Berguru Jauh ke Finlandia

KBRN, Jakarta : Belajarlah hingga ke negeri Cina, begitu kata pepatah. Tetapi untuk urusan mutu pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi, banyak negara belajar ke Finlandia. Republik Finlandia adalah sebuah negara Nordik di Eropa Utara, anggota dari Uni Eropa

Finlandia merupakan bagian dari kawasan geografi Fennoscandia, yang di dalamnya juga termasuk Skandinavia dan sebagian Rusia. Tahun 2013, populasi Finlandia sekitar 5,5 juta jiwa dan mayoritas tinggal di kawasan selatan.  Lebih dari 1,4 juta jiwa tinggal di kawasan Helsinki Raya, yang menghasilkan sepertiga produk domestik bruto negara. Kota besar lainnya adalah TampereTurkuOuluJyväskyläLahti, dan Kuopio.

Dari akhir abad ke-12 hingga 1809, Finlandia adalah bagian dari Swedia, yang pengaruhnya masih dirasakan dengan bahasa Swedia yang digunakan luas dan merupakan salah satu bahasa resmi.

Finlandia termasuk negara industri yang relatif baru, negara ini masih menggantungkan diri dari sektor pertanian hingga 1950-an. Ekonominya ketika Finlandia mengembangkan model negara kesejahteraan yang melejitkan kemakmuran, saat ini menjadi salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia.  Finlandia menduduki peringkat teratas dalam daya saing ekonomi, kebebasan sipil, kualitas hidup, dan pembangunan manusia. Tahun 2010, Newsweek memilih Finlandia sebagai negara terbaik di dunia. (Sumber Wikipedia)

Lebih Banyak Bermain

Apa keistimewaan Finlandia sehingga unggul di bidang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Padahal sepintas siswa lebih santai. Profesor Erno August Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia kepada detikcom, menggambarkan pendidikan di Finlandia : sedikit pekerjaan rumah, sedikit waktu di dalam kelas, lebih banyak bermain, tak ada ujian nasional (UN) dan tak ada pemeringkatan siswa pandai.

Ini terkesan paradoks dengan kebanyakan negara Asia. Finlandia berbeda dengan negara lain, sangat menghargai anak-anak bermain bebas dan melakukan hal-hal lain dari pada hanya duduk di kelas dan kerjakan pekerjaan rumah. Kualitas pengajaran bukan terletak panjangnya jam belajar.

Di sana anak tak diizinkan sekolah sebelum berusia 7 tahun. Jam pelajaran SD hanya 3-4 jam sehari, waktu istirahat mencapai 75 menit. Siswa jarang dibebani PR , bahkan tidak ada PR hingga tak ada ujian nasional pada akhir 9 tahun pertama sekolah. Yang dikembangkan adalah kepribadian siswa, bukan skill, bukan belajar konten kurikulum yang kaku.

Siswa belajar mengetahui dunia, belajar mengenal perbedaan mata pelajaran dan kehidupan sosial, dan melatih memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.Sistem kelasnya inklusif, siswa pintar dan kurang pintar dijadikan satu. Di Indonesia justru banyak kelas akselerasi, mengumpulkan siswa yang pintar-pintar secara eksklusif.

Sementara Finlandia menerapkan kesetaraan membawa semua siswa ke tataran level yang sama. Tentu ada beberapa siswa pintar yang bisa melangkah lebih jauh, tapi harus dijamin siswa dari semua latar belakang keluarga dan kesulitan belajar  punya kesempatan yang sama.

Sekolah punya sistem yang melacak kemampuan anak-anak di tingkat dasar 9 tahun. Anak-anak berkebutuhan khusus butuh diperhatikan secara khusus. Bila ada kesulitan kadang di ruang kelas ada seorang dewasa yang tidak mengajar, bisa juga mahasiswa yang menjadi asisten guru untuk mengawasi anak-anak.

Ini sangat membantu  guru, ada orang dewasa lain di kelas itu. Orang dewasa yang tidak mengajar tapi bisa membantu. Ada guru kelas dan guru untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus yang bekerja sama. Biasanya satu kelas di Finlandia maksimal 20 orang.Berbeda dengan kita sekolah kejuruan seolah kelas dua. Di Finlandia sekolah kejuruan jadi pilihan 50 persen siswa pendidikan dasar.

Banyak negara memberi perhatian yang sedikit pada pendidikan kejuruan ini, dan di Finlandia diciptakan pola baru bagaimana meningkatkan teknologi agar lebih baik daripada dunia kerja. Hal ini tantangan besar karena dunia kerja berubah sangat cepat. Ternyata masih ada kesulitan memotivasi anak-anak muda di beberapa wilayah. Sekolah kejuruan di wilayah lain sebaliknya.Selalu Terbaik

Sejak PISA—tes yang dilakukan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terhadap siswa berusia 15 tahun—dilaksanakan pada 2003, siswa Finlandia tak pernah terlempar dari lima besar dalam bidang sains dan membaca. Secara keseluruhan, Finlandia juga mencapai posisi terbaik dalam tes ini meskipun sejak 2012 disalip negara-negara maju di Asia, seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.

Sudah banyak pula tulisan yang mencoba menjawab rahasia di balik kesuksesan pendidikan di Finlandia. Seorang pendidik asal Amerika Serikat yang mengajar di Helsinki, Timothy D Walker, pernah menulis Teach Like Finland, buku tentang bagaimana guru-guru di Finlandia mengelola kelas yang menyenangkan.

Sedangkan buku dari sudut pandang pengalaman orang Indonesia tentang pendidikan di Finlandia ditulis Ratih D Adiputri, ‘’ Sistem Pendidikan Finlandia: Catatan dan Pengalaman Seorang Ibu’’.

Buku ini menceritakan pengalaman penulisnya saat menyekolahkan dua anaknya di Finlandia. Ratih juga melengkapinya dengan apa yang ia dengar dan ketahui dari orang-orang Finlandia tentang pendidikan di negara mereka. Alhasil, buku ini bisa dibilang cukup lengkap menggambarkan sistem persekolahan, fasilitas, kurikulum, dan yang  budaya belajar dan mendidik di Finlandia.

Ratih kebetulan peneliti posdoktoral ilmu politik di Universitas Jyväskylä, sebuah kota di barat Finlandia, sekitar 3,5 jam berkendara dari Helsinki. Kota ini cukup istimewa karena di sinilah sekolah pendidikan guru didirikan untuk pertama kalinya pada pertengahan Abad ke-19. Dari sekolah ini lahir guru-guru terbaik menyebar dan menjadi fondasi bagi kesuksesan pendidikan  negara itu.

Penduduk Jyväskylä sekitar 120 ribuan jiwa, memiliki budaya literasi yang tinggi. Jika di Indonesia orientasi kegiatan warga adalah mal-mal, penduduk Jyväskylä menghabiskan  waktu libur dan akhir pekan mereka di perpustakaan kota. Di perpustakaan ini, warga bisa melakukan banyak hal: dari membaca buku, mendengarkan dongeng, menonton film, hingga membawa pulang tablet (untuk membaca koleksi digital) dan buku sebanyak yang mereka mau.

Hal serupa juga lazim di Singapura dan Jerman. Pada hari libur justru museum dan perpustakaan yang buka sepanjang hari, dan penuh terisi keluarga berbagai usia. Taman-taman kota berisi repertoar atau unjuk kebolehan seniman musik, tari, pantomim, dll. Di sini museum dan perpustakaan justru menggembok pintunya pada hari libur.

Pada bulan Februari tiap tahunnya, pemerintah kota di Finlandia mengirimkan undangan kepada keluarga yang anak mereka telah memasuki usia sekolah. Pemerintahnya gemar mengingatkan warganya akan hak-hak, bukan sekadar memperingatkan kewajiban, peringatan, dan larangan. Dan hal seperti ini bisa terjadi karena catatan kependudukan dikelola dengan baik.

Bulan April, orang tua dan anaknya akan diberi kesempatan meninjau sekolah yang telah dipilihkan dan berbincang dengan guru-guru serta pengurus sekolah. Biasanya sekolah tak akan berjarak lebih dari lima kilometer dari tempat tinggal si anak. Jika jaraknya lebih dari itu disiapkan bus gratis untuk transportasi dari rumah ke sekolah.

Guru Setara Dokter

Keberhasilan pendidikan bergantung pada kemampuan guru. Finlandia memperlakukan guru dengan istimewa. Jam kerjanya pendek, sisa waktu diisi pengembangan diri. Gajinya pun tinggi sejajar dengan dokter dan profesi penting lainnya. 

Syarat minimal guru harus lulusan master meskipun hanya mengajar di pendidikan dasar bahkan taman kanak-kanak. Guru sangat bernilai dalam budaya dan masyarakat Finlandia. Guru adalah profesi paling penting karena harus mendidik generasi muda. Profesi ini sangat populer di kalangan anak muda.

Lebih banyak pelamar yang mendaftar dalam program ilmu keguruan dan pendidikan daripada yang diterima. Hanya 10-15 persen pelamar diterima. Kualitas tesnya sama sulitnya dengan fakultas kedokteran. Guru dipandang sama bergengsinya dengan dokter dan pengacara. 

Sebab setiap guru  bekerja keras mempersiapkan materi ajar untuk proses belajar mengajar, berpikir sangat hati-hati bila ada murid yang membutuhkan intervensi dan motivasi belajar. Profesi ini sangat mengutamakan kepakaran.

Di sana juga tidak dikenal ujian nasional pada tingkat pendidikan dasar. UN hanya di sekolah menengah, akhir dari pendidikannya berupa ujian matrikulasi. Tidak ada ranking siswa terpandai. Adalah tugas guru untuk menjamin semua siswa belajar dengan pantas. 

Tes justru ditujukan kepada guru, bukan dalam rangka membandingkan siswa, untuk melihat peringkat sekolah atau kelas tertentu. Cara ini sangat dihindari, sebab berdasarkan pengalaman internasional, UN itu punya banyak konsekuensi negatif.Di Finlandia pendidikan gratis dari dasar sampai doktoral, berlaku untuk warga negara Finlandia dan warga negara Uni Eropa.

Tapi mulai musim gugur depan ini, akan ada biaya untuk mahasiswa internasional non Uni Eropa. Biaya pendidikan diambilkan dari pajak. Di Finlandia pajak penghasilannya relatif tinggi, tapi kemudian warga banyak mendapat kompensasi pelayanan mulai dari kesehatan yang sangat murah, pendidikan gratis, dan banyak pelayanan lainnya dari pemerintah. Anggaran pendidikan dari APBN Finlandia sedikit di bawah Indonesia, kurang dari 20 persen.

Model pendidikan mereka diciptakan sejak tahun 1970-an. Sedangkan model pendidikan universitas  sudah ada sejak akhir abad ke-18, dan sangat berkembang sekarang. Sistem ini mengalami restrukturisasi awal 2010, yang sebelumnya menjadi bagian dari negara, sekarang sepenuhnya independen.

Tantangan baru pendidikan  Finlandia adalah peningkatan kualitas pengajaran. Banyak ketegangan di masyarakat tentang merebaknya teknologi mobile digital. Banyak anak muda menghabiskan waktu dengan gajet, dan lebih sedikit membaca dibanding generasi sebelumnya.

Mungkinkah Indonesia meniru sistem hebat ini? Mungkin saja bisa dikopi tapi tak pernah sukses. Prof Erno sendiri tak berniat merekomendasikan Indonesia melakukan hal yang sama dengan Finlandia karena faktor-faktor perbedaan budaya, struktur masyarakat dan sebagainya. 

‘’Tidak ada yang kami bisa transfer, negara Anda harus mentransformasi sendiri’’, katanya kepada detikcom. Dan itulah anjuran terbaik, karena Indonesia harus mampu menciptakan sendiri sistem pendidikan yang lebih sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00