Mayoritas bahasa daerah yang tergolong rentan berasal dari kawasan timur

KBRN, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melakukan kajian terkait pelestarian atas 90 bahasa daerah pada periode 2011-2019. Mayoritas bahasa daerah yang tergolong rentan berasal dari kawasan timur.

Dalam enam kategori dalam data statistik Badan Bahasa tersebut, yakni kategori aman, rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, kritis dan punah. Kategori-kategori rentan atau di luar aman tersebut, mayoritasnya berasal dari kawasan timur Indonesia.

Misalnya, dalam kategori rentan atau diartikan jumlah penuturnya sedikit, ada 10 bahasa daerah dari Papua, 3 bahasa daerah dari Maluku dan 4 bahasa daerahdari Sulawesi yang rentan.

Begitu juga dalam kategori terancam punah. Kategori ini diartikan dimana penutur berumur 20 tahun ke atas jumlahnya sedikit, sementara generasi tua tidak berbicara kepada anak-anak atau di antara mereka sendiri.

Dalam kategori ini, dari 25 bahasa daerah yang terancam punah, sebanyak 12 di antaranya dari Papua, kemudian 4 bahasa daerah dari Sulawesi dan 3 bahasa daerah dari Maluku.    

Kemudian dalam kategori bahasa daerah yang punah. Maluku menjadi kawasan yang terbanyak bahasadaerahnya punah. Dari total 11 bahasa daerah yang teridentifikasi punah, sebanyak 9 bahasa di antaranya berasal dari Maluku. Diikuti kemudian oleh dua bahasa daerah dari Papua yang punah.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Hurip Danu Ismadi mengatakan, penyebab banyaknya bahasa daerah dari kawasan timur yang berada di luar kategori aman terkait dengan keadaan geografis suatu wilayah. Menurutnya, antar kampung yang ada di wilayah timur seringkali memiliki perbedaan bahasa, meskipun jarak antar kampung itu relatif berdekatan.

Ditambah lagi dengan faktor jumlah penuturnya yang sedikit menyebabkan suatu bahasa daerah menjadi rentan.

"Penduduknya sedikit, yang menjadi penerus sedikit dan tidak diwariskan. Ini yang menjadi rentan di daerah timur," ujarnya di sela-sela taklimat media peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, Jumat 21 Februari 2020.

Kondisi ini berbeda dengan wilayah barat. Bahasa daerah di wilayah barat dikatakannya relatif aman kelestariannya.

"Kalau di daerah barat, karena yang menggunakan bahasa daerah itu juga banyak dan upaya (pelestarian) yang dilakukan juga sangat baik, maka itu menjadi tidak rentan," tuturnya.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Sunendar mengatakan, bahasa daerah yang punah tidak menunjukkan penambahan dari riset terakhir yang dilakukan pada tiga tahun lalu. Menurutnya, kunci dari pelestarian bahasa daerahadalah masih ada penuturnya. Oleh sebab itu, upaya pelestarian bahasa daerah menjadi penting untuk dilakukan.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang bahasa daerahnya terbanyak di dunia. Sebanyak 17,4% warganya menguasai tiga bahasa. Persentase itu lebih unggul dari Israel yang sebesar 11,4% dan Spanyol 10,4%.

Ia mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait upaya pelestarian bahasa ini, mulai dari UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia.

Selain itu, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2017 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah juga ada. (IRV)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00