Deteksi Dini Kanker Payudara Hindari Kemoterapi

KBRN, Jakarta : Kanker payudara merupakan penyakit yang sering terjadi pada wanita di seluruh dunia. Bahkan para pria pun masih memiliki risiko terkena kanker payudara, walapun dalam prosentase yang jauh lebih kecil.

Kepala Departemen Medik Ilmu Bedah FKUI-RSCM yang juga merupakan konsultan di Klinik Hayandra Dr. dr. Sonar S. Panigoro, SpB(Onk), mengatakan untuk menghindari risiko terkena kanker payudara, deteksi dini pada kanker payudara dinilai sangat penting.

"Dengan deteksi dini, diharapkan kanker payudara ditemukan pada stadium awal, sehingga penderita dapat terhindar dari tindakan kemoterapi dan radiasi," kata Sonar Webinar Penatalaksanaan Terkini Kanker Payudara dan Kanker Kolorektal, Minggu (9/8/2020).  

Selain kanker payudara, Kanker kolorektal juga merupakan jenis kanker yang dapat menyebabkan kematian tertinggi di dunia. Kepala SMF Bedah Digestif dari RS Kanker Dharmais dr. Fajar Firsyada menjelaskan terapi kanker kolorektal yang sudah menyebar (metastasis) menjadi lebih kompleks harus menimbang banyak hal, seperti usia, penyakit penyerta, pertimbangan operasi atau tidak operasi serta jenis obat adjuvant mana yang dapat diberikan.

"Pemeriksaan biomarker dapat membantu mengoptimalkan pemilihan terapi, mengurangi efek samping obat-obatan, meningkatkan kualitas hidup serta meningkatkan kepatuhan berobat," ujarnya.  

Dalam kesempatan yang sama, doktor bidang ilmu biomedik sekaligus CEO Klinik Hayandra dan HayandraLab Dr. dr. Karina, SpBP-RE mengatakan, kanker merupakan penyakit yang memerlukan berbagai macam modalitas terapi. Sel imun yang aktif dan dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu penderita kanker padat (solid cancer), saat melakukan terapi terstandar seperti operasi, kemoterapi dan radiasi.

"Teknik Immune Cell Therapy (ICT) yang diambil alih dari Jepang ini juga telah dibuktikan oleh tim HayandraLab lebih superior dalam mencapai hasil akhir berupa jumlah sel imun dan keaktifan yang lebih tinggi, dibandingan dengan beberapa teknik dari negara lain seperti Amerika dan Kanada," katanya.

Bahkan setelah dilakukan pengulangan terapi, jumlah sel imun yang meningkat tersebut masih mampu dipertahankan sampai 1 tahun setelah terapi. Hal ini tentunya sangat berguna dalam mencegah rekurensi dari kanker tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00