Pandemi COVID-19 Tidak Menyurutkan GRP Untuk Bertransformasi

KBRN, Jakarta : Memasuki bulan keempat pandemi COVID-19, produsen baja terbesar nasional PT Gunung Raja Paksi Tbk tidak pernah surut bertransformasi. Bahkan menurut Komisaris PT GRP Kimin Tanoto, perubahan terus dilakukan guna menghadapi tantangan yang lebih besar di masa mendatang. 

“Transformasi yang kami lakukan sejak initial public offering (IPO) September 2019, tidak terganggu karena pandemi COVID-19. Bahkan hingga new normal saat ini, saya selalu mengajak perusahaan untuk terus komit dalam melakukan perubahan,” jelas Kimin melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, hari ini. 

GRP memiliki sejarah yang panjang, hampir 50 tahun perusahaan dipimpin keluarga generasi pertama, sampai pada akhirnya anak anak tumbuh dewasa dan menjadi pimpinan di perusahaan. Hal ini tentu menjadi tantangan dan pandangan yang berbeda dalam mengelola perusahaan.

Dalam kacamata Kimin, transformasi adalah modal dasar untuk meningkatkan daya saing perusahaan di masa mendatang. Melalui change management, GRP berharap bisa mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar baja nasional. “Bahkan ke depan, kami juga bertekad menjadi produsen baja kelas dunia,” ujarnya. 

Melalui change management, lanjutnya, perusahaan juga melindungi seluruh stakeholders, karyawan, customer, supplier, dan pihak perbankan.

Banyak hal dilakukan GRP dalam menjalankan transformasi. Di antaranya, dengan mengedepankan reformasi manajemen yang transparan, akuntabel, dan profesional (TAP) sebagai budaya korporasi di semua aspek bisnis. “Untuk transparansi, misalnya, saya selalu menekankan agar perusahaan dikelola lebih terbuka dan transparan sehingga lebih mudah dalam pengawasan dan koordinasi,” kata dia. 

Melalui change management, tegasnya, Dewan Komisaris GRP merekrut direktur-direktur profesional yang berpengalaman dan punya keahlian baik. “Dengan ditangani para profesional, tentu kami bisa memastikan bahwa proses bisnis terus berkembang,“ ungkap Kimin.

GRP juga mengundang Pricewaterhouse Cooper (PwC). Auditor kenamaan ini menilai, bahwa transformasi dari proses bisnis lama menuju bisnis modern yang menerapkan budaya TAP, menjadikan GRP lebih profesional.  

“Semua proses change management  tentu berdampak kepada biaya dan kepentingan lainnya. Dan GRP sebagai perusahaan terbuka, terus melindungi semua stakeholders-nya. Proses transisi ini telah menghasilkan perubahan-perubahan yang sangat positif di perusahaan,” kata dia.

Kimin mengaku, tidak mudah melakukan perubahan.  Namun dirinya akan terus mempertahankan change management di tubuh perusahaan, meski beberapa pihak kurang sepaham dan berusaha menggagalkan  proses transformasi tersebut. “Karena saya percaya, hal ini benar untuk perusahaan. Apalagi, kami juga memperoleh dukungan sepenuhnya dari semua stakeholders,” tegasnya. 

Change management dalam tubuh GRP, sekaligus menandai kiprah GRP dalam industri baja nasional. Perusahaan memiliki pabrik dan fasilitas pendukung seluas lebih dari 250 hektare di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan yang mempekerjakan sekitar 8,000  karyawan ini mempunyai kapasitas produksi 2,8 juta ton baja per tahun atau sekitar 12% dari kapasitas produksi baja nasional. Selain untuk memenuhi pasar domestik, produksi baja PT GRP diekspor ke sejumlah negara, seperti Asia, Afrika, Timur Tengah dan Eropa.

“Dengan posisi perusahaan yang kuat saat ini, GRP akan melakukan investasi besar dalam membangun pabrik besi baja, untuk bersama Pemerintah mencapai strategi nasional. Kita telah melakukan investasi cukup besar di project Blast Furnace, pabrik baru yang lebih efisien dan lebih hemat dalam biaya produksi. Hal ini tentu memberikan manfaat bagi pelanggan dan meningkatkan daya saing,” pungkasnya. (AA)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00