Suasana Jadul dan Terbang Palsu

KBRN, Jakarta : Menghadapi krisis penumpang berkepanjangan, maskapai di dunia harus cerdik ciptakan program baru yang pada era normal mustahil dilakukan. Garuda Indonesia menawarkan penerbangan nostalgia ke Belanda dan Jepang. Penumpang maupun wisatawan dari kedua negara itu, khususnya kaum dewasa dan lansia merasa masih punya hubungan emosional dengan Indonesia.  

Ada juga anak muda milenial Belanda dan Suriname yang orang tuanya pernah tinggal lama di sini, menyempatkan diri melacak jejak kehidupan moyangnya. Mereka pergi ke kota-kota kecil yang meninggalkan kenangan lama membekas.

Hebatnya anak muda ini bahkan fasih berbahasa Jawa hingga Jawa halus. Berbeda dengan anak generasi baru Suriname yang rata-rata bercakap dalam bahasa Jawa Ngoko atau Krama Madya. Kenangan seperti itulah yang coba digaet Garuda. Caranya Garuda menyiapkan pesawat terbaru badan lebar Boeing 737-800 Next Generation, dibalut logo lawas ‘‘Garuda Indonesian Airways’’  yang pernah digunakan tahun 1969-1985. Garuda sudah membuka penerbangan langsung ke Amsterdam sejak 1965 dengan pesawat Convair.  

Dalam rangka program ‘’Garuda Indonesia Vintage Flight Experience’’ ke Amsterdam dan Tokyo itu disiapkan pilot-pilot senior dan awak kabin yang mungkin juga fasih berbahasa Belanda dan Jepang. Menu makanan dan suasana penerbangan pun dikembalikan ke masa lalu. Tentu ini membutuhkan biaya tak sedikit, juga kerepotan administrasi yang tak sederhana untuk penggunaan kembali logo jadul itu.

Kehadiran acara ini dihadirkan pada 7-17 Desember 2018 lalu dalam penerbangan domestik ke Balikpapan dan Surabaya serta penerbangan Internasional ke Singapura. Sedangkan rute Jepang memiliki arti khusus karena seragam vintage awak kabin Garuda itu dirancang desainer Jepang terkenal Hanae Mori. 

Maskapai Korean Air juga hadirkan seragam vintage awak kabin. Kembali ke masa lalu atau mengubah suasana menjadi retro. Biasanya ini dilakukan untuk mengenang kejayaan dan suasana khas kala itu. Korean Air melakukan ini saat merayakan ulang tahun ke 50. Awak kabin yang menggunakannya disebut kader khusus  “Tim Seragam Sejarah”. 

KabarPenumpang.com menulis kader khusus ini juga ditampilkan untuk acara-acara khusus. Korean Air meningkatkan jumlah penerbangan khususdengan awak kabin berseragam vintage ini ke beberapa rute seperti Los Angeles, Tokyo, Beijing, Singapura, Paris dan Sydney.

Selama perjalanan digelar peragaan busana mengingatkan kita kepada Catwalk on the sky yang dilakukan maskapai Belanda KLM pada penerbangan mereka dari Amsterdam dan New York. Di situ KLM tampilkan seragam yang sudah dikenakan 100 tahun lalu. Sayangnya KLM hanya melakukannya sekali saja dan bukan sesuatu yang akan dialami banyak penumpang.

Terbang Tanpa Tujuan

Lain lagi kiat maskapai Australia berlambang kanguru, Qantas. Untuk mengobati warga yang sudah enam bulan rindu terbang, Qantas  tawarkan wisata di pesawat selama tujuh jam tanpa tujuan. Artinya pesawat akan terbang dan mendarat di bandara yang sama. Penumpang dibawa berkeliling benua Australia tanpa singgah. Program ini disebut  ‘’Great Southern Land’’ menggunakan pesawat Dreamliner Boeing 787 mutakhir yang biasanya dipesan untuk penerbangan jarak jauh internasional Perth-London. 

Dengan jendela besar khas Dreamline, para penumpang dapat melihat secara jelas berbagai landmark Australia. Tentu pesawat ini tidak harus terbang 35.000 kaki seperti biasa. Selama tujuh jam itu pesawat melintasi tempat-tempat unik di Australia, misalnya Queensland, Northern Territory, New South Wales, termasuk  Great Barrier Reef, Uluru, Kata Tjuta, Byron Bay dan Sydney Harbour yang ikonik itu. Penerbangan khusus ini berangkat dengan nomor penerbangan QF787 dari bandara Sydney.

Di Jepang, maskapai penerbangan All Nippon Airways (ANA) juga membuka penerbangan tamasya tanpa tujuan menikmati sensasi pesawat  termodern Airbus A380 yang dikenal dengan sebutan ‘’Flying Honu’’. Simple Flying menulis Airbus itu mengangkut 334 penumpang dari Bandara Narita dan mendarat kembali di sana 90 menit kemudian. Para penumpang juga bisa memilih pengalaman berwisata di Hawaii tanpa menginjakkan kaki di sana.

Beragam aksesori melengkapi pesawat ini misalnya kursi dengan desain penyu raksasa. Penumpang yang beruntung melalui undian boleh duduk di kursi tersebut. Pesawat pun dicat biru untuk mewakili langit Hawaii. Selain itu para kru kabin juga berkemeja corak Hawaii.

Royal Brunei maskapai milik kerajaan Brunei Darussalam,  menawarkan penerbangan tanpa tujuan atau flight to nowhere. Maskapai ini telah menjalankan lima penerbangan sejak pertengahan Agustus 2020. Paket wisata ini bertajuk ‘’Dine & Fly’’. Penumpang  tidak diwajibkan pakai masker karena kasus Covid-19 di Brunei sangat sedikit. 

Hanya para anggota staf di darat yang tetap wajib memakai masker. Perjalanan berlangsung singkat hanya 85 menit. Selama terbang disajikan masakan lokal seperti nasi lemak khas Brunei dengan ayam goreng atau ayam masak kunyit kedayan dengan nasi. Untuk hidangan penutup, disajikan gula sago melaka dan buah segar.

EVA Air asal Taiwan  tak mau kalah, memperkenalkan paket  terbang Hello Kitty. Penerbangan  tidak bertujuan ini mengudara sekitar tiga jam dan akan mendarat kembali di bandara Taoyuan Taipei. Dikutip CNN Travel, perjalanan khusus ini untuk membantu memuaskan rasa rindu para pelanggannya. Penumpang bisa menikmati pemandangan daya tarik Taiwan, misalnya Pulau Guishan dan garis pantai Huadong yang indah. Bahkan pulau-pulau lain di sekitarnya juga terlihat.  

EVA Air masuk daftar maskapai terbaik di dunia versi  ‘ Travel and Leisure’. Selama penerbangan WiFi gratis, plus paket hiburan yang biasanya tersaji hanya pada penerbangan jarak jauh. Para penumpang juga menikmati hidangan berbintang Michelin yang dibuat koki bintang tiga Michelin, Motokazu Nakamura.

Tentu Singapore Airlines tak mau ketinggalan. Maskapai yang sering menyabet penghargaan tinggi Skytrax ini dilaporkan Lonely Planet, untuk memulihkan pendapatan perusahaan yang hilang karena pandemi Covid-19. Penerbangannya selama tiga jam tentu melampaui batas negeri. Pesawat berangkat dan kembali ke Bandara Changi. 

Dibagikan pula voucher untuk membangkitkan pariwisata. Meski penerbangan hanya berputar-putar dan tidak jauh, setidaknya penumpang sudah menikmati sensasi terbang dari bandara Changi yang merebut gelar terbaik dunia selama delapan tahun berturut-turut.

Terbang Palsu

Eva Air ternyata juga mengenalkan “Fake Flight” atau terbang palsu dan ‘Menu Pesawat To Go’ alias makanan bisa dibawa pulang. Banyak penumpang setia dan terbiasa bepergian dengan pesawat ketagihan terbang. Suasana dalam pesawat terbang, bagi banyak orang memiliki kesan tersendiri. Nah terbang palsu (fake flight) tetap menerapkan semua prosedur penerbangan, seperti pemeriksaan barang, proses check-in, sampai antri masuk ke dalam pesawat melalui garbarata, dan mencari tempat duduk sesuai nomor kursi.

Setelah semua penumpang beroleh tempat duduk, pramugari juga memeragakan cara dan alat keselamatan terbang, lengkap pengumuman akan terbang dan penjelasan pilot tentang rute penerbangan. Mesin pesawat pun dihidupkan, namun tidak ada gerakan mundur menuju landas pacu. Pesawat ini tidak akan lepas landas dan hanya melakukan simulasi.

Di bandara Taipei, ibukota Taiwan, ada sekitar 7.000 orang yang memesan tiket. Tapi karena kapasitas pesawat terbatas, dilakukan pengundian untuk 60 penumpang pada setiap penerbangan dengan pesawat Airbus A330. Para peserta menjalani pemeriksaan keamanan, pemeriksaan identifikasi dan prosedur imigrasi lainnya, kemudian mereka benar-benar naik pesawat untuk merasakan asyiknya boarding.

Pada kesempatan lain Eva Air menawarkan penerbangan lainnya bertepatan dengan Hari Ayah dengan motto: "Aku Sayang Ayah". Ini bukan penerbangan palsu, tetapi penerbangan keliling pulau Taiwan. Seluruh 309 kursi di Airbus A330 dengan corak khusus Hello Kitty itu terjual habis hanya dalam beberapa menit. Penerbangan dimulai dari Bandara Internasional Taoyuan Taipei, lalu pesawat terbang melingkar sekitar pulau dan memasuki wilayah udara Jepang sebelum kembali ke lokasi awal. Durasinya sekitar tiga jam. Harga tiketnya sekitar 180-210 dolar AS. Selama perjalanan, penumpang disajikan menu makanan dari koki terkenal, Motoke Nakamura.

Makanan Dibawa Pulang

Perusahaan katering penerbangan juga punya model bisnis baru yakni menu pesawat “to go”. Salah satunya dilakukan Gate Gourmet yang berbasis di Swiss - perusahaan katering penerbangan terbesar di dunia. Cabang perusahaan ini di Australia mulai menawarkan menu pesawat yang bisa dipesan secara online. Makanan itu sudah dibekukan, dan di rumah bisa dipanaskan lagi dalam microwave dan siap disantap.Menunya mulai dari kari daging sapi dengan nasi atau ayam dengan kentang goreng, seperti menu  yang umumnya dihidangkan di udara.

Kreativitas lainnya juga dicoba Air Asia dengan membuka sebuah restoran di Kuala Lumpur khusus menyajikan hidangan terlaris dari menu pesawat. Mereka melihat minat yang besar masyarakat ingin menikmati menu makanan pesawat di luar penerbangan.  Manajer Catherine Goh berencana  membuka cabang lain di bawah merek “Santan”.

Menu favorit Air Asia hingga kini adalah Nasi Lemak Pak Nasser, yang disajikan dengan pasta cabai, kacang tanah, ikan teri, dan telur rebus. Hampir tiga juta porsi bisa dijual dalam setahun dalam pesawat. Sekarang, hidangan ini disajikan untuk konsumsi di darat dengan harga di bawah 4 dolar.

Begitulah berbagai upaya dilakukan untuk menjaga maskapai tetap bertahan. Hasilnya tak selamanya menghasilkan laba, tetapi setidaknya menjaga layanan terhadap pelanggan setia, dan mereka yang selalu rindu terbang. Beruntung masih ada bisnis kargo yang lolos dari cegatan pandemi, namun sejatinya maskapai penerbangan sudah berdarah-darah. Entah bisa bertahan sampai kapan mereka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00