Bebas dari Belenggu Sekolah

• Apakah ada sekolah yang menyediakan ruang kebebasan kepada anak didiknya untuk berekspresi sesuai dengan bakat dan karakter dirinya?

• Apakah ada sekolah yang tidak menggebyah-uyah (generalisasi, menyamaratakan) setiap pribadi siswa yang saling unik dan berbeda?

• Apakah ada pula sekolah yang mengakomodasi berbagai strata sosial-ekonomi siswa dengan perlakuan yang adil dan setara?

• Apakah ada sekolah yang mampu menyiapkan anak didik unggul di banyak bidang sekaligus?

• Dan apakah mungkin pendidikan sejati dilakukan di luar tembok-tembok sekolah konvensional?  

Sederet pertanyaan ‘’apakah…’’ ini masih bisa diperpanjang. Sesudah kita terkaget-kaget dengan program baru Mendikbud Nabiel Makarim tentang ‘merdeka belajar’, ada baiknya kita jenguk contoh sederhana praksis pendidikan di sebuah Sekolah Dasar Mangunan, di desa Berbah, Kab Sleman, DI Yogyakarta. Sekolah ini jauh dari kesan mentereng dan eksklusif. Pelatarannya tidak menyediakan lahan parkir mobil dan motor. Sepeda onthel pun hanya satu-dua tersandar di pagarnya. Banyak siswanya tak berseragam, bahkan tak beralas kaki. Padahal lokasinya di metropolitan Jogja.

Apa yang berbeda di sekolah ini adalah ‘pemberontakannya’. Bermula dari kegelisahan rohaniawan, Romo YB Mangunwijaya terhadap sosok pendidikan kita yang serba menyeragamkan saat itu. Romo Mangun yang dikenal berhasil menyulap kawasan kumuh Kali Code, membangun sekolah sendiri untuk anak-anak dengan nama SD Mangunan. Katanya, sekarang tidak ada sekolah yang sejati. Yang ada hanya pabrik yang mengolah sumber daya manusia. Hasilnya, tidak ada anak yang sejati.

Itulah suasana sekitar tahun 90-an di saat kurikulum tahun 1994 yang identik dengan penyeragaman anak didik dan dehumanis. Selain itu sekolah-sekolah tidak mengakomodasi kaum miskin, sehingga Romo Mangun mengajak semua pihak yang berkemauan baik dalam bentuk SD Mangunan. Gerakan pembaharuan yang diinginkan Romo adalah melakukan evolusi, menggugah kesadaran lama yang ekploitatif-egoistik-hirarkis menuju ke kesadaran baru yang mencerdaskan, adil, dan makmur.

Bebas dari Belenggu

Pendidikan baginya harus menempatkan murid ke arah emansipasi, terbebas dari belenggu-belenggu. Tugas guru hanya sebagai bidan yang membantu melahirkan anak-anak dengan kebenaran yang sudah dikandungnya. Filosofi ini dijelaskan kembali oleh Ferry T Indratno, dari Forum Mangunwijaya.

Dikatakan syarat sekolah yang unggul adalah sekolah yang memfasilitasi anak menjadi dirinya sendiri dan merdeka. Anak yang merdeka adalah sosok citra manusia yang humanis, manusia pasca Enstein dan pasca Indonesia, yang mempunyai karakter sebagai manusia pembelajar yang eksploratif, kreatif, integral, dan komunikatif. Tidak mudah menyerah pada nasib dan paham akan kemungkinan jalan-jalan alternatif.

Dr Agus Suwignyo, Dosen Departemen Sejarah UGM pernah ditugasi untuk membuat bahan ajar bahasa Inggris untuk SD Mangunan. Materinya disadur dari referensi teks bahasa Inggris aslinya. Konsep itu malah dibuang Romo Mangun ke keranjang sampah. Pelajaran bahasa Inggris ya harus sesuai dengan pemahaman anak sehari-hari. Misalnya kenalkan kosa kata ‘rain’ bukan ‘snow’ karena anak belum pernah melihat salju. 

Bukan kata ‘plane’, tapi kata ‘train’ karena ada rel kereta di belakang SD Mangunan. Begitu pula materi ilmu pengetahuan alam tentang garis horizon atau iklim, diajarkan langsung dengan menggiring anak didik ke pematang sawah dan rel KA. Materi kurikulumnya mungkin mirip dengan sekolah umum lainnya, tetapi cara mengajar dan memahamkannya berbeda.

Melalui konsep belajar sejati yang memerdekaan anak itulah,  diharapkan makna pendidikan yang menghargai anak bisa dibangun. Bekal itu lebih bernilai bagi mereka yang berasal keluarga miskin dan tidak mampu mengakses pendidikan di sekolah formal. Mangunwijaya lalu menulis artikel berjudul ‘’Tentang Si Kenthus, Si Busi, Kang Burator, dan GBHN IV/1973’’, dimuat Kompas 3 Januari 1974. Ia mengritik tujuan pendidikan yang jauh dari amanat UUD 45 dan bertentangan dengan ketetapan No. IV/MPR/1973 tentang GBHN mengenai pendidikan dan pencerdasan bangsa.

Meniadakan Sekolah

Tokoh pergerakan nasional Haji Agus Salim juga dikenal sebagai ‘pemberontak’ pendidikan. Dia melarang anak-anaknya masuk sekolah Belanda, dan memilih belajar di rumah. Ia berhasil membuktikan, meski tidak ‘makan sekolah’ anak-anaknya berkembang wajar dan berprestasi dalam kehidupan. Dan yang penting tertanam api  nasionalisme dalam jiwanya.

Gerakan anti-sekolah yang fenomenal juga digagas filosof kelahiran Austria, Ivan Illich.  Ia menilai sekolah modern hanya berfokus pada pendidikan sebagai sistem industri. Sistem sekolah telah membentuk industri beracun terhadap apa yang seharusnya dapat dibentuk oleh keluarga, yaitu pendidikan. Menurut Illich, sekolah membangun kesuksesan di atas kertas dengan keunggulan akademis. Sedangkan nilai dan ijazah memberikan asumsi salah bahwa siswa telah menjadi berpengetahuan.

John Holt adalah seorang pendidik yang pikirannya selaras dengan Illich. Mereka menganggap sekolah bukanlah satu-satunya jalan untuk belajar, karena siswa belajar secara konsisten melalui aspek lain antara lain memahami alam. Illich dan Holt melihat sekolah tidak mencukupi karena hanya fokus pada  "latihan keterampilan" secara ketat ketimbang mengembangkan metode pembelajaran lain. 

Dari kedua pemikir ini, lahirlah istilah ‘deschooling’ yang dapat diartikan proses "meniadakan sekolah". Baik sekolah formal maupun homeschooling keduanya sama-sama berjudul "sekolah". Sebagian orang menganggap sekolah sudah tidak lagi memberikan pendidikan yang sejati. 

Pendidikan berbasis rumah atau berbasis komunitas di beberapa negara maju disebut ‘home education’ daripada homeschooling. Mereka konsisten tidak hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Kebanyakan homeschooling yang ada saat ini hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, sedangkan orientasinya masih ke lulus ujian nasional dan ijasah.

Homeschooling demikian lebih mirip dengan bimbingan. Tidak berbeda dengan praktik persekolahan yang kita kenal. Padahal niat homeschooling awalnya adalah "deschooling" yaitu mengembalikan peran dan tujuan pendidikan kepada komunitas dan keluarga, bertujuan membangun tradisi belajar di manapun serta menemukan jati diri anak. Orang belajar mestinya bukan karena orientasi ujian atau karena orientasi ijazah.

Berbasis Komunitas

Pendidikan semestinya berbasis komunitas, dengan mengutamakan penemuan bakat, akhlak dan realita. Islam punya konsep "berguru" secara berjamaah (berkomunitas), melalui surau, meunasah dan pesantren. Kristen punya sekolah minggu. Yahudi punya konsep sekolah Sabtu, di Tiongkok dikenal model pendidikan vihara. Model persekolahan hari ini ibarat mengkhianati konsep pendidikan Ki Hajar Dewantoro dan KH Ahmad Dahlan serta pejuang anti pendidikan kolonial lainnya.

Deschooling dalam konsep Ivan Illich merujuk pada proses transisi yang dialami anak-anak dan orang tua ketika mereka meninggalkan sistem sekolah untuk memulai homeschooling. Anak-anak perlahan keluar dari rutinitas dan mentalitas sekolah mereka, mengembangkan kemampuan baru untuk belajar melalui penentuan nasib sendiri, dan menemukan minat untuk memutuskan apa yang ingin mereka pelajari. (Wikipedia).

Pada awal transisi, anak didik merasa bosan atau gagap mengatasi struktur harian yang hilang, sampai mereka akhirnya menemukan cara untuk menggunakan waktu dan kebebasan mereka. Sistem sekolah konvensional dianggap dapat menyebabkan kerusakan pada kreativitas, keingintahuan, dan kemauan bawaan untuk belajar pada anak-anak. Kebanyakan anak hanya akan belajar di bawah tekanan tidak wajar seperti keharusan mendapat nilai sempurna.

Menurut John Holt, masyarakat yang tidak bersekolah akan menjadi masyarakat di mana setiap orang memiliki pilihan seluas dan sebebas mungkin untuk mempelajari apa pun yang ingin ia pelajari, dengan cara yang sama sekali berbeda.

Inilah esensi merdeka belajar. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00