindakan kriminal.

Percaya atau tidak, orang dewasa yang telah menderita perlakuan buruk atau pelecehan di masa kecil cenderung akan melakukan kekerasan tersebut pada anak-anak mereka sendiri. Masalah keuangan dengan mudah membuat orang tua merasa bahwa anak-anak mereka membebani mereka. 

Hal-hal ini menciptakan ketegangan, kemarahan dan frustrasi. Dalam fase ini, orang tua rentan untuk menyalahgunakan anak-anak mereka. 

Maka dari itu, usahakan untuk tidak mengikut campurkan urusan anak dengan masalah yang sedang orangtua hadapi. Bagaimanapun juga, anak merupakan tanggungjawab orangtua yang tidak seharusnya menjadi beban bagi mereka.

Meskipun mungkin ada situasi tertentu yang dapat mendorong orangtua untuk menjadi pelaku kekerasan terhadap anak, misalnya seperti ketika mereka tidak lulus dari sekolah menengah, ketika terjadi perceraian, ataupun ketika orangtua menganggur. Namun sekali lagi, perlu diingat bahwa masalah yang ada tidak akan selesai hanya dengan melakukan kekerasan terhadap anak.

Hal tersebut justru hanya akan menambah masalah yang ada.

Seperti diketahui, polisi sedang memeriksa pasangan IS (27) dan LH (26) atas kasus pembunuhan anak kandungnya berumur 8 tahun karena tidak bisa mengerjakan tugas saat pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Bocah kelas 1 SD itu mendapat kekerasan fisik dari LH ibunya, mulai dari tangan kosong sampai menggunakan gagang sapu. Karena ia tidak sabar mengajari anak perempuannya itu.

Peristiwa itu terjadi di rumah kontrakan mereka di Kecamatan Larangan, Tangerang pada 26 Agustus 2020 lalu. (RL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00