Ketika Pengelola Pelabuhan Besar Dunia Membicarakan Konektivitas Global

KBRN, Jakarta: Era digital sudah merambah ke semua sektor. Termasuk dalam jasa pelabuhan. Sebuah pengalaman menarik ketika Radio Republik Indonesia mengikuti Chainport Academy yang tahun ini berlangsung di Jakarta, Indonesia.

Chainport Academy merupakan agenda tahunan sebagai wadah kemitraan di antara pengelola pelabuhan besar di dunia. Di forum ini, para CEO pelabuhan dari sejumlah negara berkumpul dan berdiskusi tentang kolaborasi & inovasi, digitalisasi, serta menginisiasi green sustainability environment. 

"Acara ini di adakan setiap setahun sekali. Tahun lalu di Montreal. Tahun ini kita, IPC menjadi tuan rumah." Ujar Ogi Rulino, Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC di Museum Maritim Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada Senin (02/12) pagi.

Chainport Academy terdiri dari 13 negara yang leading dalam Port Operator "tujuannya adalah sharing knowllege mengenai beberapa isu isu yg harus di sikapi bersama contohnya mengenai digitalisasi".

"Daripada kita kompetisi satu sama lain bagaimana ada hal hal baik yang bisa dishare oleh member chainport itu sendiri,"kata Ogi.

Termasuk saling berbagi informasi tentang teknologi "kalau mereka invest di teknologi apa hal hal yang harus kita hindari dan apa tujuannya. Dan tentunya komunikasi karena pelabuhan tidak bisa berdiri sendiri. Kapal itu tidak bisa sandar di satu pelabuhan, dia harus keliling".

Ogi Rulino menjelaskan semakin lama, rotasi semakin panjang dan hingga saat ini rotasi sudah mencapai 64 hari. Ini terbukti semakin banyak pelabuhan yang disinggahi.

"Semakin lama rotasi semakin panjang, hingga saat ini mencapai 64 hari, Semakin banyak pelabuhan yang di singgahi. Istilahnya double date. Masuk ke satu pelabuhan bongkar dan muat lagi disana."ujar Ogi Rulino.

baca juga : Hingga Kuartal III, Pelindo II Bukukan Laba Rp2,21 Triliun

baca juga : Pelabuhan Kijing Dambaan Kalbar Sejak 20 Tahun Silam

Mereka yang hadir dalam kegiatan Chainport Academy 2019 di Museum Maritim Indonesia antara lain top manajemen / perwakilan dari pelabuhan Hamburg (Jerman), Los Angeles (Amerika Serikat), Rotterdam (Belanda), Barcelona (Spanyol), Montreal (Kanada), Busan (Korea), dan Pelabuhan Yokohama (Jepang), serta Sekjen International Association of Ports & Harbours (IAPH).

Masing-masing pelabuhan anggota memaparkan issue atau project terkini di pelabuhan masing- masing dan peserta lainnya memberikan tanggapan atau masukan. Best practice nya bisa untuk di share dan diimplementasikan di pelabuhan anggota lainnya.

Konektivitas Global

Dalam keterangan terpisah, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC siap berkolaborasi dalam kemitraan multilateral untuk memperkuat konektivitas global di sektor maritim. 

Kemitraan ini nantinya menurut Ditrektur Utama IPC, Elvyn G. Masassya akan merespon berbagai tantangan ekonomi dunia serta tumbuh pesatnya kebutuhan layanan di sektor maritim dan logistik. 

“Kemitraan multilateral terus kami bangun dengan operator pelabuhan dan operator pelayaran global. Melalui kemitraan ini, kami bertukar informasi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan transformasi digital,” kata Elvyn G. Masassya.

Dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Chainport Academy 2019 yang mewakili Asia menurut Elvyn karena para peserta ingin mengetahui lebih dekat transformasi pelabuhan di negara-negara Asia yang berperan sangat besar dalam lalu lintas perdagangan global.

"Forum ini juga membahas kolaborasi untuk memperkuat konektivitas global, dengan memperhatikan karakterisitik pelabuhan-pelabuhan di Asia,” ujar Elvyn.

Untuk merespon era digital yang sudah merambah ke semua sektor dengan kapasitas kapal pelayaran yang semakin besar dan volume muatan yang juga terus meningkat, sebagai pengelola pelabuhan, IPC meresponnya dengan mempercepat transformasi digital, sehingga layanan digital yang sudah diterapkan di Pelabuhan Tanjung Priok,siap diimplementasikan di 11 kantor cabang pelabuhan IPC lainnya pada tahun 2020.

“Sebagian dari teknologi digital itu sudah digunakan di beberapa kantor cabang. Namun tahun depan kami akan upayakan agar semua aplikasi digital itu bisa dioperasikan di semua cabang, agar terbangun standarisasi layanan kepelabuhanan yang lebih cepat, mudah, dan lebih murah,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00