Bandariksa ‘Cape Canaveral’ Dirancang di Biak

KBRN, Jakarta : Selain mengembangkan drone militer, Indonesia juga bersiap memasuki era antariksa dengan menyiapkan sebuah kompleks bandar antariksa (Bandariksa) atau disebut juga ‘kosmodrom’. Projek ini berupa fasilitas peluncuran roket seperti Cape Canaveral di Florida, Amerika Serikat.

Pemerintah juga telah mengeluarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2017 tentang rencana induk keantariksaan yang di dalamnya mencantumkan rencana pembangunan bandar antariksa. Mengingat projek bandar antariksa besar investasinya, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menyiapkan dua pilihan pembangunan.

Skenario pertama, membuat bandar antariksa kecil untuk uji luncur roket yang sedang dikembangkan LAPAN, yakni roket bertingkat. Untuk proyek ini, LAPAN tinggal memanfaatkan lahan seluas 100 hektare di Biak. Setidaknya itu dulu agar bisa digunakan untuk peluncuran atau pengujian roket yang dikembangkan LAPAN. Diharapkan nanti ada mitra nasional dan internasional yang juga berminat menggunakan fasilitas itu untuk peluncuran roket-roket kecilnya.

Skenario kedua, yaitu bandar antariksa skala besar atau bandar antariksa internasional. Projek ini belum ditentukan tempatnya karena masih bergantung mitra internasional yang akan ikut membangunnya. Bisa jadi di Biak atau mungkin di lokasi lain. Dikabarkan bos pabrik mobil elektrik Tesla, yang juga orang terkaya di dunia, Elon Musk, pernah melakukan pembicaraan via telpon dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Konon Presiden sempat menyinggung  rencana Indonesia membangun bandar antariksa. 

Tempat Ideal di Khatulistiwa

Konkretnya, projek kedua yang besar itu akan mirip Stasiun Angkatan Antariksa Cape Canaveral (Cape Canaveral Space Force Station, CCSFS)  yang disebut juga Stasiun Angkatan Udara Cape Kennedy pada 1963-1973. Pangkalan ini milik Angkatan Antariksa Amerika Serikat yang berada di Cape CanaveralCounty BrevardFlorida

Wikipedia mencatat banyak misi penjelajahan angkasa milik AS diluncurkan dari pangkalan ini, termasuk Explorer 1 (membawa satelit AS pertama), Mercury-Redstone 3 (astronaut AS pertama), Mercury-Atlas 6 (astronaut AS pertama di orbit), Surveyor 1 (penerbangan tak berawak pertama ke bulan), serta misi-misi lainnya yang mencapai Mars, Venus, Saturnus, Merkurius, dan keluar dari Tata Surya. Sebagian pangkalan ini dijadikan penanda sejarah nasional (National Historic Landmark) karena terkait sejarah awal program luar angkasa Amerika Serikat.

Bandar antariksa (bandariksa) atau pusat peluncuran luar angkasa ini membutuhkan lahan cukup luas dan aman agar jika sebuah roket meledak, tak akan membahayakan manusia di sekitar lokasi peluncuran. Lokasi yang dipilih umumnya dekat khatulistiwa ke arah timur agar dapat memanfaatkan kecepatan rotasi bumi secara maksimum, untuk menuju sebuah orbit geostasioner.Hal ini juga akan meningkatkan rasio massa terhadap orbit. Untuk orbit-orbit kutub atau Molniya, aspek-aspek ini tidak berlaku. Demi keselamatan, sebuah jalur peluncuran di atas air atau tanah kosong sangatlah penting.

Informasi LAPAN yang dicatat BBC News Indonesia, menyebutkan kini tengah disiapkan kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) atas proyek yang diharapkan menjadi bandariksa pertama di Indonesia dan Asia Pasifik ini. Diperkirakan pada 2024 sudah bisa diwujudkan fasilitas peluncuran roketnya. Kajian tentang bandar antariksa sudah dimulai 40 tahun lalu. Namun karena berbagai kendala, belum bisa dilaksanakan. Pada 2013 Undang-Undang Keantariksaan disahkan dengan salah satu amanatnya adalah melaksanakan kegiatan peluncuran roket antariksa.

Ditolak Warga Adat

Pemerintah meyakini pembangunan kosmodrom di Biak akan memberi dampak pada lingkungan. Alih-alih merusak lingkungan, proyek ini justru membawa modernisasi bagi warga Biak. Sebagian besar lahan awal 100 hektar terdiri atas hutan. Hutan ini sebagian akan dikonversi untuk aktivitas-aktivitas pengganti yang akan melibatkan masyarakat Biak.

Bandar antariksa skala kecil itu tak akan membabat habis hutan 100 hektar tersebut. Ada area yang akan dijadikan penyangga untuk zona aman bagi masyarakat setempat. LAPAN sudah melakukan kajian langsung di Jepang ada bandar antariksa kecil di Uchinaura yang luasnya hanya 70 hektare, artinya dengan 100 hektare itu sudah memadai untuk lokasi peluncuran roket kecil.

Keberadaan bandariksa, dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan akan menggairahkan industri pendukung keantariksaaan, seperti industri satelit, pariwisata, dan pendidikan antariksa/dirgantara. Masyarakat pun akan berubah menjadi masyarakat yang lebih modern.

Nilai-nilai tradisional tetap terjaga, meskipun tidak harus bergantung pada pola kehidupan seperti yang digambarkan seperti hutan sebagai tempat berburu, tempat bercocok tanam. Pola kehidupan akan berubah dengan masuknya industry modern di Biak.

Pemerintah Biak Numfor pun mendukung rencana LAPAN, dengan menyebut proyek ini akan membawa manfaat positif pada perekonomian warga dan pendapatan daerah. Namun dalih ini ditampik oleh Apolos Sroyer, pemimpin kepala suku di Biak. "Tidak bisa kita hanya bicara pendapatan daerah, terlalu sempit. Itu pemikiran kuno. Kita harus berbicara tentang proyek yang berwawasan lingkungan dan masyarakat adat," katanya.

Bandariksa yang eksis di dunia sekarang terbanyak berada di Amerika Utara. Sebagian besar di kawasan dekat ekuator yaitu Kalifornia, dan dimiliki Amerika Serikat. Kompleks terbesar adalah Pusat Luar Angkasa Kennedy, juga di Pulau Merritt, Florida. Disusul berikutnya bandariksa Markas Angkatan Udara VandenbergKaliforniaKompleks Peluncuran KodiakKodiak Island BoroughAlaskaBandara Meadows FieldBakersfieldKaliforniaPelabuhan Angkasa MojaveMojaveKaliforniaPelabuhan Angkasa OklahomaBurns FlatOklahomaPelabuhan Angkasa Southwest RegionalUphamNew Mexico

Di Amerika Selatan terdapat bandariksa AlcantaraMaranhão, di Brasil; dan Centre Spatial Guyanais di KourouGuyana Prancis. Di Asiaterdapat Kosmodrom BaykonurTyuratamKazakstanKosmodrom PlesetskRusiaPusat Peluncuran Satelit JiuquanCinaPusat Peluncuran Satelit TaiyuanCinaPusat Peluncuran Satelit XichangCinaPusat Luar Angkasa TanegashimaPulau TanegashimaJepangPusat Luar Angkasa UchinouraJepang; dan bandariksa Pelabuhan Angkasa Pulau ChristmasAustralia

Rusia Samarkan Lokasi

Selain AS, Rusia memiliki Kosmodrom Baykonur yang juga disebut Tyuratam. Fasilitas peluncuran luar angkasa tertua dan terbesar ini masih beroperasi. Awalnya ia dibangun Soviet dan kini berada di bawah pengawasan Rusia, meski terletak di Kazakhstan. Letaknya sekitar 200 km di sebelah timur Laut Aral, di tepi utara Syr Darya, dekat kota Tyuratam, di bagian timur-selatan negara tersebut.

Menurut Wikipedia nama Baykonur dipilih agar pihak Barat tertipu dan mengira lokasinya berada di dekat Baykonur, sebuah kota pertambangan di wilayah gurun pasir dekat Dzhezkazgan, sekitar 320 km di sebelah timur laut lokasi sebenarnya. Baykonur adalah tempat pengoperasian utama untuk program luar angkasa Soviet yang ambisius sejak akhir 1950-an hingga 1980-an dan dilengkapi dengan fasilitas lengkap untuk meluncurkan angkutan luar angkasa berawak dan tak berawak. Baykonur memainkan peranan penting dalam pengoperasian Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Fasilitas ini awalnya dibangun pada pertengahan 1950-an sebagai pusat rudal jarak-jauh. Sebuah permukiman kecil kemudian dibangun untuk keperluan sekolah, tempat tinggal para pekerja. Pada 1966 ia ditingkatkan statusnya menjadi sebuah kota bernama Leninsk, yang kemudian diubah menjadi Baykonur pada 1995. Banyak penerbangan bersejarah yang berasal dari Baykonur: satelit buatan pertama pada 4 Oktober 1957, penerbangan mengorbit berawak pertama oleh Yuri Gagarin pada 1961, dan penerbangan dengan awak wanita pertama, Valentina Tereshkova pada 1963.

Prancis juga punya bandariksa Guyana, atau disebut Centre Spatial Guyanais (CSG). Pelabuhan antariksa Prancis dekat Kourou di Guyana Prancis itu beroperasi sejak 1968, sangat cocok sebagai lokasi pelabuhan antariksa karena letaknya dekat dengan khatulistiwa. Peluncuran sering dilakukan di dekat perairan. European Space Agency, badan antariksa Prancis CNES, dan perusahaan Arianespace pernah melakukan peluncuran dari Kourou.

Tempat ini dipilih tahun 1964 untuk menjadi pelabuhan antariksa Prancis. Kourou terletak 500 kilometer  di utara khatulistiwa. Pada garis ini rotasi bumi mencapai kecepatan 460 meter per detik (1.700 km perjam) ketika jalur peluncuran mengarah ke timur.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00