Virus Corona: Seberapa sulit meminta warga berdiam diri di rumah ?

KBRN, Jakarta: Orang yang pernah ke Indonesia, termasuk Jakarta sudah tahu kalau sejak lama warga Indonesia memiliki kehidupan sosial yang sangat tinggi.

Namun hari ini Jakarta terlihat berbeda. Jalanan dan restoran tidak seramai biasanya alias banyak yang kosong. Museum ditutup. 

Meski Kereta Rel Listrik masih penuh sehingga muncul kesangsian tidak efektifnya seruan social distancing dalam upaya menanggulangi penyebaran virus corona.

"Dibeberapa jalan, polisi teriak-teriak pakai TOA (pengeras suara, red) untuk meminta warga kembali pulang. Tapi kemana kesadaran masyarakat untuk mematuhi anjuran Pemerintah apakah harus diteriakin POlisi dulu baru mereka mau kembali?" tanya psikolog Tika Bisono pada Senin (23/3).

"Saya sudah minta kepada teman-teman di KSP (Kantor Staf Presiden, red) untuk menggerakkan 18 stasiun televisi dan 400 radio di Indonesia  menayangkan  Public Service Announcer,"tambah Tika yang menyaksikan sendiri betapa kurangnya tayangan berisi ajakan agar Bekerja dari rumah.

Sehari setelah disurati Pemerintah, pengusaha TV Kabel Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Cable TV Association (ICTA) menyatakan ikut membantu pemerintah mencegah penyebaran virus covid-19.

Salah satunya menurut Presiden ICTA, Faisal Ershad adalah "turut  serta  membantu  penyebaran  informasi  lokal  (ILM)  yang diproduksi  oleh Pemerintah Daerah masing-masing".

Produksi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) atau PSA yang dimaksud menurut Faisal berisi tentang membiasakan hidup bersih,  mengurangi kegiatan diluar hingga seruan agar konsultasi kesehatan jika mengalami gejala-gejala terdampak virus di tempat-tempat yang di tentukan pemerintah.

Apakah ada cara yang lebih efektif agar warga rela berdiam diri di rumah ? 

"Kalau dibilang paling tepat ya engga, kalau yang paling tepat ya karantina tetapi pemerintah tidak memenuhi hal itu karena repot," kata pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio. 

Menurut Agus Pambagio "bukan salah publik yang keras kepala, tetapi pemerintah disini juga tidak memiliki strategi untuk melaksanakan apa dengan segala resiko. Jika dilakukan karantina wilayah itu ada konsekuensi, Negara harus kasih makan atau harus memberikan bantuan sosial."

"Jika tidak mau lakukan itu tetapi harus tinggal dirumah ya sudah lakukan jika itu yang pemerintah mampu," jelasnya kembali.

Tidak jelas bagaimana aparat penegak hukum kata Agus Pambagio  akan menegakkan aturan bagi yang melanggar seruan tidak berkerumun meski sudah dilakukan secara sporadis tapi mereka kumpul lagi.  

Melihat gambaran apa yang terjadi di Italia, Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta Mujiono kuatir dengan kebiasaan orang Indonesia yang  bertemu bersama kawan kawan lain dalam sebuah perkumpulan akan memudahkan penularan.

"Imbauan sudah dilakukan. Tapi jika kebiasaan ketimuran yang tidak mudah jika diimbau masih juga  tidak patuh,  saya sempat berkelakar secara internal dalam satu grup Whatsapp perlu juga dipikirkan untuk mengerahkan  robot penyemprot air milik dinas pemadam kebakaran berkapasitas 2500 liter ke arah kerumunan orang,"pungkas Mujiono.

Sementara itu Pemprov DKI dalam laman media sosial resminya, dikutip di Jakarta menyebut hingga  Senin (23/3) sebanyak 1.512 perusahaan di wilayahnya telah menerapkan kerja dari rumah, demi menekan penyebaran virus Corona (COVID-19) di Ibu Kota.

“Sudah ada 1.512 perusahaan dengan total 517.743 tenaga kerja sudah mengizinkan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Terima kasih, teman-teman,” 

Dalam unggahannya, Pemprov DKI juga menyertakan tautan yang berisi nama-nama perusahaan tersebut yaitu di bit.ly/DataWFHDKI.

Pemprov DKI sekaligus meminta semakin banyak pihak yang terlibat dan bersolidaritas dalam upaya mencegah penularan COVID-19.

Sampai Minggu (22/3), DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah penderita COVID-19 tertinggi di Indonesia dengan 307 kasus dan dari jumlah itu 29 kasus meninggal dunia dan 22 kasus sembuh.

Total di waktu serupa, ada 514 kasus COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 29 kasus berhasil disembuhkan, sementara 48 kasus meninggal dunia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00