Jerit Pasar Rakyat Didera Pandemi

KBRN, Jakarta : Tragedi terbakarnya pasar tradisional masih berlanjut. Tragedi itu selalu muncul setiap saat, dan cenderung terus meningkat dan meluas ke seluruh penjuru negeri. Ibarat virus covid19, kebakaran pasar sudah jadi pandemi dengan kerugian ekonomi yang tak kecil.

Dalam waktu empat tahun saja (2007-2011) menurut IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) jumlah pasar tradisional turun drastis, dari 13.540 pasar hanya tinggal 9.950 pasar. Pada tahun 2011 saja ada 161 pasar yang ludes terbakar,  dan 144 lainnya terlibat konflik dengan pengembang baru akibat revitalisasi. Sampai saat ini terdapat 12,6 juta orang lebih yang bergiat di berbagai pasar tradisional, dan jumlah ini diperkirakan akan terus mengempis sejalan dengan menyusutnya jumlah pasar..

Data lain dari Kementerian Perindustrian 2007 jumlah pasar tradisional masih berkisar 13.750 pasar. Data ini berselisih 210 pasar lebih banyak dari data IKAPPI yang mencatat 13.540 pasar. Sedangkan bila kita merujuk data Kementerian Perdagangan 2011, dari sekitar 9.950 pasar tradisional, sebanyak 3.800 di antaranya telah lenyap.

Bencana ini telah hadir dengan nyata. Ekspansi pasar modern yang berkembang pesat di kota-kota besar, telah menggusur eksistensi pasar tradisional. Namun pasar modern tak sepenuhnya jadi predator, karena banyak pedagang eks pasar tradisional sukses bermigrasi ke pasar modern, dan meningkat skala ekonominya.

Tidak semua pasar modern merupakan entitas baru yang dibentuk terlepas dari pasar yang sudah ada. Sejumlah pasar legendaris seperti Pasar Beringharjo di Jogja dan Pasar Besar dan Pasar Klewer di Solo, sesungguhnya buah modernisasi manajemen pasar modern, tanpa meninggalkan atmosfer pasar lama. Inovasi pemerintah daerah setempat, baik secara mandiri maupun menggandeng swasta, mampu mengubah wajah pasar yang semula kumuh menjadi lebih nyaman dan indah.

Pasar Manis di Purwokerto misalnya, dulu merupakan pasar lama yang kumuh. Kini berwajah baru yang pengelolaannya dianggap terbaik di Indonesia. Pasar ini juga popular disebut sebagai ‘’pasarnya Jokowi’’, seperti halnya Pasar Gede Solo.

Mall Tumbuh Pesat 31,4%

Jokowi tergolong presiden yang paling suka blusukan ke pasar. Bahkan banyak tamu negara yang berkunjung ke Jakarta, diajaknya masuk-keluar pasar Tanah Abang. Kebiasaan Presiden ini langsung atau tidak mengangkat pamor pasar sebagai wahana ekonomi rakyat menengah ke bawah. Pasar adalah tempat berdialog dan bercanda dengan rakyat. 

Ruap-ruap aroma dagangannya, celoteh para pedagangnya, dan keseruan tawar-menawarnya, menimbulkan ‘kerinduan yang khas’ bagi sebagian orang di daerah. Ini berbeda dengan warga kota besar yang lebih akrab dengan suasana mall atau toserba sejuk berpendingin.

Data Badan Pusat Statistik 22 Februari 2019 mencatat pada tahun 2018 terdapat 708 pusat perbelanjaan seperti mall. Jumlah terbanyak ada di Jawa Barat, disusul DKI Jakarta, Jatim, Jateng, Banten. Berikutnya provinsi yang memiliki pusat perbelanjaan adalah Sumut, Aceh, Riau, Sulsel, Lampung, Kalbar, Bali, Kaltim, Jambi, Riau, Sumsel, Yogyakarta, Kalteng, Sulut, Kalsel, Sumbar, Papua, Sulteng, Sultenggara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Kaltara, Bangka Belitung, Papua Barat, Bengkulu, Sulbar.

Pusat perbelanjaan di Indonesia yang 708 itu kini sangat memerlukan pengelolaan yang lebih kreatif untuk dapat menarik minat pengunjung menghadapi penetrasi belanja online yang luas dan massif. Jumlah 708 itu setara dengan 4,45% dari total pusat perdagangan yang eksis di masyarakat. Sementara pasar tradisional masih mendominasi pusat perdagangan publik, yakni mencapai 14.182 unit (88,52%) sedangkan toko modern sebanyak 1.131 unit (7,06%).

Data Colliers International menunjukkan akan ada penambahan tiga pusat belanja di Jakarta dan tiga di Bodetabek. Tambahan itu diprediksi mencapai luasan lahan sekitar 60 hektare pada kurun 2019-2021. Sebanyak 70% di antaranya berada di ibukota Jakarta.  Saat ini pusat perbelanjaan terbanyak terdapat di Jawa Barat (139 unit), DKI Jakarta (80 unit), dan Jawa Timur (65 unit). Sementara di sisi lain terdapat daerah yang belum memiliki pusat perbelanjaan, yaitu Sulawesi Barat.

Jumlah ini belum terhitung pusat-pusat grosir yang sebagian dimiliki asing. Pandemi yang sudah berjalan lebih setahun dan habit belanja yang berubah, menempatkan mall di tubir jurang kebangkrutan. Budaya belanja online yang tak perlu ke luar rumah, menjadi ancaman badai bagi pengelola gedung-gedung besar pusat belanja.   Secara umum dapat ditarik kesimpulan, pertumbuhan pasar modern mendesak pasar rakyat. Ini terbukti dengan pertumbuhan minus 8,1% pasar rakyat berbanding 31,4% pertumbuhan positif pasar modern.

Alasan Klasik Terbakar

Hal yang masih memrihatinkan, sekitar 9.000 pasar rakyat atau sekitar 70% bangunannya sudah renta dan lebih 20 tahun tidak tersentuh renovasi. Pasar-pasar tua ini bukan hanya tak menarik dikunjungi, tetapi juga sewaktu-waktu terancam kebakaran. Apalagi bila lokasi pasar ini begitu strategis di tengah karamaian kota atau desa. Ancaman berikutnya adalah rekayasa buruk menggusur pasar itu digantikan pasar baru atau utilitas properti  lain yang ‘’lebih menguntungkan’’

Bukan rahasia bila pasar rakyat menjadi incaran investor dan pemimpin daerah yang mabuk modernisasi. Faktanya banyak pasar rakyat terbakar habis tanpa pernah diketahui siapa pelakunya. Jangankan ditangkap dan dihukum, acapkali kebakaran pasar bertahan sebagai ‘misteri abadi’.

Penyebabnya yang umum adalah kosleting listrik, kompor pedagang ngebros, puntung rokok tertinggal, kipas angin lupa dimatikan, atau kios tutup karena pedagangnya mudik. Berbagai alasan klasik yang remeh ini cukup ampuh mengaburkan masalah yang sebenarnya, sehingga publik terpaksa bisa menerima tanpa bisa memrotes.  

Contoh paling ironis adalah terbakarnya pasar grosir terbesar di Indonesia yaitu Pasar Turi di Surabaya. Konon pasar ini sengaja dibakar karena polisi menemukan dua botol bensin di sudut-sudut pasar. Padahal hanya 100 meter di depan Pasar Turi berdiri markas besar Armada Pemadam Kebakaran. Bagaimana mungkin tak seorang pun mengetahui asal-usul api. Pasar Turi yang legendaris ini akhirnya mangkrak belasan tahun. Para pedagangnya semburat di pasar lain, sementara yang berada di kios-kios penampungan tak mampu bertahan. Habis sudah entitas dan atmosfer Pasar Turi.  

Pasar yang terbakar banyak yang dibangun kembali secara modern. Tetapi para pedagang lama terpental dari lokasi ini, karena tak mampu membayar harga stan, atau komoditas dagangannya (ayam potong hidup, ikan basah, dll) tak bisa diterima lagi. Perubahan budaya dari pasar rakyat menuju pusat belanja modern tidak serta-merta berjalan mulus.

Di lokasi barunya, pedagang harus ‘berpuasa’ berbulan lamanya untuk menyesuaikan diri. Ini akan menimbulkan pengorbanan finansial dan waktu yang tidak sedikit. Sebagian pedagang tak sanggup bertahan. Mereka terpaksa mundur dengan menjual atau menyewakan stan-stannya. Itupun susah mencari pembeli bila ternyata pasarnya sepi.  

Jakarta Juga Sama

Kota besar sekelas Jakarta pun tak lepas dari kebakaran pasar. Hanya dalam empat hari, dua pasar besar di Jakarta hangus yaitu Pasar Inpres Blok C, Pasar Minggu, pada Senin 12 April malam. Kebakaran terjadi sekitar pukul 18.30 WIB menghanguskan 300 tempat usaha dengan total kerugian kurang lebih mencapai Rp 2 miliar. Sebelumnya, Kamis 8 April malam, Pasar Kambing, Tanah Abang lebih dulu terbakar. Dua kebakaran tersebut diduga disebabkan (alas an klasik) kosleting listrik.

Kepada Republika.com, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Pemprov DKI perlu mempertegas supervisi aliran listrik. Kebakaran sering disebabkan hubungan pendek listrik. Ini umum terjadi di perumahan padat dan bangunan tua seperti pasar.

Banyak pula lokasi di Jakarta sulit diakses mobil pemadam kebakaran, sebab jalan ditutup akibat pandemi Covid-19. Perlu dibentuk satgas di pasar maupun permukiman padat yang terlatih dan mampu mengantisipasi bahaya kebakaran.

Selain dua pasar tersebut jago merah juga menyikat habis rumah petak di Jalan Pisangan Baru III, Matraman, Jakarta Timur, Kamis 25 Maret mengakibatkan 10 orang meninggal dunia lantaran tak sempat menyelamatkan diri. Berselang dua pekan kemudian, Pasar Kambing, Tanah Abang, Jakarta Pusat meski tidak menimbulkan korban jiwa. Kerugiannya miliaran rupiah karena 136 lapak dan 40 kios jadi abu.

Ketua DPW Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) DKI Jakarta, Miftahudin, menyebut berbagai kebakaran pasar ini jadi peringatan PD Pasar Jaya soal potensi kebakaran di pasar lainnya. Ia pun meminta PD Pasar Jaya segera mencari solusi, salah satunya menyiapkan alat pemadam dan kewaspadaan kebakaran secara dini.

Begitulah di satu pihak keberadaan pasar rakyat sangat dibutuhkan, di pihak lain seakan tak terurus. Pasar yang manapun, dalam kondisi apapun, akan tidak siap menghadapi raksasa api yang bisa mendadak menyergap dan menghanguskan segalanya. Para pedagangnya akan menderita, konsumen dan pemasok barang semburat, Pemda pun akan nihil pendapatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00