Terdakwa ADW Diduga Mengintimidasi Anak dan Suami Pelapor

KBRN, Jakarta : Saksi pelapor yang juga Anggota DPRD Jabar, Tina Wiryawati,SH. memenuhi panggilan sidang perkara dugaan tindak pidana Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (15/10)

Tina Wiryawati dihadirkan sebagai saksi pelapor/Korban karena dalam kasus ini. Dia sebagai pelapor/Korban dengan terdakwa Agung Dewi Wulansari (50).

Kehadiran saksi pelapor kali ini sekaligus menjawab tudingan salah satu media yg mengatakan mangkir dua kali padahal ketidakhadiran  bukan disengaja oleh saksi karena bertepatan dengan adanya surat perintah tugas dari fraksinya dan dari DPRD provinsi Jawa Barat melakukan kunker ke Bali. 

Pemberitahuan tersebut sudah disampaikan pada hakim dan JPU, sedangkan mangkir adalah hal yang disengaja sungguh tendensius mengatakan saksi pelapor dalam perkara ini yang sebenarnya adalah korban tapi disebut mangkir. 

Saksi menjelaskan duduk perkara kasus ITE yang dia laporkan ke Polda Jabar.

Agung Dewi didakwa melakukan tindak pidana pasal 45 ayat 2 juncto pasal 28 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik di dakwaan primer. Lalu pasal 45 ayat 3 juncto pasal 27 ayat ‎3 UU ITE pada dakwaan subsider.

Berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum, surat dakwaan nomor PDM-763/BDUNG/08/2020 dengan jaksa M Afif Perwiratama, kasus ini terjadi pada Maret 2019 dan Desember 2018 di Kabupaten Ciamis dan di Kabupaten pangandaraan

Pada 20 Desember 2018, saksi Tina Wiryawati dan tim suksesnya berkampanye legislatif DPRD Jabar kemudian diunggah di Facebook.

Pada 23 Desember 2018, ada komentar dikirim oleh username terdakwa di postingan Facebook isinya : 'save .. agar bisa bertemu ayah kandungnya yaitu suami dr Tina Wiryawati. Tina adalah istri ke-5 dari kapten pilot senior salah satu maskapai di Indonesia'. Kemudian terdakwa kembali berkomentar ; 'yakin anda akan mendukung wanita seperti ini yang sudah zalim dengan seorang anak yang ingin ketemu bapaknya. Baca dulu dengan bijak jangan tertipu hanya dengan kerudung. Ibu tiri kejam tidak pantas jadi wakil rakyat yntuk partai besar yang terhormat'.

Lalu pada Maret 2019, saksi Tina Wiryawati sedang kampanye di Kabupaten Ciamis, diberitahukan oleh tim suksesnya bahwa ada pesan komentar Facebook atas nama akun terdakwa. Isinya: 'Suaminya seorang kapten pilot senior tapi dua anak kandungnya tidak pernah dianggap dan diabaikan. Pantaskah kalian dengan spirit The emak-emak punya caleg yang tidak peduli dengan anak kandung dari suaminya. Dia adalah istri kelima pak pilot. Baca dulu dengan bijak jangan tertipu hanya dengan kerudung ibu tiri kejam tidak pantas jadi wakil rakuat untuk partai besar dan terhormat'.

Di persidangan, saksi menyatakan postingan itu jadi pembicaraan orang lain dan banyak yang menanyakan kebenarannya pada Tina."Berdasarkan postingan itu, banyak teman-teman saya yang baca. Menanyakan kebenarannya karena postingan komentarnya diliat banyak akun," ucap Tina.

‎Hakim sempat menanyakan ihwal dampak dari postingan dari terdakwa terhadap Tina. Lalu, menanyakan kebenaran dari postingan terdakwa. ‎

Sementara itu, Jaksa Afif menanyakan soal dampak postingan tersebut terhadap pengaruh perolehan suara dari saksi. Di sisi lain, saksi mengaku sudah memaafkan perbuatan terdakwa. ‎

"Tidak berpengaruh ke pileg karena saya merasa itu menyangkut pribadi saya yang tidak pernah saya lakukan. Tapi saya sudah memaafkan terdakwa," ujar saksi.

Saksi pun menjelaskan pada majelis hakim bahwa perbuatan terdakwa mengitimidasi anak dan suaminya sejak februari 2010 lewat teror sms dengan kata-kata yang tidak pantas serta laporan2 polisi pada suaminya yang semuanya tidak pernah terbukti salahsatunya laporannya adalah tentang penelantaran anak sedangkan tunjangan kebutuhan untuk anaknya terdakwa Andrea dan Galih sudah dipotong dari gaji suaminya sebagai pilot oleh perusahaan. namun saksi tidak pernah ikut campur karena memahami bahwa itu adalah masalah masa lalu suaminya..

Penasihat hukum terdakwa yakni Rini dalam kesempatan itu mengatakan bahwa pelapor melarang anak-anak terdakwa bertemu dengan bapaknya dengan bukti video yang dibawanya namun pelapor membantahnya dan ketika video disaksikan bersama didepan hakim dan JPU ternyata tidak ada pelapor mengatakan hal sebagaimanana yg dituduhkan ph terdakwa spontan jpu minta panitra sidang utk mencatatnya. Sidang selanjutnya adalah mendengarkan keterangan saksi yang lain/keterangan ahli yang dilaksanakan Kamis 22 Oktober 2020. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00