Kasus pelecehan terhadap anak meningkat di Depok, penghargaan KLA lukai perasaan anak korban?

Taman bermain anak. FOTO: Ist

KBRN, Depok: Kepala Kejaksaan Negeri Kota Depok Sri Kuncoro mengatakan adanya tren peningkatan perkara dengan korban anak di Kota Depok pada beberapa bulan ini. Pada tahun 2021 hingga November, sudah ada tercatat sebanyak 44 surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) terkait perkara pidana dengan korban anak. 

"Jadi ada peningkatan kasus yang masuk ke Kejari Depok terkait perkara pidana dengan korban anak totalnya 44 SPDP hingga akhir November 2021," kata Sri Kuncoro kepada RRI, Selasa (30/11/2021).

Dikatakan Sri Kuncoro, SPDP yang diterima Kejaksaan terkait perkara pidana dengan korban anak sampai akhir September 2021 sebanyak 31 kasus. Kemudian terjadi peningkatan lagi untuk SPDP perkara pidana dengan korban anak pada Oktober-November sebanyak 13 kasus. 

"Rinciannya 6 bulan terakhir yaitu Juli 1 SPDP, Agustus 3 SPDP, September 2 SPDP, Oktober 4 SPDP, dan November 9 SPDP. Jadi ada peningkatan pada enam bulan terakhir kasus ini," ujar dia. 

Dari 44 SPDP terkait perkara pidana dengan korban anak yang masuk ke Kejari Depok hingga akhir November 2021, sebanyak 22 SPDP tersebut telah dinyatakan lengkap dan dilakukan penuntutan. 

“Dalam beberapa waktu lalu setelah melihat statistik terjadi kenaikan terkait perkara dengan korban anak. Maka melalui Seksi Intelijen Kejari Depok kami telah melakukan upaya penerangan dan penyuluhan hukum khususnya terkait dengan masalah perlindungan anak,” imbuh Kajari Depok. 

Sri Kuncoro merasa prihatin dengan kondisi ini, sehingga ia meminta kepada seluruh stakeholder yang ada di Depok untuk dapat  bersama-sama melakukan berbagai upaya dalam pencegahan tindak pidana dengan korban anak. 

Ironisnya, maraknya kasus pelecehan terhadap anak di Depok pada tahun ini, sepertinya tidak terdata atau dilaporkan dengan baik oleh Pemerintah Kota Depok kepada Pusat. Pasalnya, pada 29 Juli 2021, Depok kembali meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) dengan predikat Nindya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. 

Atas raihan itu, Kota Depok kembali mempertahankan status sebagai KLA untuk yang ke-4 kali secara berturut-turut, setelah tiga kali sebelumnya juga mendapatkan penghargaan serupa. 

Lalu, bagaimana dengan perasaan anak-anak korban kekerasan tersebut melihat Pemerintah Kota Depok bukannya mencari solusi atas permasalahan ini. Malahan berusaha menutupinya dengan sebuah pengakuan melalui penghargaan KLA tersebut?. (RL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar