Peran Perempuan dalam Ketahanan Pangan Keluarga Sangat Besar 

Ketua Umum Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto

KBRN, Jakarta: Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Perempuan Tani HKTI) mengingatkan, pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang sangat esensial dan merupakan hak asasi setiap orang. 

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1 (4) menyebutkan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup.

Ketua Umum Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto mengatakan "jumlah pangan yang cukup itu mencakup jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan."

"Mewujudkan ketahanan pangan adalah tantangan dari masa ke masa. Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan, jangkauan, dan kelayakan pangan,"ujarnya.

Sebagai organisasi khusus memperhatikan kesejahteraan petani untuk kaum hawa ini, Dian menyoroti jika selama puluhan tahun pelaku ketahanan pangan diidentikan sebagai peran laki-laki semata, maka pada saat ini perempuan telah memiliki andil sebagai pilar ketahanan pangan yang tak terbantahkan. 

"Secara sosiokultural perempuan hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya masyarakat tetapi juga keluarga. Perempuan juga melakukan kegiatan untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga seperti menjaga ketahanan pangan," kata Dian.

Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lumbung pangan sangat besar. Namun, sangat disayangkan hampir semua kebijakan disektor pertanian bias perempuan. Hal ini jelas pengingkaran atas kenyataan karena petani perempuan berkontribusi besar sebagai pemberi makan, namun dianggap tak berarti, tak ada.

Perempuan dan Perannya dalam Ketahanan Pangan

Perempuan menjalankan peran sangat beragam dalam keluarga. Tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, ia juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Misalnya dalam menjaga ketahanan pangan, perempuan melakukakannya mulai dari proses produksi untuk ketersediaan, keterjangkauan, sampai pada penyajian pangan diatas meja untuk disantap keluarga. Peran ibu dalam keluarga juga terlihat dalam proses konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.

Untuk itu, upaya pola konsumsi yang belum beragam harus segera dilakukan penganekaragaman khususnya buah dan sayur. Pola konsumsi masyarakat Indonesia masih didominasi karbohidrat. Padahal potensi untuk memproduksi buah dan sayur dengan memanfaatkan pekarangan rumah saja sudah cukup.

Memang saat ini Kementerian Pertanian memiliki program kawasan rumah pangan lestari, bagaimana memanfaatkan lahan perkarangan secara optimal dengan memaksimalkan produktivitas lahan untuk ketersediaan pangan di rumah.

Dalam siaran persnya yang diterima Radio Republik Indonesia dari Perempuan Tani HKTI pada Senin (1/3) disebutkan "kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) menjadikan perempuan tidak hanya mendorong tumbuhnya kelompok namun juga individu perempuan sebagai bagian penting dalam pemanfaatan pekarangan rumah." 

Memang sampai saat ini, P2L masih terbatas. Oleh karena itu, stakeholder terkait dapat melakukan sosialisasi dan pendampingan kemasyarakat sehingga tumbuh kesadaran untuk memanfaatkan pekarangan.

Namun harus diingat pula bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi tanggung jawab dan program pemerintah. Keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan seperti dharma wanita, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), organisasi-organisasi perempuan non pemerintah dan lain-lain.

Fakta memperlihatkan misalnya dalam pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya alam, perempuan masih dianggap kurang atau hanya sedikit berkontribusi dan menjadi obyek dalam pembahasan “ketidakadilan gender” dan kekerasan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Padahal berbagai studi telah mengungkapkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga, bahkan bagi ekonomi nasional.

Sebab perempuan berperan dalam produksi, pengolahan dan distribusi pangan mulai dari tingkat rumah tangga termasuk menentukan jenis makanan yang terhidang di meja makan berserta kandungan gizinya.

Dengan demikian, peran perempuan yang besar, maka program-program pemberdayaan yang mendukung optimalisasi potensi sumber daya alam oleh kaum perempuan perlu ditingkatkan. Program-program diarahkan untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan mulai urusan domestik sampai publik.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00