Ada Pasar Unik dan Inovatif

KBRN, Jakarta : Tak semua pasar rakyat kumuh dan bermuram durja. Banyak pasar legendaris yang semula kotor dan amburadul berhasil diubah bersih dan nyaman. Metamorfosa ‘kerumunan perdagangan’ ini bahkan berhasil menjadi jujugan wisatawan domestik maupun asing. Pasar yang seperti ini terdapat merata di banyak kabupaten dan kota, berkat tangan dingin para pemimpin daerahnya.    

Ambil contoh Pasar Manis di Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Pasar ini menyabet gelar sebagai pasar paling inovatif se-Indonesia. Penghargaan itu diraih pada lomba inovasi daerah dalam rangka persiapan tatanan normal baru yang produktif dan aman dari Covid-19.

Pasar Manis menerapkan protokol pencegahan dengan baik, berupa penyediaan fasilitas cuci tangan dengan sabun, pemasangan rambu arus keluar-masuk pengunjung, menyediakan petugas yang mengingatkan pengunjung agar selalu memakai masker.

Pasar ini berawal dari pasar rakyat biasa di pusat Kota Purwokerto, Banyumas. Pada 2018, pasar ini mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia Pasar Rakyat SNI 8152-2015, menjadikannya percontohan untuk pasar lainnya di karesidenan Banyumas. 

Pasar Manis mempunyai nilai penting karena peletakkan batu pertama dan peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Boleh jadi baru satu inilah pasar tradisional yang berstandar SNI.

Para pelaku dan pedagang pasar juga memberikan pelayanan terbaik pada pembeli. ‘Hospitality’ khas pasar ini juga dapat dirasakan di Pasar Gede Solo, maupun pasar sejenis di Jogja dan Karanganyar.

Selama pandemi Pasar Manis menerapkan jalur satu arah, sehingga tidak ada kerumunan akibat lalu lalang pembeli. Selain itu pengelola pasar juga mengatur jarak antarpedagang berikut pembayaran non-tunai. 

Penilaian meliputi aspek standar operasional prosedur (SOP), fasilitas pasar, manajemen pengelolaan, dan administrasi. Selain bersih dan rapi, sirkulasi udara bagus sehingga tak berbau apak, zonasi penataan pedagangnya juga cukup berdisiplin. Pasar juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti aula pertemuan, ruang laktasi dan fasilitas untuk kaum disabilitas.

Kepala Pasar Manis Purwokerto, Sudono Yoso, mengatakan pasar dilengkapi dengan pusat kuliner, sehingga pasar tetap beroperasi sampai malam hari. Di lokasi itu juga kerap digelar hiburan rakyat. Saat ini ada 512 pedagang. Jumlah pengunjung dalam sehari bisa ribuan, apalagi kalau sedang musim liburan.

Hadiah bagi gelar pasar paling inovatif adalah kucuran dana Rp 3 miliar dari pemerintah. Pasar Manis mengungguli ratusan pasar lainnya di seluruh Indonesia.  Samarinda di Kalimantan Timur pernah punya pasar kerajinan, yang rancang bangunnya terbaik se Asia Tenggara. Tetapi tak bertahan lama, pasar ini runtuh karena kurang peminat.

Pasar Unik Terbaik

Pasar selain menjadi tempat transaksi jual beli berbagai barang, juga tempat eksotis yang sering dijadikan destinasi wisata. Salah satu yang unik dan favorit menjdi spot video dan fotografi adalah Pasar Apung di Sungai Kuin di  Banjarmasin.  

Pasar ini tidak berdiri di darat melainkan mengapung di atas air sungai. Pedagang dan pembelinya sama-sama bertransaksi di atas sungai. Warna-warni perahu, busana penjual, dan berbagai dagangannya menyajikan panorama indah. Banyak pengunjung datang karena ingin merasakan naik perahu sambil jajan. Namun pasar ini hanya berkegiatan pagi hari, sebelum matahari begitu terik atau turun hujan. Ada beberapa lokasi pasar seperti ini, baik yang di pusat kota maupun sedikit di hulu sungai.

Keunikan lainnya ada di Tomohon, pasar paling terkenal di Manado, Sulawesi Utara. Pasar ini dikenal menjual berbagai daging ekstrem yang bukan jenis daging konsumsi seperti daging sapi atau kambing.

Di Pasar Tomohon terdapat kios - kios yang menjual daging kucing, tikus, kelelawar, bahkan daging ular yang siap dimasak. Pemandangan ini sangat tidak lazim bagi jika dibandingkan dengan pasar-pasar biasa. Tak sedikit wisatawan yang penasaran dengan suasana pasar ini, namun banyak juga yang langsung merasa mual serta jijik.

Di Banda Aceh juga terdapat banyak pasar tradisional, salah satunya di Peunayong. Pasar ini pusat perdagangan tersibuk di kota Banda Aceh. Aktivitasnya makin padat ketika tiba tradisi Meugang yakni tradisi membeli daging menjelang lebaran, menyebabkan Aceh sebagai konsumen daging sapi terbesar di Indonesia saat tertentu.

Pasar yang terletak di pinggir sungai Aceh ini menyediakan sayuran, ikan segar hasil tangkapan nelayan Lampulo yang terkenal sebagai Tempat Pendaratan Ikan terbesar di Banda Aceh. Sebagian besar pedagang masih menjual dagangan dengan cara digelar di pinggir jalan.

Di Jogjakarta, pasar Beringharjo mungkin jadi salah satu tujuan yang harus disambangi saat menjejak di Kota Pelajar ini. Pasar ini merupakan pasar tertua yang sudah ada sejak tahun 1925. 

Nama Beringharjo dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono IX karena dahulu kawasan ini adalah hutan beringin. Namanya juga mengandung makna hutan beringin yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Jogja. Di pasar ini dijual berbagai kebutuhan harian mulai pakaian, kain batik, kerajinan dan juga deretan kuliner enak. Ada gudeg, pecel, gethuk dan jajanan lain, semuanya murah meriah.

Di Bali terdapat banyak pasar seni terbaik, antara lain Pasar Sukowati dan Pasar Ubud. Banyak karya seni dipajang, nyaris seperti pameran atau museum. Tempatnya luas dan sangat siap menampung rombongan besar menggunakan bus maupun mobil pribadi.

Di Jayapura ada pasar tradisional yang cukup terkenal, namanya ‘’Pasar Mama-mama’’. Dahulu pasar ini menampung penjual tradisional dari berbagai daerah di Papua. Kini pasar Mama-mama sudah tampil lebih modern dengan bangunan permanen namun komoditas barang dagangannya masih tetap sama.

Berbagai bahan pangan mulai dari ketela, umbi hingga sayuran. Berlokasi di ujung Timur Indonesia, pasar Mama-mama ini terbilang bagus dan rapi. Kios-kios dagangan juga tampak nyaman disambangi para pembeli. Tak hanya sayuran, hasil kerajinan tangan masyarakat juga tersedia mulai koteka, tas anyaman hingga oleh-oleh khas Papua. 

Di Wamena juga terdapat pasar tradisional di ketinggian lebih 2.000 meter di atas muka laut. Pasar ini dulu memberlakukan transaksi tukar-menukar barang (barter), mirip dengan pasar di daerah perbatasan. Pedagang pasar Wamena umumnya bertelanjang dada atau berkoteka. 

Mereka hanya mengenal ‘’uang merah’’ yakni rupiah yang berwarna merah. Jika dulu hanya dikenal uang kertas Rp 100,- maka sekarang yang berwarna merah hanya Rp 100.000,-an, kelipatannya seribu kali. Setelah Wamena semakin terbuka, pasar itu menjadi pasar yang lebih tertata rapi dan tidak lagi berlaku barter.

Apapun masalah yang menghadang pasar rakyat, sejatinya kita tak akan pernah meninggalkannya. Pasar adalah budaya rakyat yang tak mengenal lelah dan jedah. Ia selalu ada seperti matahari terbit menerangi jagat raya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00